Trending Topic
4 Ruang Belajar Alternatif untuk Anda yang Haus Belajar

29 Dec 2016


Foto: Fotosearch

 
Di kehidupan yang kian kompetitif ini, tak ada salahnya jika kita mendulang ilmu nonformal. Terima kasih kepada dunia digital yang menawarkan arus informasi tak terbendung. Pilihan kelas-kelas pembelajaran sesuai minat dan kebutuhan berserakan informasinya di jendela dunia maya. Tidak hanya bermanfaat menambah skill dan wawasan, tapi juga bermanfaat untuk memperlebar networking.

Jika dibandingkan dengan satu atau dua dekade lalu, akses akan pendidikan nonformal sangatlah terbatas. Misalnya saja, jika ingin belajar bahasa Inggris, maka seseorang harus ikut kursus di lembaga kursus formal. Atau, jika ingin memperdalam ilmu marketing, kepemimpinan, dan teknologi, harus kuliah lagi atau ikut seminar yang waktu, tempat, dan pilihan bidang ilmu yang ditawarkan juga sangat terbatas.

“Belajar alternatif ini hadir seiring perkembangan teknologi. Orang bisa terhubung dengan siapa pun, para ahli, para pendidik, para praktisi tanpa batasan geografis maupun struktur formal. Makin lama akan  makin berkembang dengan materi yang lebih beragam, dan bentuk pembelajarannya pun bermacam-macam,” jelas Ainun Chomsun, pendiri Akademi Berbagi.

Selain kelas dengan pola belajar tatap muka, panduan tutorial,  dalam bentuk tulisan maupun video, sangat mudah   dicari di internet saat ini, baik di mesin pencari maupun  lewat aplikasi di ponsel. Ini memberi keuntungan bagi orang yang sibuk atau terkendala jarak karena tak perlu lagi datang belajar ke kelas untuk mempelajari sesuatu.

Belajar secara mandiri via online sepertinya memang sudah jadi tren sekaligus kebutuhan di masa sekarang ini. Menurut survei penyelenggara course Open Colleges, 65% institusi pendidikan di Australia menggantungkan diri pada course online, yang dipercaya bisa menunjang keberhasilan studi siswanya.

Peminat pendidikan nonformal ini mayoritas datang dari kalangan mahasiswa, freshgraduate, first jobber, pengusaha baru, atau mereka yang berusia  awal  20-an. Pola pembelajarannya pun tak lagi terpaku dalam ruang kelas yang ‘kaku’, tapi sudah bergeser ke area publik semacam kafe, studio, luar ruang, hingga digital atau distance learning dan disajikan dengan lebih kreatif.  

Generasi muda saat ini memang lebih kritis dan memiliki keberanian untuk memilih sendiri bidang yang ingin dipelajari yang benar-benar berguna untuk diri dan masa depannya. Maka, dengan adanya lembaga nonformal alternatif, akan memudahkan mereka untuk mempelajari sesuatu hal. “Generasi saat ini, khususnya masyarakat urban, ingin terlihat keren dan juga produktif,” kata Wendy.  

Berikut 4 pilihan sekolah nonformal yang bisa Anda ikuti:

1/ Akademi Berbagi
Akademi Berbagi mengajak relawan sebagai pengajar dalam gerakan sosial berbasis pendidikan yang mereka jalankan sejak tahun  2010. Beragam topik bisa dipelajari, mulai dari menulis, fotografi, jurnalistik, advertising, bisnis, hingga komunikasi. Informasi program bisa diperoleh di website akademiberbagi.org dan media sosialnya. Hingga kini sudah lebih dari 5.000 murid yang pernah mengikuti pelatihan gratis di Akademi Berbagi. Kelas-kelas juga telah diadakan di 40 kota dan relawan pengajar lebih dari 150 orang. Para pengajar ini tak dibayar sepeser pun.
 
2/ Lingkaran.co
Lingkaran.co yang berdiri sejak Oktober 2014 diadakan untuk menciptakan tenaga-tenaga profesional di bidangnya karena lembaga pendidikan formal atau kampus belum bisa membentuk mereka untuk siap pakai, baik sebagai seorang pekerja maupun sebagai wirausaha.

Secara garis besar, program pelatihan di Lingkaran.co ada tiga, yaitu personal value yang fokus pada self development, creative skill termasuk di dalamnya kuliner dan fashion design, serta entrepreneurship. Sejauh ini, bidang yang paling banyak diminati adalah kuliner, craft, dan fashion design
 
3/ Maubelajarapa.com
Sasaran yang ingin dicapai maubelajarapa.com lebih mengarah pada hobi. Topik keterampilan kreatif yang disajikan pun beragam, mulai dari pelatihan berkebun organik, keterampilan membuat kartu nama, teknik melukis dengan cat air, membuat wax dari bahan tumbuh-tumbuhan, dan banyak lagi. Pelatihannya berbayar dan sudah termasuk material.  
 
4/ Pecha Kucha
Pecha Kucha yang hadir di Jakarta sejak tahun 2009 lalu  cukup menyedot minat karena kreativitas konsepnya yang dibalut dalam suasana yang fun dan menarik.  Ciri khas Pecha Kucha yaitu pembicara menampilkan paparannya dalam presentasi 20 slides yang masing-masing durasinya 20 detik.
          
Pecha Kucha lahir di Kota Tokyo, Jepang, tahun 2003 yang awal prakarsanya untuk mengumpulkan para pelaku kreatif dari berbagai bidang, mulai dari desainer, film maker, pengusaha, hingga peneliti dalam satu ajang presentasi dan diskusi ringan. Kini, Pecha Kucha telah menyebar dan telah diselenggarakan di 900 kota. Acaranya bisa dihadiri secara gratis. (f)
 


Topic

#Pendidikan

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?