Dua puluh lima anggota Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Riau mengikuti program workshop Fashion Accelerator
yang diselenggarakan APR bersama Akademi Femina. Foto: Dok. APR
PT Asia Pacific Rayon (APR) berkomitmen untuk memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat. Melanjutkan kesuksesan tahun lalu dalam mengembangkan para perajin wastra dan desainer lokal yang tergabung dalam Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Riau, APR berkolaborasi dengan Akademi Femina menghadirkan program “Fashion Accelerator : Siap Menjadi Pengusaha Fashion”. Program yang berlangsung selama dua hari, Kamis-Jumat (30-31/5/2024) ini bertempat di hotel Royal Asnof, Pekanbaru, Riau.
Menurut Djarot Handoko, Head of Corporate Affair APR, program Fashion Accelerator yang peetama diselenggarakan ini, dibuat secara khusus untuk API Riau guna meningkatkan kapasitas bisnis para pelaku usaha fashion Riau. Djarot pun berharap kesempatan ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan diserap ilmunya untuk pengembangan bisnis ke depannya.
Selain itu, Djarot juga menegaskan bahwa hal ini sejalan dengan komitmen berkelanjutan APR2030 untuk mendukung terwujudnya Riau sebagai textile hub di Indonesia, serta membantu merevitalisasi kerajinan wastra Indonesia dengan memberikan akses kepada para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan desainer di Riau untuk mengembangkan keterampilan di bidang fashion.
Siap Jadi Pengusaha Fashion
Sejak Kamis pagi, 25 anggota API Riau telah berkumpul dan antusias mengikuti program yang terdiri atas empat modul tersebut. Istafiana Candarini, Founder & CEO KAMI., membuka sesi kelas dengan modul pertama berjudul “Fashionpreneur Tangguh.”
Irin sapaan akrabnya berbagi pengalaman membangun bisnis KAMI. Sejak pertama kali berdiri pada tahun 2009. Bersama dua rekannya, Irin membangun KAMI. menjadi label pakai modest Indonesia yang menekankan orisinalitas dan kenyamanan dalam setiap kesempatan.
Selain penghargaan nasional, KAMI. juga berhasil mencapai prestasi global dengan berpartisipasi dalam New York Fashion Week dan London Fashion Week S/S 2024.
Menurut Irin, untuk membangun bisnis fashion yang sustain, langkah pertama yang harus dilakukan pengusaha fashion adalah menyusun strategi dan perencanaan bisnis. Dalam perjalanan bisnisnya, Irin dan Tim selalu berusaha untuk mengidentifikasi setiap masalah yang mereka temukan. Dari situlah mereka kemudian mengembangkan produk yang dibutuhkan oleh pelanggannya.
“Dalam membangun bisnis fashion kita perlu mengetahui dulu apa permasalahan fashion yang ditemui. Setelah itu, cari tahu solusi apa yang bisa fashion bisnis kamu berikan. Susun strategi dan perencanaan bisnis,” ungkap Irin.
Penting juga untuk sebuah bisnis memiliki tim yang handal. Irin pun menyarankan agar membangun tim sesuai dengan kebutuhan bisnisnya. “Di tahap awal, core function harus internal team, sedangkan fungsi lain bisa dilakukan sistem freelance,” jelasnya.
Istafiana Candarini, Founder & CEO KAMI. dan Cempaka Asriani Founder & CEO Sare Studio,
dua mentor di hari pertama membagi kisah mereka mengembangkan bisnis fashion. Foto: Dok. APR
Usai paparan, peserta diajak untuk membuat business plan untuk tiga tahun ke depan. Tugas ini ke depannya akan menjadi penilaian para mentor untuk memilih peserta terbaik yang akan mengikuti sesi coaching online pada bulan Juni - Juli 2024.
Setelah sesi pertama, kelas berikutnya berbicara tentang “Ciptakan Merek yang Dicintai Konsumen.” Pada sesi branding dan marketing ini, hadir sebagai mentor, Cempaka Asriani, Founder & CEO Sare Studio. Berdasarkan pengalaman membesarkan Sare Studio, Cempaka berbagi kiat memasarkan produk yang efektif untuk meningkatkan penjualan.
Dijelaskan oleh Cempaka, seorang fashionpreneur perlu membangun merek-nya agar dikenal. Ada tiga hal yang diperlukan untuk membangun merek yaitu segmentasi pasar, DNA merek, dan Narasi.
Cempaka menggambarkan bagaimana Sare Studio menentukan segmentasi pasar dengan membuat profil konsumen yang disasar. Mereka adalah Ibu, perkotaan, SSE A, 30-40 tahun, Betah di rumah, suka liburan, dan suka desain. Ia pun mengingatkan untuk membuat profil konsumen sedetail mungkin. Dengan cara ini, kita jadi bisa menyasar segmen pasar yang lebih tepat sasaran.
“Kalau ada yang tidak suka dengan brand kita, tidak perlu dibuat serius. Itu artinya orang tersebut bukan target konsumen kita,” ungkap Cempaka. Di sesi ini, para peserta pun semakin antusias mencari DNA dari brand mereka.
Melinda Babyanna, Founder & CEO TBF Consultant dan Kintansari Adhyna Putri, Manager Retail Payment &
Merchant Relationship Department BRI berbagi ilmu di hari kedua. Foto: Dok. APR
Bangun Bisnis Fashion yang Untung
Di hari kedua, para peserta diajak untuk belajar tentang membangun bisnis fashion yang cuan serta pengelolaan keuangan bisnis. Melinda Babyanna, Founder dan CEO TBF Consultant membagi ilmu terkait proses produksi barang fashion, menyiapkan koleksi baru, menghitung HPH dan pengaturan stock barang online & offline.
