Trending Topic
Ancaman Demam Berdarah di Masa Pandemi COVID-19

23 Jun 2020


Foto: Pexels


 
Di tengah pandemi COVID-19 masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap ancaman penyakit lain, seperti demam berdarah. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat lebih dari 65 ribu kasus demam berdarah di seluruh Indonesia.

Angka kematian penyakit demam berdarah termasuk tinggi yakni hampir 400 jiwa. Hal ini menjadi tantangan di masa krisis COVID-19, khususnya terhadap masyarakat di wilayah-wilayah endemis malaria. Kemenkes mencatat pada tahun ini kasus demam berdarah mencapai 100 hingga 500 kasus per hari.

dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, menyampaikan masyarakat perlu waspada dengan ancaman penyakit yang disebabkan oleh nyamuk tersebut, terutama di daerah dengan angka kasus COVID-19 yang tinggi, seperti di Provinsi Jawa Barat, Lampung, NTT, Jawa Timur, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta dan Sulawesi Selatan.

Menurutnya, demam berdarah adalah suatu penyakit yang sampai sekarang juga belum ada obatnya. “Vaksinnya belum terlalu efektif dan salah satu upaya untuk mencegahnya adalah kita menghindari gigitan nyamuk. Seperti halnya COVID-19 ini juga disebabkan oleh virus,” ucap dr. Siti.

dr. Siti menyampaikan tiga tantangan yang dihadapi masyarakat dalam ancaman penyakit demam berdarah di tengah wabah COVID-19. Pertama, kegiatan jumantik atau juru pemantau jentik menjadi tidak optimal karena saat ini menuntut adanya social distancing.

Kedua, sudut-sudut bagian bangunan seperti mushola, tempat ibadah, dan bangunan lain yang ditinggalkan dapat menjadi sarang nyamuk karena kebijakan kerja dan belajar dari rumah. Ketiga, penting untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) karena masyarakat banyak berada di rumah.

Lebih lanjut ia berharap bahwa saat beradaptasi dengan kebiasaan baru seperti sekarang, masyarakat dapat memanfaatkan waktu untuk pemberantasan sarang nyamuk. Hal tersebut dapat dilakukan di sekolah, rumah ibadah, atau hotel.

dr.Siti juga menekankan keluarga untuk berinisiatif dalam pemberantasan nyamuk sehingga demam berdarah bisa dicegah. Masyarakat dapat melakukan pencegahan utama melalui 3 M yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang.

“Selain tentunya ventilasi yang baik, kemudian tidak menumpuk baju, digantung seperti itu, karena nyamuk sangat senang sekali bergelantungan. Itu memang sifatnya nyamuk, bergelantungan, karena sejuk,” kata dr. Siti saat menjelaskan mengenai langkah 3 M.

Lanjut ke halaman berikutnya : Perbedaan Gejala COVID-19 dengan DBD.



BACA JUGA:
Twitter Luncurkan Notifikasi Khusus Kekerasan Berbasis Gender
Sambut Hari Keluarga Nasional, Facebook Luncurkan Grup Pengasuhan Anak
Jawaban Mendikbud Nadiem Makarim Seputar Sekolah Selama Pandemi COVID-19

 


 


Topic

#DBD, #corona

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?