Travel
Pesona Tersembunyi Masjid At-Tin, Jakarta

4 Jul 2016


Foto: Dok. Simas.kemenag.go.id

Melati, Kurma, dan Buah Tin
  “Ramadan nanti  kita sempatkan mampir ke Masjid Ibu Tien, ya…! Enak salat tarawih di situ. Tempatnya adem, interiornya cantik, tempat parkirnya luas, dan mudah dicapai lewat jalan tol,” ungkap seorang wanita muda di Bogor. Suaminya mengangguk-angguk.

 Jangan kaget! Masjid Ibu Tien yang dimaksud  tak lain adalah Masjid At-Tin di Jalan Taman Mini, Jakarta, yang pembangunannya memang digagas dan dipersembahkan sejumlah anak kepada ibunya, almarhumah Tien Soeharto. Maklum saja jika masyarakat awam akrab menyebutnya sebagai Masjid Ibu Tien.
 Lepas dari keterkaitan dengan nama wanita yang pernah sangat beken itu, bangunan indah rancangan 'spesialis masjid’ Achmad Noe’man dan Fauzan Noe’man ini tetap merupakan institusi keagamaan (Islam) yang terbuka bagi siapa pun, sama seperti fungsi masjid-masjid lainnya. 
  
Tegak di areal seluas 70.000 meter persegi, sosok masjid (dengan luas lantai salat 5.800 meter persegi) yang diresmikan pemakaiannya pada tanggal 26 Desember 1999 ini tampil anggun dengan rancang bangun yang kokoh dan asri. “Menara utamanya mirip bidak catur, ya…,” celetuk seorang anak. Suara azan memanggil-manggil dari puncak menara ‘catur’ itu, mengajak langkah bergegas masuk, sujud dan bertafakur, atau mengaji Al-Quran, mencari keridaan Sang Khalik.

Ada banyak hal menarik di masjid ini. Bangun  interiornya misalnya, walau terinspirasi pada interior masjid-masjid di Mesir, ‘rasa Indonesia’, khususnya ‘rasa wanita’, sangat terasa di  Masjid At-Tin, ‘rasa’ yang cukup berbeda dari  masjid-masjid lain umumnya di Jabodetabek. Tak percaya? Ayo, sapu pandangan Anda ke sekeliling ruang! Akan terasa sekali sentuhan feminin pada elemen-elemen interiornya. Ragam dekoratif berbentuk kelopak melati tampil sambung-menyambung menghiasi dekorasi ruang.

Berbeda dari umumnya masjid yang didominasi warna hijau, yang selalu diidentikkan sebagai warna Islam, Masjid At-Tin justru menawarkan warna-warna lain seperti krem (terpancar pada lempeng-lempeng marmer, warna merah bata pada ornamen bunga dan partisi-partisi kerawangan) serta warna ungu di sana-sini.

 Warna ungu juga memancar jernih dari partisi penyekat di gerbang timur, atap menara, dan kubah besar yang pada pinggir diameternya bergantungan 99 buah lampu-lampu hias sebagaimana jumlah Asma’ul Husna.
Bagian mihrab rasanya merupakan sisi paling menarik dari interior Masjid At-Tin. Dinding barat sebagai penunjuk arah kiblat itu terbentuk dalam ornamen tiga pintu, dengan ujung-ujungnya yang berupa segi tiga lancip, menghadap langit, perlambang Sang Khalik, Allah Yang Mahatinggi. Motif-motif bunga kecil berbingkai kaligrafi islami memenuhi dinding bernuansa krem dan abu-abu, mengesankan keagungan sekaligus kesucian.

Motif-motif bunga juga bertaburan nyaris di tiap sudut masjid. Kadang-kadang berupa lampu hias yang nyembul di dinding yang kokoh, kadang-kadang berbentuk kaca patri, juga di sudut pagar, penutup sistem saluran air, dan lantai halaman luar. Bahkan ‘untaian’ melati pun memagari seluruh tepi bagian atap masjid, ventilasi berbentuk gunungan, mengingatkan kita pada lembar kain batik atau renda-renda cantik yang biasa menghiasi mukena. Pengungkapan motif-motif bunga (melati) yang tak berpangkal dan berujung ini  menyiratkan makna tentang ‘bunga kehidupan’ yang tak kenal batas usia untuk berbuat kebajikan pada umat manusia.

Tak cuma cantik di dalam, Masjid At-Tin pun cantik dipandang dari luar. Halamannya luas, tertata asri dan multifungsi: taman dengan ragam tanaman hias, serta pohon-pohon kayu dan buah-buahan langka Indonesia. Tak kalah menarik, halaman Masjid At-Tin juga ditanami pokok-pokok kurma, yang (ini menariknya!) beberapa di antaranya sedang berbuah lebat. Jadi, siapa bilang pohon kurma bisa tumbuh, tapi tanpa buah, di Indonesia?

At-Tin diambil dari nama surat At-Tin yang merupakan wahyu ke-27 yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, dan surat ke-95 dari runtutan penulisan dalam Al-Quran. Dalam kenyataan, At-Tin sendiri adalah nama buah  sebesar buah duku, berwarna hijau, tanpa biji, penuh gizi, lezat dan manis rasanya. Banyak manfaatnya, baik sebelum maupun  sesudah matang. Antara lain berkhasiat memperlancar aliran darah, menghancurkan batu ginjal, dan melancarkan pernapasan.

Mengejutkan, ternyata pohon tin ini tumbuh dan berbuah di halaman Masjid At-Tin. Bibitnya didatangkan khusus dari Jazirah Arab. Secara berkala buahnya dipanen, untuk dihadiahkan kepada tamu dan jemaah tertentu. Anda ingin memiliki dan ikut menanamnya? Jangan khawatir! Pihak pengelola mengembangkannya di bagian taman di belakang masjid. Masyarakat yang berminat boleh membelinya bibitnya. Silakan menanam! (f)

Heryus Saputro
 


Topic

#puasadanlebaran

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?