Trending Topic
Peneliti Perempuan Hebat Raih Penghargaan L’ORÉAL-UNESCO FWIS 2025!

18 Nov 2025

Stella Christie memberikan sambutan di acara pembukaan


Konsisten selama 22 tahun mengembangkan perempuan di dunia sains, L’Oréal–UNESCO For Women in Science (FWIS) kembali memberikan penghargaan prestisius kepada empat perempuan peneliti yang membawa harapan baru bagi kemajuan bangsa.

Penghargaan ini bukan hanya pengakuan, tetapi juga komitmen nyata untuk menutup kesenjangan gender di bidang sains dan teknologi (STEM) sekaligus platform pemberdayaan.

Selama lebih dari 2 dekade, L’Oréal-UNESCO FWIS terus mendukung kontribusi para srikandi sains dengan melahirkan 79 alumni yang kini menjadi role model bagi generasi muda. 

Hingga saat ini, jaringan global FWIS telah mencakup lebih dari 4.700 ilmuwan perempuan dan di Indonesia, para alumni aktif menjadi mentor bagi lebih dari 1.400 peneliti muda! Mereka menciptakan efek berlipat (multiplier effect) yang memperkuat masa depan sains Indonesia.

Dengan tagline World Need Science and Science Need Women, L’Oreal meyakini pentingnya peran perempuan di dunia sains. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Stella Christie, menegaskan bahwa perempuan di dunia sains bukan hanya tentang kesetaraan, tetapi juga soal potensi ekonomi. 

“Negara akan merugi jika tidak memanfaatkan potensi individu terbaik di bidangnya,” ujar Prof. Stella dalam acara pembukaan L’Oréal–UNESCO For Women in Science National Fellowship 2025 Award Ceremony, di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (11 November 2025).

Meskipun data UNESCO 2025 menunjukkan 43,5% peneliti di Indonesia adalah perempuan–sebuah angka yang cukup tinggi, dukungan untuk meraih kesetaraan sejati dan kesempatan kerja yang adil masih perlu dilanjutkan.

Untuk itu, Prof. Stella berpesan kepada para perempuan untuk percaya diri, berani mengambil kesempatan, dan jangan mudah menyerah

“Kunci sukses ada pada diri kita sendiri,” katanya. 

Kabar baiknya, tahun ini, antusiasme perempuan peneliti Indonesia melonjak drastis, mencatatkan peningkatan partisipasi hingga dua kali lipat! Menariknya lagi, 70% pendaftar adalah perempuan peneliti muda di bawah usia 40 tahun. Hal ini menunjukkan minat dan kepercayaan diri perempuan Indonesia untuk berkontribusi melalui sains semakin kuat.

Menurut Prof. dr. Herawati Sudoyo, MD., Ph.D., Ketua Dewan Juri FWIS 2025, mayoritas proposal para pendaftar berakar pada kekayaan hayati lokal, mulai dari tanaman asli hingga inovasi pengelolaan limbah. Ini membuktikan sains benar-benar menjadi fondasi kemajuan yang menyentuh masalah di sekitar kita. 

Selain itu Prof Herawati menyoroti tentang pentingnya kolaborasi lintas institusi dan disiplin ilmu. Menurutnya, riset besar sulit terealisasi tanpa kolaborasi. FWIS menjadi wadah bagi para peneliti untuk membangun jejaring yang suportif.

Seperti kata Melanie Masriel, Chief of Corporate Affairs, Engagement, and Sustainability PT L’Oréal Indonesia, “Di dalam komunitas FWIS, kolaborasi antar peneliti bukan sekadar wacana, melainkan sudah menjadi budaya. Melalui jaringan FWIS, para alumni FWIS menemukan banyak mitra potensial untuk berkolaborasi dan berkembang bersama lintas disiplin ilmu.”

Tahun ini, empat peneliti terpilih menjadi penerima FWIS 2025, menghadirkan penelitian yang berfokus pada solusi konkret dan inovatif untuk menjawab tantangan nyata di Indonesia, mulai dari bidang bioteknologi, kesehatan, dan keberlanjutan. Mereka adalah:

1/ Dr. Maria Apriliani Gani 
Dosen dan peneliti di Sekolah Farmasi, Institut Teknologi Bandung ini mengembangkan model seluler yang meniru kondisi osteoporosis akibat stres oksidatif untuk mempercepat penemuan obat antiosteoporosis berbasis tanaman obat Indonesia.

