
Foto: 123RF
Cablak atau berbicara ceplas-ceplos sebenarnya bukan sekadar gaduh. Menurut penulis dan jurnalis Anne Hart dalam buku Power Dating Games, seseorang yang termasuk dalam tipe ini justru lebih mandiri dalam berpikir dan bertindak. Sehingga, pada umumnya sikap tersebut membuat pasangan merasa didominasi. Berbeda dari Anne, penulis, sutradara, dan komika Raditya Dika malah menyatakan kekagumannya pada Miss Cablak. Lewat akun Twitter-nya, ia bercuit: “Dapet pacar romantis, humoris, cablak, gak jaim, itu surga dunia dan pasti bahagia banget.” Nah, bagaimana jika Anda dan si cablak yang mendapat giliran terpanah cupid?
Seperti ‘Pasar Malam’
Hanni Jayanthi, 28, Jr. Brand Manager
Di suatu acara ramah tamah perusahaan, saya bertemu dengan klien yang sudah lama saya taksir. Kehadirannya menarik perhatian saya karena kerumunan mana pun yang ia hampiri selalu menjadi lebih hidup. Suaranya keras, apalagi kalau tertawa. Ia seakan punya banyak stok basa-basi untuk membuat orang lain merasa diperhatikan, kalau tidak mau dibilang salah tingkah.
Bisa saja, saat ia melihat seseorang memakai pakaian yang tidak sesuai dress code acara itu, ia langsung menyela dengan komentar, lalu tertawa lagi. Saya pun tak luput menjadi korban kegaduhannya saat itu. Ketika tahu saya berada di ruangan itu, dan sepertinya ia merasakan gelagat ketertarikan saya kepadanya, tiba-tiba saja ia menyanyikan sebaris lagu James Blunt! You’re beautiful, you’re beautiful, it’s true…. Memang, sih, suaranya bagus, dan memang, sih, saya senang disebut-sebut cantik, tapi kan tidak perlu di depan banyak orang.
Setelah peristiwa aneh itu, kami mulai bercakap-cakap di luar topik pekerjaan. Meski kadang-kadang belum terbiasa dengan ucapan dan sikap spontannya yang ajaib, sikap blakblakan-nya itu justru membuat saya selalu nyaman karena merasa tidak ada perasaan yang ia sembunyikan. Saya pun lama-kelamaan mendorong diri untuk bersikap lebih santai seperti dia.
Berhubung saat ini kami masih dalam tahap pendekatan, saya masih tetap jaga image. Terutama kalau sedang diskusi pekerjaan bersama klien lain. Menetapkan batas tegas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan harus saya lakukan, khususnya karena profesi saya menyangkut citra perusahaan.
Tak Nyinyir, maka Tak Sayang
Amira Ramadhani, 28, Digital Content Editor
Saya berkenalan dengan pacar tanpa sengaja lewat media sosial. Dia merupakan mutual friend dari salah satu teman kerja yang tiba-tiba saja meninggalkan sebuah komentar di foto profil saya. Komentarnya hanya satu, tapi menyengat emosi saya yang merasa sudah memilih foto terkeren untuk saya upload. “Ekspresi mukanya bisa kali biasa saja,” begitu komentarnya. Terdorong emosi, saya pun membalas komentarnya dengan, “Suka-suka gue, dong.”
Tanpa saya duga, ia berani membalas lagi dengan komentar yang lebih mengesalkan. “Emang suka-suka kamu. Tapi suka-suka juga aku untuk komentar, emang ekspresi kamu aneh, kok.” Akhirnya seorang teman sepertinya berusaha menengahi ‘pertengkaran’ itu dengan memberikan komentar yang menghibur. Herannya, saya tidak langsung terpikir untuk mengapus dia dari daftar teman. Saya justru membuka laman media sosialnya untuk stalking kepribadiannya.
Dari lini masanya, saya melihat dia ternyata gemar wisata kuliner, sama seperti saya. Tanpa saya sadari, saya memencet tombol like pada salah satu foto makanannya. Oops! Benar saja, tak lama kemudian dia memberikan komentar di foto itu dengan mention nama saya. “Ngapain nge-like?” Komentar itu kemudian saya diamkan. Setelah itu, ia juga me-like beberapa foto makanan di lini masa saya.
Dari situ, kami jadi lebih sering meninggalkan komentar di foto-foto makanan lain yang menarik. Ia masih tetap memberikan komentar nyinyir pada foto-foto yang saya upload, tapi saya suka saja, meskipun bisa dibaca oleh teman-teman yang lain. Komentar itu terasa jujur. Setelah beberapa bulan hanya berbalas komentar, kami memutuskan bertemu. Ternyata, tidak sulit untuk merasa klik saat kami bertemu. Kini, setelah berpacaran selama hampir satu tahun, ia masih nyinyir dan beberapa kali saya nyinyirin balik.
