Spotlight
Meiline Tenardi dan Perempuan Berdaya yang Menghargai Makna Dirinya

26 May 2026

Meiline Tenardi berbagi cerita sebagai seorang istri, ibu, dan perempuan yang menghargai makna diri. Foto: Dok. Meiline Tenardi/Rendy Kairupan


Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, modern, dan semuanya serbadigital, perempuan Indonesia hari ini pun tumbuh menjadi sosok yang jauh lebih terbuka, mandiri, dan berani mengambil keputusan. 

Mereka memimpin perusahaan, membangun komunitas, menyelesaikan pendidikan tinggi, hingga menciptakan pengaruh sosial yang berdampak. 

Namun bagi Meiline Tenardi, Pendiri Komunitas Perempuan Peduli & Berbagi (KPPB), kemajuan itu tidak bisa dicapai jika sang perempuan belum benar-benar memahami nilai diri sendiri.

“Banyak perempuan sukses, punya karier bagus, dan terlihat mandiri, tapi belum benar-benar sadar value dirinya,” ujar Meiline Tenardi saat berbincang dengan Femina, pelan namun tegas.

Sebagai perempuan yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan pemberdayaan perempuan, Meiline melihat bahwa tantangan perempuan modern hari ini bukan lagi sekadar soal pendidikan atau kesempatan berkarier.

Keluar dari zona nyaman

Salah satu pengalaman yang paling membentuk cara berpikir Meiline terjadi ketika sang suami memberi kepercayaan untuk membenahi manajemen sebuah perusahaan manufaktur yang saat itu didominasi oleh tenaga kerja laki-laki.

Awalnya ia meragukan kemampuannya sendiri karena tidak memiliki latar belakang pendidikan maupun pengalaman yang berkaitan langsung dengan industri tersebut. Namun, tantangan itu justru mendorongnya untuk belajar dengan cepat, bekerja lebih keras, dan melihat setiap persoalan secara kritis, logis, serta strategis.

Seiring waktu, ia mampu memahami berbagai permasalahan yang ada di lapangan, serta mengambil keputusan yang efektif untuk membangun sistem kerja yang lebih sehat dan terstruktur. Pengalaman tersebut membuat Meiline menyadari bahwa kapasitas seseorang sering kali jauh lebih besar daripada yang dibayangkannya.
 
Keluar dari zona nyaman membuka pikiran Meiline Tenardi atas kapasitas dirinya yang lain. Foto: Dok. Meiline Tenardi/Rendy Kairupan

“Saya masuk ke lingkungan yang sama sekali baru bagi saya. Tetapi di situlah saya belajar bahwa kemampuan seseorang tidak selalu ditentukan oleh latar belakangnya. Kadang kita baru menemukan potensi diri ketika berani keluar dari zona nyaman,” kenangnya.

Sejak saat itu, Meiline tidak lagi membatasi dirinya pada apa yang sudah ia kuasai. Ia percaya bahwa keberanian untuk mencoba, kemauan untuk terus belajar, dan keterbukaan terhadap pengalaman baru adalah bagian penting dari proses bertumbuh menjadi versi terbaik diri sendiri.

Perempuan mandiri seutuhnya

Bagi Meiline, ketika seorang perempuan memahami nilai dirinya, betapa dia berharga dan bermartabat, dia akan terus bertumbuh sebagai individu.

Dalam mencari pasangan pun, dia tak akan mudah terjebak dalam relasi yang manipulatif, controlling, atau penuh love bombing tanpa menyadarinya.

Banyak perempuan sudah mampu berdiri secara ekonomi, memiliki posisi yang baik, bahkan terlihat kuat dari luar. Namun, menurut Meiline, tidak sedikit yang sebenarnya masih hidup dalam tekanan sosial dan emosional, tuntutan lingkungan, maupun relasi yang perlahan membuat mereka kehilangan keberanian jadi diri sendiri.

Di saat kemandirian finansial digaungkan sebagai ciri utama perempuan berdaya, Meiline punya pendapat tersendiri.

