Trending Topic
Berkaca Pada Kasus Gisel, Cara Melindungi Anak dari Paparan Berita Negatif Tentang Orang Tuanya

31 Dec 2020


Foto: Pixabay


Dipenghujung tahun 2020, Polda Metro Jaya menetapkan artis Gisella Anastasia alias Gisel sebagai tersangka atas dugaan kasus video dewasa yang beredar di media sosial beberapa waktu lalu. Ia terancam pasal berlapis tentang Undang-undang (UU) Pornografi dengan hukuman maksimal 12 tahun penjara.

Seiring dengan penetapan tersangka pada Gisel, netizen ramai berbicara tentang Gempita Nora Martin yang dikenal dengan panggilan Gempi. Simpati netizen pada anak semata wayang Gisel bersama mantan suami Gading Martin ini terus mengalir. Bahkan nama Gempi ikut menjadi trending topic di Twitter bersama dengan nama kedua orang tuanya. Warganet khawatir jejak digital dan berita buruk tentang orangtuanya akan berpengaruh pada Gempi ketika beranjak dewasa. 

Menurut psikolog Ine Aditya, berita buruk adalah sesuatu yang sifatnya shocking. Apalagi jika berita buruk tersebut menyangkut orang terdekat kita. Dalam kondisi seperti ini, kita tidak pernah tahu apa yang akan dilakukan oleh orang lain yang ada di sekitar anak. “Anak bisa saja menjadi korban cemooh dari lingkungan sekitar. Padahal, anak mungkin belum paham tentang apa yang terjadi. Dan perlu disadari bahwa apa yang terjadi bukan kesalahan dia, tapi anak kemudian mengalami dampaknya,” ungkap Ine. 

Kondisi yang shocking ini tentu saja bisa memberikan dampak bagi anak, berupa rasa stres dan down, berapapun usia sang anak. Walaupun menurut Ine, dampak yang dialami anak ini akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana lingkungan sekitar memperlakukan anak pada paparan berita tentang orang tuanya serta nilai-nilai dan pondasi yang ditanamkan keluarga. 

Lepas dari kasus Gisel yang pemberitaan negatifnya menjadi sangat masif karena profesinya sebagai artis, Ine menyebutkan bahwa kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja. Karena itu Ine mengingat orang tua untuk perlu berhati-hati dalam bertindak demi menjaga nama baik diri sendiri dan keluarga. “Karena ketika nama orang tua tercoreng, ada anak kita yang akan merasakan dampaknya. Ingatlah bahwa anak itu akan melihat, berkaca, dan belajar dari tindak tanduk orang tuanya,” ungkap Ine. 

Lantas apa dampak yang timbul ketika seorang anak mendapati berita buruk atau negatif tentang orang tuanya? Menurut Ine, dampak pada anak akan berbeda, tidak bisa disamaratakan. Yang terpenting adalah bagaimana orang terdekat anak bisa menjadi support system yang baik untuk membantu anak menghadapi kondisi yang ada. 

Misalnya, ketika anak harus berjauhan dari orang tua - yang karena satu kasus harus berada di penjara misalnya-, Ine mengingatkan untuk tidak berbohong. “Sebaiknya anak tidak dibohongi, tapi berikan penjelasan dengan bahasa anak sesuai usianya. Karena berbohong hanya akan membuat luka baru dan secara langsung juga bisa mengajarkan pada anak bahwa berbohong itu bisa dilakukan,” ungkap Ine. 

Orang dewasa di sekitar anak juga harus bisa memahami perasaan anak. Bagaimana caranya? Yaitu dengan melakukan konfirmasi. Tanyakan langsung pada anak bagaimana perasaannya ketika mendengar berita atau berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan menyangkut orang tuanya.“Mulai dengan kalimat bertanya “bagaimana perasaan kamu?" atau "Apa yang tadi kamu rasakan?”. Bukan dengan kalimat penyataan seperti “Kamu sedih ya” atau “Kamu marah ya”. Ini akan berbeda, karena bisa saja anak tidak merasakan kedua hal tersebut,” ungkap Ine. 

Ungkapkan rasa sayang kita pada anak. Dengan demikian anak akan merasa tenang dan terlindungi. Anak kecil kemampuan verbalnya terbatas, untuk mengungkapkan perasaannya ia akan tunjukkan dengan perilaku. Jika ada perubahan perilaku yang mendasar pada anak, perlu diperhatikan karena bisa saja anak dalam kondisi stres menghadapi situasi yang ada. "Alihkan perhatian anak pada hal-hal yang menyenangkan, ajak ia bermain atau melakukan kegiatan yang ia sukai," jelas Ine. 

Jika anak sudah lebih dewasa, coba ajak berdiskusi. Tanyakan bagaimana perasaannya, bagaimana menghadapi ketika ada yang mem-bully dan apa yang harus ia lakukan. Pendamping anak harus bisa membuka diri untuk menampung perasaan anak dan lebih responsif. Jangan sampai anak merasa sendiri atau lonely

Pendamping dan orang terdekat anak harus mampu meredam atau meregulasi emosinya, jangan terbawa suasana yang ada. “Tahan emosi, jaga sikap dan perkataan kita. Apalagi kalau di depan kita ada anak-anak,” ungkap Ine.

Dan menurut Ine yang tidak kalah penting untuk melindungi anak dari berita-berita ini adalah masyarakat harus mampu menahan diri dalam memberikan komentar terutama di sosial media. Menjadi kritis terhadap sesuatu yang terjadi dan bertentangan dengan norma di masyarakat sah-sah saja, namun sampaikan dalam bahasa yang baik, tidak membuat sebuah negatifistik dan ujaran kebencian. 

Perlu disadari bahwa ketika kita mengkritisi suatu hal dengan cara yang tidak baik, apalagi dilakukan di media sosial, artinya kita juga telah meninggalkan jejak digital yang kurang baik. “Coba perhatikan dampak ke depannya pada anak kita. Kita juga perlu mengajarkan pada keluarga sendiri bagaimana menghadapi sesuatu dengan cara yang dewasa. Boleh mengkritisi, tapi lakukan dengan cara yang lebih positif,” tutup Ine. (f)


Baca Juga: 
Buat Malam Pergantian Tahun #Dirumahsaja Tetap Berkesan, Ini Tipsnya!
Cara Menjadi Single Parent yang Kuat
Cara Mengenali Tanda-Tanda Trauma Pada Anak Karena COVID-19
 


Faunda Liswijayanti


Topic

#anak

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?