
Foto: Father of The Bride/Sandollar Productions-Touchstone Pictures
“Saya mau suami saya nanti seperti ayah saya yang sabar dan humoris.” Apakah Anda salah satu yang bertekad seperti itu? Anda tidak sendiri. Menurut konselor keluarga, Elly Nagasaputra, MK, CHt, kecenderungan wanita untuk mencari pasangan yang memiliki kesamaan dengan karakter ayahnya, memang bukan mitos semata.
Pentingnya Kehadiran Ayah
Dari pengalamannya dengan klien-kliennya, konselor dari www.konselingkeluarga.com ini melihat, kecenderungan wanita untuk mencari pasangan yang memiliki kesamaan dengan karakter ayahnya atau sebaliknya, lahir karena beberapa alasan.
“Jika anak perempuan punya relasi yang sangat baik dengan sang ayah, dalam arti punya hubungan ikatan emosional yang sangat erat, si anak biasanya punya tendensi: ‘Kalau punya suami, saya mau seperti Ayah,’” ujar Elly.
“Tak hanya itu. Saat relasi ibu mereka sangat baik dengan ayahnya, mereka bercita-cita memiliki hubungan harmonis seperti orang tuanya. Mereka juga akan dengan sungguh-sungguh mencari pasangan yang akan memperlakukan mereka dengan baik, seperti ayahnya memperlakukan ibunya dengan baik,” tambah Elly.
Itu jika pengalaman yang dimiliki seorang anak tentang ayahnya ‘manis’. Namun, jika si anak punya hubungan yang kurang baik, entah karena acuh tak acuh, tidak dekat, atau malah abusive, yang terjadi tentu akan bertolak belakang, yaitu bertekad jangan sampai punya suami yang seperti sang ayah.
Itu dua kutub yang saling bertolak belakang. Jika relasi yang terjadi antara ayah dan putrinya biasa-biasa saja, kecenderungan yang terjadi, si putri tidak mengidolakan ayah, tapi juga tidak memiliki prasangka buruk. Netral. “Relasi itu terbentuk dari masa tumbuh kembang atau bayi, hingga remaja usia 12 -14 tahun,” ujar Elly.
Itu sebabnya, tiap ayah perlu menyadari pentingnya menjalin relasi yang dekat dengan putri mereka sedini mungkin. Jangan tunggu sampai sang putri sudah remaja, karena itu sudah terlambat. Relasi yang baik dengan ayah akan memberi pengaruh positif pada kehidupan putrinya di kemudian hari. “Tugas ayah adalah memberi pengenalan dan bimbingan bagaimana berinteraksi dengan lawan jenis, karena ayah adalah lawan jenis pertama yang dikenal oleh anak perempuan. Dengan begitu, mereka tahu, sebagai perempuan bagaimana mereka seharusnya diperlakukan,” jelasnya.
“Ketidakhadiran seorang ayah akan membuat seorang anak perempuan tumbuh menjadi sosok yang ‘haus’ perhatian pria. Mereka cenderung sembarang menerima pria mana saja, termasuk yang jauh lebih tua. Jadi, bukan karena ia sengaja mencari pasangan seusia ayahnya, tapi karena ia lebih mudah menerima siapa saja. Mereka itu kemudian kerap ‘jatuh’ pada hubungan yang tidak sehat atau mendapatkan pasangan yang ‘salah’,” ujar Elly, panjang lebar.
Jangan sampai fanatik
Tiap ayah pasti ingin anaknya mendapat pasangan terbaik. Tapi, jika kebablasan, anaknya bisa jadi fanatik dan mungkin jadi sulit cari pasangan, karena saat punya pasangan yang memiliki kekurangan, mereka jadi judgmental. Menurut Elly, ini bisa saja terjadi bila doktrin seorang ayah telanjur membentuk pikirannya.
“Seorang ayah memang harus menjalin relasi yang baik dengan putrinya. Tapi, jangan sampai menanamkan pemahaman: ‘Kalau tidak seperti Papa, kamu jangan mau, ya.’ Ini mungkin terdengar sederhana, tapi saat didengungkan berulang-ulang sejak kecil, lama-kelamaan akan tertanam di benak putrinya,” ujarnya.
Elly meyakinkan bahwa apa pun yang terlalu ekstrem tidak baik. Kalau sampai terlalu fanatik sampai seperti sindrom oedipus complex, mencari pasangan yang sama persis dengan ayahnya, itu tidak sehat. Padahal, realistis saja, tiap manusia adalah unik. Jalan hidupnya pun berbeda-beda, sehingga tidak bisa dibandingkan begitu saja. Bukan tak mungkin ini akan menimbulkan ketegangan dalam hubungan rumah tangga.
“Ketika orang tua ideal, mungkin anak jadi punya ekspektasi terlalu tinggi. Sebagai istri memang perlu dibahagiakan, tapi ingat, mana yang penting, mana yang bisa diterima. Tidak semua keinginan harus diikuti,” jelas Elly. Buat apa dipaksakan kalau suaminya tidak nyaman, karena itu juga tidak akan bertahan lama. Sebagai orang tua, cukup tekankan nilai-nilai yang prinsip, seperti kejujuran, terbuka dalam keuangan, kedekatan emosional, dan tidak berlaku kasar. Sementara untuk hal-hal yang kecil, harus bisa dinegosiasi. “Kalau tidak, akan ribut terus,” saran Elly.
Jika fanatisme itu telanjur melekat hingga menyulitkan seseorang dalam mencari pasangan, atau terus-menerus membanding-bandingkan pasangan dengan ayahnya, sebaiknya introspeksi diri. Baik si anak perempuan maupun ayahnya. Elly memberi saran, seorang ayah sebaiknya memberi wejangan kepada anak agar ‘lebih luwes’ dan terbuka menerima kekurangan orang lain. Sementara si anak, perlu banyak membaca, mengamati lingkungan, dan mengedukasi diri sehinggga pikirannya akan terbuka dan menyadari bahwa tidak ada orang yang sama dan sempurna di dunia. (f)
Topic
#tipcinta




