
Foto: Fotosearch
Tiap kali Anda merasa tersiksa berada dalam relasi yang tidak kompatibel dan sering menimbulkan gesekan-gesekan emosional. Namun, di sisi lain rasa sayang membuat Anda sulit berkelit dari jeratan hubungan yang tidak sehat. Relationship coach, Lex de Praxis, membantu Anda keluar dari pusaran kuatnya.
RUMUSAN 3 + 3
Masa kasmaran memang masanya cinta buta. Itu sebabnya, Lex sangat tidak menyarankan untuk buru-buru bicara mengenai niat menikah di tahun pertama pacaran. “Sebab, di tahun pertama itu, keputusan lebih banyak didasarkan pada emosi. Bukan tak mungkin mengabaikan keburukan pasangan, dengan alasan ‘tak bisa hidup tanpanya‘,” jelasnya.
Jika sudah melewati tahun pertama, gejolak kasmaran biasanya sudah meredup dan pikiran logis mulai jalan. Saat itulah, pasangan baru bisa memikirkan rencana pernikahan.“Meski demikian, idealnya pernikahan itu dilakukan minimal setelah melewati proses pacaran selama 2 tahun. Setahun untuk menghabiskan gejolak kasmarannya, setahun berikutnya untuk melihat bagaimana mereka berdua menangani dan melihat konflik dengan pikiran logis,” jelasnya.
Konflik tidak selamanya buruk. Jika diselesaikan dengan baik justru akan mempererat hubungan. “Itu sebabnya, saya menyarankan untuk mencari pasangan yang utamanya bisa diajak kerja sama, bukan kriteria mapan, ganteng, nyambung, atau nyaman. Semua hal itu bisa dibentuk belakangan. Kemauan untuk bekerja sama seharusnya jadi fondasi utama hubungan yang sehat,” katanya.
Hal ini dialami oleh Ayana (29). Selama setahun ia mempertahankan cintanya, tapi ia lelah karena Wilman (33) tak bisa diajak kerja sama untuk berubah. “Saya lelah, tiap kali ia selalu harus diberi tahu bahwa saya hanya ingin ia terbuka dan jujur. Tapi, ia terlalu keras kepala dan seakan mengabaikan keinginan saya,” cetusnya.
- takes two to tango. Demikianlah saat bicara soal relasi. Lex menyarankan tiap pasangan untuk melakukan evaluasi atas hubungan yang tengah dijalani. Apabila Anda menjadi orang yang lebih baik dalam arti produktif, bahagia, masih bisa melakukan hal-hal yang disukai, artinya Anda berada dalam hubungan yang sehat. “Namun, jika yang terjadi sebaliknya, berarti Anda sudah harus siap-siap mendiskusikannya kepada pasangan untuk memperbaiki kualitas hubungan,” kata Lex.
Teman-teman di sekitar Ayana bisa melihat perubahan destruktif yang dialami Ayana selama dekat dengan Wilman. Ia menjadi mudah marah, curiga, kurang fokus, dan wajahnya selalu keruh. Memasuki setahun hubungan mereka, Ayana terlihat lebih ‘kuat’ untuk bersikap tegas. Puncaknya, satu pertengkaran sengit yang berujung pada kekerasan fisik yang dilakukan Wilman terhadapnya, membuka mata hati Ayana. “Saya tak bisa menoleransi ketika ia lepas kendali menampar saya hanya karena saya menolak mendengarkan penjelasan mengenai kebohongannya,” tutur Ayana, sedih.
Saat itu, Ayana tanpa sengaja melihat bukti percakapan Wilman dengan wanita lain untuk traveling ke luar kota tanpa sepengetahuan Ayana. Ayana sadar, sia-sia ia berharap Wilman berubah. Salah satu alasan mengapa Ayana tak bisa lepas darinya adalah karena Wilman tak pernah bisa melepaskan dirinya. Alasannya, tidak bisa move on dari rasa cintanya pada Ayana. Wilman bisa tiba-tiba datang ke rumah Ayana dan melimpahinya berbagai hadiah untuk menarik perhatiannya lagi.
Kali ini Ayana bergeming. Kejadian yang telah melibatkan kekerasan fisik itu membuatnya langsung menghentikan segala bentuk komunikasi dengan Wilman. Nomor ponsel, WhatsApp, dan media sosial diblokirnya. “Saya ingin menghilangkan perasaan saya terhadapnya,” ungkapnya.
Lex setuju oleh tindakan Ayana. “Kebanyakan, kasus putus-nyambung itu karena masih ada interaksi atau masih berteman di media sosial. Karenanya, blokir saja dulu sementara agar punya waktu untuk menetralkan hati,” saran Lex. Bagi yang berada dalam kondisi tidak bisa melepaskan diri karena satu lingkungan pergaulan atau satu perusahaan, sebaiknya minta bantuan teman-teman untuk membuat ‘pagar’ yang menghindarkan pertemuan. Lebih baik lagi jika benar-benar bisa keluar dari lingkungan si dia.
Di sinilah berlaku rumus 3+3 yang kedua, yaitu 3 bulan memutus kanal komunikasi dan interaksi. Menurut Lex, biasanya perasaan-perasaan ini akan luruh dalam waktu tiga bulan. Lewat dari itu, seseorang sudah bisa melupakan mantan kekasihnya. “Jika sudah tak ada kontak, tapi lebih dari 3 bulan masih galau, sebaiknya konsultasikan ke psikolog untuk mendapat bantuan,” saran Lex.
Terperangkap dalam cinta tak hanya dirasakan oleh wanita, pria pun sama-sama mengalaminya. Itu sebabnya, proses putus cinta dan move on berat dijalani baik oleh pria maupun wanita. Bagi pria, proses ini bisa jadi jauh lebih berat karena mereka biasanya tak memiliki support group seperti wanita yang mudah curhat sana-sini.
Benar saja, konsisten menutup semua kanal komunikasi selama minimal 3 bulan bisa kembali menetralkan hati keduanya. Teror Wilman perlahan surut. Memasuki bulan keempat, Ayana sudah berhasil melepaskan cintanya sama sekali. “Saya akhirnya membuka komunikasi lagi dengannya sebagai teman baik. Sudah tidak ada lagi rasa cemburu, marah, atau sakit hati. Ia pun sepertinya juga sudah sama ‘tawar’-nya,” ungkap Ayana, lega.(f)
Topic
#hubunganyangsalah


