
Belakangan ini, kita sering mendengar berita tentang hilangnya anggota keluarga. Sang anak, istri, atau suami yang tadinya hidup biasa-biasa saja, tiba-tiba menghilang. Baru ketahuan belakangan bahwa ternyata mereka sudah bergabung dalam gerakan radikal, memakai seragam, atribut, atau simbol tertentu dan menyebarkan ajaran atau sabda tertentu. Berbagai penggalan cerita dari anggota keluarga mereka yang tergabung dalam gerakan radikal kebanyakan memiliki narasi yang serupa.
Lantas muncul pertanyaan, mengapa dan bagaimana seseorang bisa bergabung dalam sebuah gerakan radikal? Menurut Prof. Dr. Hamdi Muluk M.Psi, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang dapat terpengaruh oleh gerakan radikal yang berbahaya dan terperosok dalam aliran yang dianggap menyesatkan.
Yang pertama adalah karakter atau identitas diri seseorang yang labil, tidak kuat, dan terombang-ambing. Pada dasarnya, orang ingin mencari eksistensi atau aktualisasi diri dan makna hidup, yang sesuai dengan nilai dan minatnya sendiri. Paham-paham radikal ini datang seperti jawaban atas pertanyaan hidup mereka. “Rasa putus asa yang mendalam juga bisa membuat seseorang mudah terpengaruh oleh ajaran atau keyakinan tertentu,” ungkapnya.
Faktor karakter individu ini juga banyak dipengaruhi oleh situasi keluarga di rumah, terutama yang gagal menanamkan nilai kebaikan dan gagal memberikan kehangatan. Menurut Hamdi, keluarga harus memenuhi kebutuhan attachment pada seseorang, sebab mereka adalah patron dan panutan utama. “Kalau keluarga tidak menyajikan itu, orang akan mencari di luar. Mereka akhirnya merasa nyaman berada dalam kelompok-kelompok tertentu,” kata Hamdi.
Yang kedua, gerakan radikal biasanya menjual iming-iming atau mimpi fantastis, yang menurut Hamdi kebanyakan adalah ilusi. Ia memberi contoh geng motor yang melakukan inisiasi anggota baru dengan mengharuskan mereka memerkosa wanita. “Mereka menjanjikan kejantanan dengan menjadi anggota,” katanya.
Atau contoh lain lagi, aliran keagamaan yang menjadikan spiritualisme tertentu. “Misalnya, mereka bilang, kalau ingin menjadi orang Islam yang paling Islam, harus bergabung dengan mereka. Orang yang ingin menjadi spiritual secara instan pun mudah terkena bualan ini,” ujar Hamdi.
Gerakan radikal bisa berhasil juga karena mereka bergerak dalam kelompok. Sebagai psikolog, Hamdi menilai bahwa pada dasarnya manusia cenderung lebih berani melakukan kekerasaan ketika bersama banyak orang lain. “Aktivitas radikal seperti unjuk rasa, pembakaran, atau pengeboman, umumnya adalah pekerjaan yang tidak bisa dilakukan sendiri dan memerlukan operasi yang besar,” ungkap Hamdi.
Namun, di saat yang sama ia juga melihat bahwa masyarakat pada umumnya masih memiliki akal sehat, sehingga rasio antara orang yang terjerumus dan tidak terjerumus dalam radikalisme pun sebetulnya berbanding jauh. “Orang-orang yang tergolong jatuh dalam pengaruh radikalisme ini jumlahnya hanya ratusan atau ribuan, tidak seberapa bila dibandingkan jumlah penduduk Indonesia. Masalahnya, mereka dilatih untuk merusak dengan brutal sehingga menjadi berbahaya,” tuturnya.
Dr. Arie Sujito, S.Sos, M.Si, Ketua Departemen Sosiologi Universitas Gajah Mada, juga melihat hal yang sama, bahwa dalam struktur masyarakat Indonesia yang beragam agama, etnik, dan sosial budaya, cara-cara radikal akan mendapat pertentangan dari banyak orang. “Tingkat toleransi masyarakat Indonesia sangat kuat dan berdasar sejarah, undang-undang, maupun praktik dalam hidup bermasyarakat. Jadi, ketika paham radikalisme masuk dalam kehidupan masyarakat, tentu akan muncul ketegangan dan penolakan,” papar Arie. (f)
Topic
#Radikalisme




