The Avenue of Stars, Victoria Peak atau Madame Tussauds boleh jadi beberapa destinasi wajib kunjung jika sedang pelesir ke Hong Kong. Tetapi, jangan lupa sempatkan diri Anda untuk mencicipi jajanan pinggir jalan. Temukan alasan mengapa Hong Kong juga populer disebut sebagai Gourmet Paradise!

SARAPAN KUE ‘ISTRI’
Tersesat membawa berkah. Mungkin ini yang saya alami ketika menyambangi Temple Street di pagi hari. Maksud hati ingin jajan street food, ternyata area ini merupakan kawasan pasar malam, sudah pasti baru ramai di atas jam 6 sore. Suasana pagi yang masih tenang tak membuat berpaling dari tempat ini. Saya malah memutuskan untuk menjelajahi sekitar jalanan ini, siapa tahu nemu hal menarik di sini.
Sebuah kedai yang menjual lok bak koh menyambut ketika saya memulai pelesiran di kawasan Jordan itu. Kedai sarapan yang juga menjajakan cahkwe dan onde-onde kosong itu tampak dipenuhi warga lokal. Penasaran, saya pun memesan seporsi makanan yang tampilannya seperti bubur padat itu. Rasanya gurih dan mengenyangkan. Cocok dipilih sebagai menu sarapan yang praktis.
Jika Anda doyan makan ke resto dim sum atau resto Cina, pastinya tak asing dengan rasa bubur ini. Bentuk penampilannya saja yang berbeda, yaitu disajikan dalam bentuk potongan dan digoreng sebagai camilan ‘teman’ minum teh. Disebut turnip cake atau radish cake atau lobak yang di olah bersama tepung beras.
Sambil menyusuri Temple Street, di sepanjang jalan tampak deretan bakery, kedai ayam panggang utuh, char siu, dan juga kedai mi. Masih belum puas, saya tetap berjalan dan berharap menemukan tempat lain untuk jelajah rasa. Sebuah kejutan datang kala tiba di pasar basah, Jordan Market. Jejeran bahan-bahan makanan segar langsung membuat sumringah seketika. Di sekitar pasar ini saya juga menemukan supermarket yang cukup besar yang khusus menjual bahan masakan dimulai dari daging, sayuran, aneka arak masak, sampai produk olahan.
Di pasar yang cukup besar dan komplit ini ada penjual kue unik yaitu Lao Po Beng atau Wife Cake. Bentuk dan teksturnya seperti pia, dengan ukuran besar. Terbuat dari kulit berbasis tepung yang diisi dengan campuran labu air dan almond.
Mengapa dinamai ‘kue istri’? Konon nama ini terinspirasi dari kisah pengorbanan seorang istri yang rela menjadi budak demi membiayai pengobatan sang mertua. Suaminya pun terenyuh, lalu membuat kue ini dan menjualnya. Tak disangka kue ini laris manis dan sangat populer, sehingga sang suami pun punya cukup uang untuk mencari dan menebus kembali istrinya.

ODENG VERSI HONG KONG
Melihat penyajiannya, jajanan pinggir jalan ini mengingatkan saya akan jajanan Odeng dari Korea. Aneka jajanan dari olahan daging babi, ayam, sapi, dan seafood mejeng manis menunggu untuk dicicip. Jika melihat variasinya, rasanya ingin sekali mencoba semuanya.
Yang paling populer adalah Curry Fish Ball, yaitu bakso ikan yang dimasak dalam kuah kari pedas. Jajanan ini pertama kalinya dibuat di tahun 50 hingga 60-an sebagai camilan yang dijual oleh pedagang kaki lima. Krisis ekonomi di masa itu membuat banyak sekali warga Hong Kong yang mencari uang dengan cara menjadi pedagang kaki lima. Salah satunya dengan menjajakan jajanan bakso ikan berharga murah ini.
Jajanan bakso ikan ini dijual dalam mangkuk sekali pakai dan dinikmati dengan menggunakan tusuk satai. Bagi saya yang menyukai makanan pedas, rasa kuah karinya sama sekali tak pedas. Wajar saja, saking mahalnya cabai di sini, susah sekali memuaskan selera pedas. Selain itu, para wanita di Hong Kong percaya bahwa menikmati makanan yang pedas membakar lidah akan membuat kulit kusam. Pantas saja…
Di kedai ini dijual juga jajanan manis wajib coba, egg waffle. Rasanya kurang lebih mirip dengan jajanan crepes yang kita temui di tanah air. Namun, tekstur egg waffle ini lebih lembut dengan komposisi lebih padat. Bentuknya unik karena adonannya dipanggang dalam cetakan berbentuk bola-bola. Setelah matang, kue ini digulung dan disajikan kepada pembeli.