Menurut Meiline, kemandirian finansial tetap penting bagi perempuan, namun perempuan yang benar-benar berdaya bukan hanya soal mampu menghasilkan uang sendiri. Perempuan berdaya memiliki kesadaran diri, keberanian mengambil keputusan secara sadar dan jujur, serta bertanggung jawab atas pilihan hidupnya.

Tanpa hal-hal tersebut, perempuan yang terlihat mandiri pun bisa tetap hidup dalam ketakutan, mudah dikendalikan, atau kehilangan dirinya sendiri di dalam relasi yang tidak sehat.

“Saat seorang perempuan sudah punya kendali atas pikiran, emosi, dan arah hidupnya sendiri, umumnya kemandirian ekonomi akan tumbuh dengan lebih sehat dan kuat,” ujar Meiline.

Bahagia dengan pilihan sendiri 

Pandangan tersebut membuat Meiline percaya bahwa pernikahan bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan perempuan. Karena itu, ia tidak pernah memaksakan jalan hidup tertentu kepada putrinya.

Meiline berpendapat, setiap perempuan berhak menentukan pilihan hidup yang paling sesuai dengan nilai, impian, dan kebahagiaan masing-masing.

“Saya selalu berpesan kepada anak saya, yang terpenting bukan mengikuti standar orang lain, tetapi memahami apa yang membuat hidupnya bermakna, serta dia bertanggung jawab atas pilihan yang diambil,” ungkap Meiline.

“Kalau suatu hari menikah, itu baik. Kalau memilih jalan hidup yang berbeda pun tidak masalah. Yang penting, dia hidup dengan bahagia, terus bertumbuh, penuh rasa syukur, dan menjadi pribadi yang baik serta bermanfaat untuk sesama,” kata Meiline lagi.

Meiline menegaskan, perempuan yang benar-benar menghargai dirinya tidak akan menjadikan pernikahan sebagai satu-satunya tujuan hidup. Jika ia menikah, ia mampu membangun hubungan yang sehat dan saling mendukung. Jika tidak menikah pun, ia tetap bisa hidup penuh, bahagia, dan bermakna.
 
Perempuan yang bisa menjalankan multiperan perlu dukungan ekosistem di sekitarnya. Foto: Dok. Meiline Tenardi/Rendy Kairupan

Di situlah Meiline melihat pentingnya membangun ekosistem yang sehat di dalam keluarga. Ia percaya perempuan tidak bisa terus dipaksa menjalankan banyak peran sendirian—menjadi cantik, sukses, ibu rumah tangga yang sempurna, sekaligus selalu terlihat bahagia—tanpa dukungan dari keluarga terdekatnya.

Ia memberi contoh sederhana tentang hubungannya dengan sang suami. Ketika dirinya harus memimpin pelaksanaan sebuah acara besar sementara suaminya jatuh sakit, sang suami justru memilih masuk rumah sakit agar Meiline bisa tenang bekerja karena tahu ada dokter dan perawat yang membantu merawatnya.

“Itu salah satu contoh bagaimana ekosistem saling menguatkan,” katanya.

Bagi Meiline, perempuan yang bahagia bukan ancaman bagi laki-laki. Justru perempuan yang dihargai akan menjadi sumber kekuatan sebuah keluarga.

“Laki-laki bisa sukses besar dan bahagia kalau dia punya pendamping yang bahagia,” begitu pendapat Meiline.

Memperkaya diri dengan kuliah lagi

Bicara soal perubahan zaman, Meiline mengaku pandemi Covid-19 mengubah caranya memandang kehidupan. 

“Saya dulu sempat FOMO kalau belum update di media sosial,” cerita perempuan berzodiak Leo ini. “Namun saat pandemi, saya jadi tertantang bikin konten yang lebih bermanfaat, seperti tentang toxic relationship, dan sebagainya.”

Sekarang, ia lebih memilih membuat sesuatu yang bermakna dan mengajak orang saling melakukan introspeksi ketimbang sibuk mengubah orang lain.

Perubahan itu turut memengaruhi cara ia membangun relasi dengan anak-anak dan generasi muda. Menurutnya, orang tua juga harus mau berubah agar komunikasi dengan anak tidak dipenuhi jarak dan ego.