Tidak Bisa Serius
Yogaswara, 26, Penerjemah Bahasa
Waktu kuliah dulu, saya pernah suka pada teman wanita. Kami berkenalan saat latihan teater. Saya, sebagai pendatang baru di dunia teater, awalnya tertarik pada keberanian dia tampil sangat lepas tiap latihan. Pelatih meminta dia menangis meraung-raung, dia tampil total sampai lendir hidungnya menetes dan matanya merah. Pelatih minta dia menjadi anjing, dia menarik-narik ekspresi mukanya sampai, ya… agak mencerminkan anjing. Di mata saya, penampilan tidak jaim seperti itu keren banget.
Ketertarikan saya ternyata terbawa sampai di luar latihan. Saya mulai mendekatinya, ikut-ikut nongkrong dengan teman-temannya di kantin kampus. Saat itulah, pertama kalinya saya terkaget-kaget melihat sifat aslinya. Ternyata, saat latihan dan di luar latihan, dia sama saja. Bukan teatrikal, tapi super blak-blakan dan cenderung porno. Misalnya, kalau ada teman laki-lakinya yang pakai celana agak ketat di kampus, dia suka iseng menepuk bokong teman tersebut sambil nyeletuk, “Kasihan, tuh, ‘adik’-nya terjepit.” Efeknya, saya jadi suka berkaca lebih lama sebelum ke kampus. Takut kalau celana saya terlalu ketat dan dia melihatnya.
Suatu waktu, akhirnya saya kena juga. Di tengah jeda latihan, saya mendapat kesempatan berdua saja dengan dia. Saya ajak dia ngobrol tentang tempat makan baru di dekat kampus. Rencananya, saya mau ‘modus’, sekalian ajak dia mencoba makan di situ bersama saya. Tapi, ketika saya sedang berusaha menyusun kata ‘tersembunyi’ untuk mengajak dia nge-date, tiba-tiba telunjuknya mengarah ke dada saya. “Belum pakai bra, ya?” tanyanya, sambil tertawa. Rupanya, kaus putih saya basah oleh keringat setelah latihan, sampai-sampai dua gunung kecil dada saya tercetak jelas di kaus. Saat itu, rasanya saya lebih baik ditelan buaya saja. Malu!
Setelah kejadian itu, dia tetap bersikap seperti biasa. Sebaliknya, saya lebih menjaga jarak karena merasa malu dan bingung. Lagi pula, setelah saya perhatikan, dia sulit diajak berbicara serius, kecuali jika terkait teater. Saya pun mundur teratur. Cukup mengagumi keberanian dan sikap terbukanya di pentas saja.
The Ugly Truth
Reyhan, 31, Event Management Officer
Seseorang dari bagian komunikasi dikenal sebagai rekan kerja yang menyebalkan. Kata orang-orang yang pernah satu tim dengannya, wanita itu mulutnya setajam silet. Saya yang belum pernah bekerja sama dengan dia, sih, menanggapinya biasa saja. Malah agak tidak percaya karena wajah wanita itu terlalu manis untuk punya mulut yang tajam. He… he… he….
Beberapa bulan kemudian, saya ditugaskan untuk mengurus acara di kantor cabang di Jawa Barat. Wanita berwajah manis itu, tanpa saya duga, juga menjadi bagian dari tim. Ketika beberapa teman satu tim mulai bergosip tentang wanita itu, saya malah penasaran. Dalam hati saya bertekad untuk selalu ikut meeting agar bisa lebih mengenalnya.
Setelah meeting pertama, saya pun mendapatkan jawabannya. Wanita itu ternyata sangat blakblakan dan terkesan tidak memperhatikan effort tim saat memberikan kritik tentang pekerjaan. Tapi, yang membuat teman-teman di tim lebih mati kutu lagi, hampir semua kritiknya benar. Salah satu contoh, masukan untuk lokasi acara yang menurutnya sangat egois dan tolol (ya, ia mengatakan tolol), karena hanya mementingkan ketertarikan panitia, tapi tidak memikirkan kesulitan peserta untuk mencapai lokasinya yang jauh. Project leader kami pun mengakui bahwa kritik-kritik dari wanita itu cukup beralasan.
Ketika teman-teman lain merasa geregetan dengan sikap wanita itu, aneh, saya justru melihat ia cerdas dan sexy. Saya berusaha lebih mengenalnya lewat diskusi-diskusi tentang karier dan knowledge. Jujur saja, telinga dan ego saya beberapa kali terusik karena saran-saran darinya. Saran-saran itu ternyata bisa mendorong saya untuk mendaftar program beasiswa untuk meningkatkan karier saya. Meski belum lolos, setidaknya saya sudah berani mendobrak zona nyaman.
Setelah cukup dekat, saya memintanya untuk menjadi pacar dan she said yes. Hingga kini, cara ia menyayangi saya tidak berubah: memberikan saran dan kritik pedas untuk mendorong saya menjadi lebih berani mengejar mimpi. (f)
Topic
#pasangan




