Trending Topic
3 Tempat di Indonesia yang Melarang Gadget

9 May 2016


Foto: Fotosearch

Tak bisa lepas dari gadget, bahkan saat bersama keluarga, membuat beberapa restoran dan kafe mulai menerapkan aturan anti-gadget. Semata-mata demi optimalkan family time. Berikut tiga tempat di Indonesia yang melarang gadget...

Food Stop Cafe, Pontianak, Kalimantan Barat
Kafe dengan fasilitas TV untuk menonton pertandingan bola, live music, dan wi-fi, sudah biasa. Kafe seperti ini banyak dijumpai di kota-kota besar di Indonesia. Namun, Food Stop Cafe justru memilih tidak menyediakan aneka fasilitas yang memanjakan itu.

Kafe yang berada di Jl. W.R. Supratman ini dibangun dengan konsep food court yang terdiri dari 5 gerai penjual makanan yang berbeda. Nixon, pemilik kafe, mengaku sengaja meniadakan semua fasilitas itu agar Food Stop Café bisa dinikmati semua pengunjung dari berbagai kalangan dan usia. Baginya,  fasilitas wi-fi akan membuat pengunjung memanfaatkannya untuk kepentingan bisnis atau memainkan gadget daripada menikmati hidangan. Walau kemungkinan mereka menggunakan paket data masing-masing ponsel tetap ada, paling tidak akses internet tidak  makin mudah didapat para pengunjungnya.

Ia juga menghindari terjadinya penyalahgunaan jaringan wi-fi untuk mengunjungi situs-situs yang tidak baik oleh para remaja. Mengingat kafe miliknya berdekatan dengan sekolah-sekolah, mulai dari SD hingga perguruan tinggi. Dengan demikian, para orang tua  tidak perlu khawatir jika anak mereka singgah di kafe yang mulai ia buka sejak Agustus 2014 itu.
 
Pastry Anggrek 28, Bandung, Jawa Barat
Tempat ini didirikan pada awal tahun 2015 lalu oleh sepasang suami-istri, Djulis dan Carmelia. Mereka menyebutnya ‘warung’, karena harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan harga  kafe pada umumnya. Berada di dekat Taman Fotografi, Kota Bandung, Jawa Barat, kafe itu tak terlalu besar dan mencolok, Maklum, tempat itu awalnya adalah rumah tinggal yang didesain ulang untuk dijadikan sebuah kafe.

Djulis dan Carmelia membuat tempat itu sebagai tempat kumpul dan ngobrol bersama keluarga, kerabat, atau teman, bukannya untuk orang-orang yang sibuk dengan dirinya sendiri. Atas dasar itulah, mereka tidak menyediakan fasilitas wi-fi. Menurut mereka, wi-fi akan membuat pengunjung jadi sibuk sendiri tanpa memedulikan orang-orang yang duduk bersama mereka. Memang, masih ada saja, sih, yang memakai gadget.

Untuk menikmati waktu bersama orang-orang terdekat, tamu dapat memilih tempat di luar, ruang terbuka dengan suasana hijau, atau di dalam ruangan dengan suasana homey. Walau banyak yang bertanya sekaligus protes karena tidak tersedia wi-fi, Djulis dan Carmelia tak ambil pusing. “Kami menyampaikan kepada tamu, tempat ini kami sediakan untuk ngobrol-ngrobrol dan bercengkerama, bukan untuk online. Sejak masih berupa ide, tempat ini kami rencanakan harus tanpa wi-fi,” ungkap Carmelia.    
 
Seulawah Coffee, Jakarta
Dari pengalaman saat mengunjungi berbagai kafe, Firmansyah, pemilik Seulawah Coffee, melihat kenyataan bahwa sebagian besar para konsumen kerap mengabaikan rasa makanan karena lebih asyik memainkan laptop atau ponsel. Tak hanya itu, kesibukan bermain gadget membuat mereka mengabaikan teman-teman yang duduk semeja. Karena itulah, Firman dan saudaranya sepakat mendirikan kafe dengan konsep kedai kopi tradisional tanpa wi-fi. Terletak di kawasan Meruya, Jakarta Barat, kafe ini didesain dengan konsep tradisional dengan menyediakan menu kopi yang berasal dari Aceh.

“Kami membuka kedai kopi ini sebagai tempat ngobrol, curhat, ngegosip, dealing bisnis, dan meeting point sambil menikmati keistimewaan kopi Aceh yang kami sajikan,” jelas Firman. Jadi, bukan sibuk main gadget.

Memang, cukup banyak pengunjung protes karena tidak ada wi-fi. Namun, ia tidak terpengaruh. Baginya, kalau memang dari awal sudah dirancang untuk tidak menyediakan wi-fi, maka selamanya tidak akan pernah ada wi-fi. Bahkan, bila ada sponsor yang bersedia memberi fasilitas wi-fi secara gratis pun, Firman tidak akan memasangnya.
Ia mengaku tidak takut bersaing dengan kafe lain yang memberikan fasilitas lebih untuk memanjakan tamunya. Sebab, mereka ingin pengunjung yang datang ke Seulawah Coffee dapat merasakan kenikmatan secangkir kopi berkualitas, bukan karena fasilitas wi-fi semata.

Firmansyah berharap tiap pengunjung yang datang ke kedai kopi harus melupakan sejenak kerumitan pekerjaan. Lupakan sejenak gadget, nikmati secangkir kopi Aceh dan suasana kafe yang nyaman. Sebab, menurutnya, kopi adalah minuman khas yang harus benar-benar dinikmati dengan obrolan santai. (f)
 


Topic

#gadget

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?