“Orang tua harus menyesuaikan diri, anak juga begitu, supaya bisa ketemu di tengah,” kata ibu dua anak ini.

Rasa ingin tahu yang besar terhadap manusia dan proses kehidupan juga membuat Meiline kembali duduk di bangku kuliah di School of Psychology - University of Jakarta International (Uniji). Bahkan, di hari wawancara dengan Femina, Meiline ada jadwal UTS.

Ketertarikannya pada psikologi berangkat dari keinginannya memahami manusia secara lebih mendalam—bagaimana seseorang berpikir, mengambil keputusan, membangun relasi, menghadapi tantangan hidup, dan bertumbuh dari berbagai pengalaman yang membentuk dirinya.

Di tengah kesibukannya sebagai pengusaha dan pegiat sosial, ia memilih kembali menjadi mahasiswa dan belajar bersama generasi yang jauh lebih muda darinya.
 
Bagi Meiline, relevan dengan zaman sangat penting, tapi nilai-nilai dasar tidak boleh dilupakan. Foto: Dok. Meiline Tenardi/Rendy Kairupan

“Saya menikmati proses belajar itu. Bukan hanya karena menambah wawasan, tetapi karena saya jadi memahami bahwa setiap orang memiliki latar belakang, pengalaman hidup, dan perjuangannya masing-masing,” kata Meiline, antusias.

Ia menambahkan, “Psikologi mengajarkan saya untuk tidak terlalu cepat menilai atau menghakimi seseorang hanya dari apa yang terlihat di permukaan. Sering kali cara seseorang berpikir, bersikap, atau mengambil keputusan dipengaruhi oleh pengalaman hidup yang tidak selalu kita ketahui.”

Pemahaman tersebut membuat Meiline lebih terbuka terhadap perbedaan sudut pandang dan lebih berempati dalam melihat kehidupan. Baginya, memahami manusia bukan berarti selalu setuju dengan semua pilihan yang dibuat seseorang, tetapi belajar melihat konteks yang membentuk pilihan tersebut sebelum memberikan penilaian.

Belajar untuk Meiline juga sebuah bentuk transformasi diri. Meski menyebut dirinya ‘limited edition’ sebagai Generasi Boomers, Meiline percaya kalau perempuan harus terus bertransformasi, “Agar kita tetap relevan dengan perubahan zaman tanpa kehilangan nilai dasar kita.”

Perempuan dan generasi emas

Pandangan Meiline tentang perempuan tidak berhenti pada lingkup keluarga. Ketika banyak orang mengukur kemajuan bangsa dari pembangunan infrastruktur, teknologi, atau pertumbuhan ekonomi, Meiline justru melihat kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi utama kemajuan sebuah negara.

“Pada akhirnya, yang menentukan masa depan bangsa adalah kualitas manusianya. Karena itu, kita juga harus memperhatikan siapa yang membentuk generasi tersebut sejak awal kehidupannya,” ujar peraihWoman of Social Impact di ajang Women’s Inspiration Awards 2026 itu.
 
Perempuan yang berdaya adalah fondasi bangsa yang besar. Foto: Dok. Meiline Tenardi/Rendy Kairupan

Di sinilah ia melihat peran strategis perempuan. Sebagai ibu dan pendidik pertama, perempuan turut membentuk karakter, pola pikir, rasa percaya diri, dan nilai-nilai kehidupan yang akan dibawa anak hingga dewasa.

“Saya percaya, kualitas sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas generasi yang dibesarkan hari ini. Karena itu, memberdayakan perempuan bukan hanya tentang perempuan itu sendiri, tetapi juga tentang mempersiapkan kualitas sumber daya manusia masa depan,” ujar Meiline.

Meiline pun menutup perbincangan ini dengan sebuah pesan yang beresonansi tentang pentingnya perempuan yang memahami dirinya yang berharga dan bermartabat. 

“Indonesia Emas membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kuat secara karakter, sehat secara mental, dan mampu menghadapi perubahan zaman. Jika perempuan tidak dipersiapkan dengan baik, kita berisiko melahirkan generasi cemas, bukan generasi emas.” (f
 

Zornia Harisantoso


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?