Menurut Baby, dalam membangun brand fashion, pebisnis harus memiliki perencanaan yang matang, khususnya berhubungan dengan produk yang dilaunching. “Penting untuk kita memiliki style board dan penjadwalan koleksi. Style board bisa diambil dari berbagai sumber, Pinterest misalnya. Sedangkan penjadwalan koleksi bisa dilakukan 6 bulan sebelumnya untuk produk fashion, dan minimal 3 bulan untuk produk kain,” ungkap Baby.
Untuk collection plan, Baby menyarankan untuk membaginya dalam tiga tataran piramida yaitu essential, seasonal, dan limited. Essential bisa diisi dengan produk-produk basic yang banyak dicari orang. Inilah yang bisa menjadi mesin uang, karena harganya yang affordable.
Selain itu, penting bagi brand untuk memiliki koleksi seasonal dengan memanfaatkan momentum, misalnya Lebaran maupun Natal. Sedangkan koleksi limited mengedepankan kualitas dan dibandrol dengan harga yang relatif lebih mahal.
Suasana kelas semakin hangat ketika Baby mengajak para peserta untuk menghitung HPP (Harga Pokok Produksi) produk mereka dengan rumus yang telah diajarkan. Tidak sedikit yang terkaget-kaget dengan harga yang seharusnya mereka bandrol di produknya, karena ternyata selama ini mereka mematok harga yang terlalu rendah. Bahkan keuntungan mereka tidak mencapai angka 100% dari biaya produksi.
Namun, dibalik hitungan HPP yang terlihat manis dan menjanjikan, ada kegelisahan dari para pelaku industri fashion di Riau. Persaingan harga, mau tak mau membuat mereka menekan harga serendah mungkin, walaupun dengan cara itu, margin keuntungan menjadi tidak masuk akal dan merongrong pengusaha. "Karena kami tidak mungkin menurunkan biaya perajin dan penjahit. Namun harga tetap harus dibuat bersaing," ungkap Rosmawati, pemilik CV Bunayya Berkah Jaya, salah satu peserta.
Menyikapi tantangan besar yang dihadapi para peserta, Baby menekankan tentang pentingnya membuat collection plan dengan range produk dan harga. Limited produk misalnya, bisa menjadi keran keuntungan karena harganya bisa lebih baik. Di sinilah menurut Baby, dibutuhkannya kreativitas dan keberanian untuk berinovasi guna menghasilkan produk berkualitas yang punya ciri khas berbeda dari produk di pasaran.
Suasana kelas yang aktif, para peserta antusias bertanya dan sharing kendala bisnis yang mereka hadapi kepada para mentor.
Foto: Dok. APR
Di sesi terakhir, giliran peserta belajar modul keuangan bisnis bersama Kintansari Adhyna Putri, Manager Retail Payment dan Merchant Relationship Departemen dari BRI (Bank Rakyat Indonesia) yang membawakan materi terkait manajemen keuangan dengan ekosistem transaksi. Kintan, panggilan akrabnya, memperkenalkan berbagai produk yang dimiliki oleh BRI untuk mempermudah pebisnis dalam melakukan transaksi keuangan.
Salah satunya BRImerchant, one stop aplication solution yang dapat membantu kebutuhan merchant BRI. Beberapa fitur yang bisa dimanfaatkan UKM antara lain monitoring payment dan transaksi mingguan dan bulanan. Yang juga menarik perhatian para peserta adalah Stroberi Kasir. Aplikasi berbasis Android ini berfungsi sebagai pencatatan transaksi, pengelolaan persediaan, order management, QRIS, tata kelola, dan administrasi usaha. Selain itu para peserta juga diajak untuk melakukan financial rontgen dengan membedah pengeluaran mereka dalam mengelola toko fisik.
Harapannya, melalui program dua hari ini, para peserta mendapatkan ilmu dalam menjalankan bisnis yang lebih mumpuni hingga mereka bisa naik kelas. Seperti disampaikan oleh Petty S. Fatimah, Chief Brand Officer Akademi Femina, dominasi UKM dalam peta bisnis nasional yang mencapai angka 98% akan sia-sia jika UKM tidak bisa naik kelas. Selain itu, UKM merupakan industri padat karya, jika usaha UKM naik kelas, tidak hanya perekonomian mereka yang terdongkrak tapi juga mengangkat perekonomian lebih banyak orang.
Salah satu peserta, Eka Lestari, founder Neeka, mengaku senang dan terbantu dengan program Fashion Accelerator ini karena ada banyak materi baru dan pelajaran baru. "Selama ini kita hanya menjadi UKM yang jalan saja, tanpa ada ilmu. Di sini kami dibimbing lagi untuk menjadi UKM yang naik kelas dan mendunia," tutupnya. (f)
Baca juga:
APR Pertajam Skill Bisnis Wanita Wirausaha di Riau Lewat Program Fashion Accelerator Akademi Femina
Usaha Keberlanjutan Mode di Pangkalan Kerinci
Faunda Liswijayanti
Topic
#apr, #wanwir, #wanwirfemina, #workshop, #desainerlokal, #perajinbatik, #riau




