Sex & Relationship
Kenali Post Sex Blues, Penurunan Mood Setelah Bercinta & Cara Mengatasinya

13 Nov 2016


Foto: 123RF

 
Banyak wanita sering mengalami penurunan emosi dan mood setelah bercinta. Penelitian oleh psikolog Robert Schweitzer dari Queensland University of Technology terhadap 230 responden yang dirilis di Journal of Sexual Medicine (2015) menunjukkan bahwa 46 persen wanita pernah mengalami penurunan suasana hati. Perubahan emosi secara drastis ini dikenal sebagai gejala post-coital dysphoria (PCD) atau post-sex blues.


Psikolog Schweitzer yang melakukan penelitian tentang PCD mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab terjadinya perubahan emosi secara tiba-tiba setelah berhubungan seks. Hal yang sama diakui oleh seksolog dr. Andi Sugiarto.

“Ada yang mengatakan bahwa itu faktor genetis. Ini pun belum pasti. Bahkan, penelitian pun belum bisa memastikan penyebabnya. Hanya, ada kemungkinan hal tersebut terjadi karena karakter, pola kepribadian, atau pengalaman masa lalu orang tersebut,” jelas dr. Andi.

Orang-orang yang memiliki emosional reaktif, seperti mudah tersinggung, sensitif, bertemperamen tinggi, atau tertutup, biasanya lebih rentan terhadap emosi negatif yang menyebabkan mereka mengalami PCD. Perubahan emosi tersebut bisa berupa hasrat ingin menangis, perasaan sedih, marah, sensitif, depresi, melankolis, hingga agresif.

“Bahkan ada yang tiba-tiba berubah menjadi enggan berdekatan dengan pasangannya. Seperti ‘main tinggal’, serupa yang dirasakan oleh Echa,” jelasnya lagi. Menurut dr. Andi, beberapa peneliti menilai bahwa kejadian di masa lalu yang dialami seseorang secara tidak sadar bisa memicu mereka mengalami PCD.

Menurut spekulasi Schweitzer, perasaan bersalah, malu, atau rasa takut kehilangan pasangannya juga bisa menimbulkan perubahan emosi. Peristiwa pelecehan seksual yang pernah terjadi di masa lalu juga bisa memicu hal ini.

Uniknya, PCD bisa terjadi bahkan setelah pasangan melewati orgasme atau mendapatkan kepuasan seksual tertentu. “Namun jangan khawatir, penurunan emosi tersebut hanya terjadi beberapa jam saja dan akan mereda dengan sendirinya,” jelas dr. Andi.

Kendati dalam penelitian dinyatakan bahwa PCD tak memengaruhi keintiman atau kualitas hubungan, perubahan emosi yang tiba-tiba tersebut dapat memengaruhi hubungan sesungguhnya dengan pasangan.

“Kalau pasangannya tidak memahami tentang perubahan suasana hati yang tiba-tiba ini, sang pria akan merasa trauma, sakit hati, tidak dihargai. Sedangkan si wanita akan sulit orgasme karena ada perasaan tidak enak. Khawatirnya, akan berujung pada berakhirnya hubungan,” ujar dr. Andi lagi.

Pendekatan yang tepat dalam menangani PCD sangat krusial. Misalnya, dengan menambah jam quality time bersama antara pasangan yang sifatnya non-seksual. “Lebih intim dengan cara ngobrol, agar keduanya lebih terbuka tentang perasaan mereka. Sehingga, ketika terjadi sesuatu yang mengganjal di ‘ranjang’, bisa lebih nyaman dibicarakan,” ujarnya.

Jangan jadikan pasangan hanya sekadar ‘istri atau suami’ saja, melainkan jadikan layaknya sahabat. Dengan begitu, kita bisa tahu kondisi psikologis pasangan, apakah ia sedang sedih, marah, dan lain sebagainya. (f)


Baca juga:


Topic

#sexblues

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?