Pendekatan ini memungkinkan skrining kandidat obat yang dapat sekaligus menstimulasi pembentukan tulang dan menekan pengeroposan tulang, tanpa animal testing. Riset ini berpotensi memperkuat saintifikasi jamu, mendukung transisi global menuju non-animal testing, serta meningkatkan kualitas hidup perempuan lanjut usia yang rentan osteoporosis.

2/ Dr.rer.nat. Lutviasari Nuraini
Peneliti di Pusat Riset Metalurgi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini mengembangkan material paduan Magnesium–Zinc–Rare Earth Element (Mg–Zn–Nd) untuk aplikasi implan mampu luruh (biodegradable implant) yang dapat terurai secara alami setelah tulang pulih. 

Dengan menambahkan unsur logam tanah jarang Neodymium (Nd), riset ini bertujuan meningkatkan kekuatan mekanik dan mengendalikan laju degradasi magnesium agar implan tetap stabil selama proses penyembuhan. Penelitiannya berpotensi mendukung kemandirian produksi implan nasional dan hilirisasi sumber daya alam Indonesia.

3/ Anak Agung Dewi Megawati, Ph.D.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa ini mengembangkan terapi berbasis mRNA inovatif yang dirancang sebagai antivirus bersifat broad-spectrum, mampu menargetkan tidak hanya virus dengue tetapi juga berbagai jenis virus lain yang ditularkan oleh nyamuk. 

Penelitian ini berpotensi menghasilkan platform terapiutik baru yang efektif terhadap berbagai virus, dan menjadi terobosan besar dalam pengendalian penyakit infeksi tropis. Selain dampak ilmiah, melalui kolaborasi riset dengan UC Davis, penelitian ini diharapkan memperkuat kapasitas riset biomedis nasional serta menjadi langkah nyata dalam memberdayakan ilmuwan perempuan Indonesia untuk berkontribusi di panggung bioteknologi global.

4/ Helen Julian, Ph.D.
Dosen di Program Studi Teknik Kimia dan Teknik Pangan, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung ini mengembangkan sistem terpadu Membrane Photobioreactor–Nanofiltration (MPBR–NF) untuk mengolah limbah cair pabrik kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) menjadi sumber daya bernilai tinggi. 

Melalui teknologi ini, mikroalga memanfaatkan senyawa dalam air limbah untuk tumbuh, menghasilkan biomassa yang dapat dikonversi menjadi produk bermanfaat seperti bioenergi dan bahan pangan, sekaligus meningkatkan kualitas air limbah. 

Penelitian ini dilakukan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan sejumlah universitas mitra internasional untuk memperkuat keahlian lintas disiplin dalam pengelolaan limbah industri. Didukung oleh program L’Oréal–UNESCO For Women in Science 2025, riset ini akan mengintegrasikan proses nanofiltrasi guna meningkatkan efisiensi pemulihan mikroalga dan pengolahan limbah secara berkelanjutan, sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular dan bio-based economy.

Empat peneliti terpilih masing-masing mendapatkan total dukungan pendanaan riset senilai Rp400.000.000, serta akses ke jejaring global ilmuwan perempuan. 

“Ke depan, FWIS akan terus menjadi ruang bagi perempuan peneliti untuk tumbuh, berjejaring, dan menginspirasi generasi perempuan peneliti berikutnya,” kata Melanie Masriel.

Untuk semua perempuan di Indonesia, khususnya yang tertarik pada bidang sains dan teknologi, kisah keempat peneliti ini adalah bukti bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk menciptakan perubahan besar. Dunia membutuhkan sains, dan sains membutuhkan perempuan! (f)

Baca juga: 
L’Oréal Indonesia Merayakan 45 Tahun Menggerakkan Industri Kecantikan Indonesia
Inspirasi dari Para Peneliti Perempuan L'Oréal-UNESCO For Women in Science
4 Perempuan Peneliti Raih Penghargaan L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2024


Faunda Liswijayanti


Topic

#PerempuanSains , #InovasiIndonesia , #FWIS2025 , #STEMIndonesia , #KisahInspiratif, #perempuan peneliti

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?