Sex & Relationship
Suka & Duka Wanita Saat Menjadi Sopir Keluarga

19 May 2017


Foto: 123RF


Biasanya setelah menikah, wanita menjadi ratu. Kemana-mana diantar suami, pokoknya enggak boleh menyetir sendiri. Takut capai hingga takut kenapa-kenapa. Tapi, berbeda dengan ketiga wanita mandiri ini. Bukan hanya mengendarai mobil untuk urusannya sendiri, tapi bisa dibilang justru jadi ‘sopir’ keluarga. Kok bisa?


Novrita Widiyastuti, 37, CEO Institut Humor Indonesia Kini
Ditinggal Melamun
Saya baru belajar nyetir sekitar 10 tahun lalu. Sebagai bungsu dari 4 bersaudara, dan kakak saya laki-laki semua, saya terbiasa diantar kakak-kakak kemana-mana. Asyik, kan.  Tapi akhirnya saya mau belajar nyetir karena saya tidak mau menyusahkan orang lain. Apalagi setelah menikah dan punya anak, kemampuan saya nyetir benar-benar terpakai, karena suami saya tidak bisa mengendarai mobil dengan benar. Bukannya enggak mau, tapi saya sendiri yang melarang.     

Suami saya itu seniman, dan sering tiba-tiba dapat ide atau melamun kapan saja. Ngeri kalau dia lagi nyetir terus tiba-tiba dia melamun. Jadi lebih aman kalau saya saja yang nyetir.Sebelum menikah, saya sudah biasa mengantar ibu kalau bapak tidak bisa mengantar. Tapi lama-lama Bapak jadi ikut minta dianterin juga. Ha ha ha. Padahal Bapak itu jago nyetir. Kalau nyetir kayak pembalap. Namun karena terserang penyakit jantung, beliau tidak diperbolehkan mengendarai mobil lagi oleh dokter. Akhirnya saya yang mengantar kemana-mana karena hanya saya yang masih tinggal dengan orang tua sampai sekarang.    

Kini, saya lebih banyak nyetir mengantar anak, suami, dan orang tua berobat, belanja bulanan, atau ke rumah saudara dan kerabat. Paling jauh cuma sampai ke Bogor sih. Cuma kondisi jalan di Jabodetabek yang banyak pembangunan di sana-sini akhirnya membuat jarak tempuh yang sebetulnya dekat menjadi lebih lama. Betis pun tambah gede kayaknya, karena kami menggunakan mobil manual.

Terus terang, saya sebetulnya enggak terlalu suka menyetir mobil. Saya lebih senang duduk manis di kursi belakang menikmati pemandangan. Meski demikian, Alhamdulillah, saya tidak pernah menabrak apapun. Sebab saya mengendarai mobil itu selalu hati-hati dan penuh pertimbangan, alon-alon asal kelakon. Justru, seringnya ditabrak orang beberapa kali. Dari mulai kaca spion, sampai ditabrak dari belakang. Padahal lagi berhenti di lampu merah!

Syukurlah suami juga orang yang sabar. Dia selalu mengingatkan saya supaya tenang dan jangan mudah terpancing. Berbeda 180 derajat dengan Bapak. Beliau selalu tidak sabar kalau saya jalannya pelan.    

Nah, sekarang saya cukup terbantu dengan adanya taksi online. Selain murah, taksi online juga nyaman. Saya jadi bisa duduk manis menikmati pemandangan. Dan tidak perlu repot cari parkir. Bahkan mangantar orang tua pun sekarang lebih sering memanfaatkan taksi online. Bebas stres, walaupun kadang-kadang Bapak sebal karena mobil jadi jarang dipakai.

Indira Laksmi, 41, Ibu Rumah Tangga
Bertukar Peran    

Saya sudah bisa mengendarai mobil sejak masih SMA. Sebelum menikah saya nyetir mobil sendiri ke kampus dan bekerja. Karena ayah sudah tidak ada, dan tidak punya sopir, saya juga biasa mengantar Ibu kemana-mana. Ternyata sampai menikah pun, saya masih nyetir juga. Ha ha ha.

Suami saya sebetulnya bisa mengendarai mobil. Namun, sejak sebelum menikah, ia sudah mengaku kalau takut menyetir sendiri karena ada masalah dengan matanya. Kondisi penglihatannya melemah. Akhirnya ia terpaksa berhenti menyetir, karena bisa berbahaya.

Karena kondisi mata yang semakin parah, suami pun menjalani operasi dan lasik tiga tahun lalu. Tapi sayangnya, dia sudah tidak terbiasa nyetir dan saya juga sudah enggak terbiasa disopiri. Sudah sulit percaya kalau disetirin, akhirnya kemana-mana saya lebih nyaman nyetir sendiri.

Setelah resign empat tahun lalu, kegiatan sehari-hari saya adalah antar jemput anak sekolah, les, mengantar Ibu ke pasar, ke dokter, atau sering juga mengantar suami bekerja kalau memang sedang ada waktu. Sehari paling tidak saya menghabiskan waktu tiga jam di jalan.

Saat weekend dan liburan ke luar kota, yang mengendarai mobil juga saya. Mau tidak mau, saya dan suami akan bertukar peran. Saya nyetir, dia yang memegang dan mengasuh anak-anak. Repot juga sih, mengurus dua putra saya (8 dan 5 tahun) yang hobinya jumpalitan. Suami pun sibuk membuat anak-anak tenang biar ibunya enggak pusing dan bisa konsentrasi mengemudi. Hehehe.

Capek memang jadi ‘sopir’. Tapi senangnya, saya jadi tidak tergantung pada siapapun. Mau kemana-mana tinggal ngacir. Bete-nya, kalau perjalanan jauh atau macet, lalu anak-anak berisik di mobil, pasti bawaannya mau marah. Namun, Alhamdulillah, mereka jarang rewel. Mungkin tahu Ibunya galak.

Selain itu ada yang bikin saya sebal sama suami, yaitu kalau lagi nyetir di perjalanan jauh, eh malah ditinggal tidur suami. Maunya kan, ditemani. Tapi untung saja saya memang suka mengendarai mobil. Jadi kalau yang lain tidur, ya saya menikmati saja nyetir-nya meskipun macet.

Macet memang sudah jadi standar hidup di Jakarta, sudah biasa. Terus terang yang bikin kesal tuh motor. Apalagi kalau sudah selap-selip dan enggak mau kalah. Kalau angkot beda lagi nyebelinnya, suka nyelip dan ngetem sembarangan

Meski sudah biasa, kadang ada rasa takut kalau harus nyetir di tengah hujan deras. Apalagi ditambah banjir dan mobil pun mogok. Takut ‘dikerjai’ orang jahat. Karena itu saya harus ekstra hati-hati kalau hujan mulai turun.(f)

 


Topic

#wanitasopir

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?