DARI NOODLE HOUSE HINGGA CHAR SIU
Bagi saya yang penggila mi, rasanya seperti sebuah berkah ketika berkeliling di setiap jalanan di Hong Kong. Terpana saking banyaknya bingung memilih mana yang paling mantap. Mulai dari bentuk, jenis hingga rasa, sulit rasanya memilih yang terenak. Masing-masing kedai memiliki versi sendiri dalam meracik mi hingga kaldunya. Ada yang murni dari racikan kaldu (kaldu ayam, kaldu sapi, kaldu seafood) hingga racikan kaldu bercampur dengan aneka bumbu sehingga variasinya sangat banyak.
Salah satu yang membuat saya terkesan adalah racikan kaldu yang saya coba di sebuah kedai mi bernama Eat Together di daerah Kowloon. Di sana, saya memesan Noodles with Chili Hot Soup. Ternyata bukan cabai yang membuat supnya menjadi pedas, melainkan sumbangan merica Sichuan yang berlimpah di dalamnya. Terbayang kan bagaimana kebasnya lidah ketika saya menyeruput kuahnya? Selain kuah, tekstur mi home made yang kenyal dan lembut juga bikin ketagihan. Sepertinya kedai ini cukup populer di Hong Kong, berbagai macam hasil tulisan media yang terpampang di kaca dekat pintu masuk menjadi bukti bahwa saya tak salah pilih.
Char Siu atau daging babi panggang memang bukan hal baru bagi pecinta kuliner negeri Tirai Bambu. Di Hong Kong, daging babi tanpa tulang yang dibumbui madu, kecap asin, dan ngo hiang alias five spice powder ini sangat mudah ditemui. Sarapan, makan siang, makan malam, bahkan tengah malam pun seporsi char siu selalu enak disantap. Biasanya potongan daging babi panggang berbumbu manis ini senantiasa mendampingi nasi, mi atau bubur. Tak sekedar daging babi, biasanya penjual menyediakan ayam atau bebek yang dimasak dengan bumbu dan cara yang sama sebagai pilihan.

TERGODA YANG MANIS
Selain jajan yang gurih, berbagai macam sajian manis modern juga populer dijajakan di pinggir jalan. Beberapa kedai yang saya temui di Hong Kong hanya berfokus pada desserts sebagai andalan mereka. Sebuah bukti bahwa warga lokal sangat hobi menikmati sajian manis.
Misalnya puding kacang merah santan, agar-agar goji berry, mango sago atau yang paling populer egg tart. Egg tart hadir di tengah-tengah kudapan manis di sini sejak tahun 1940, yakni mengadaptasi dari Pastel de Nata milik koloni Portugis di Macau di masa itu. Tak ketinggalan bubble tea juga populer di Hong Kong sebagai minuman favorit.

SURGA DIM SUM
Jangan bilang pernah ke Hong Kong jika Anda belum mencicip dim sum disini. Tempat ini juga dikenal sebagai The Heaven of Dim Sum. Resto yang khusus menyajikan makanan yang hadir pada ritual yum cha (upacara minum teh) dahulu kala ini banyak dijumpai di setiap sudut kota.
Harga yang ditawarkan untuk menikmatinya pun bervarisasi, dari murah, sedang, mahal hingga kelas bintang lima hadir di Hong Kong. Harga seporsi dim sum berkisar dari HK$ 12 (sekitar Rp.15.000,) hingga HK$ 80 (sekitar Rp.95.000,). Variasinya bisa mencapai hingga lebih dari 100, ada yang serba kukus, goreng, diisi, gurih atau manis. Membuat Anda bisa mampir berkali-kali hanya untuk memastikan apakah sudah mengabsen semua variasinya ke dalam perut. Jangan lupa, mintalah menu berbahasa Inggris, jika Anda menghindari dim sum yang mengandung daging babi.
Salah satu tempat yang jadi rekomendasi adalah Tim Ho Wan yang ada di kawasan Mongkok. Kedai dim sum ini mungkin satu-satunya yang dikenal sebagai dim sum murah yang mendapat predikat Michelin Star.(VALENTINA LIMBONG)


