Sex & Relationship
Cerita Pasangan Modern Menjaga Tradisi Tionghoa Pada Pernikahan Mereka

26 Jan 2017


Foto: Fotosearch

 
Sebagai keturunan Tionghoa, para pasangan muda yang hendak melangsungkan pernikahan sering kali harus menghadapi keinginan orang tua yang masih mengharapkan upacara yang sesuai tradisi. Pada akhirnya, permintaan orang tua pun dikompromikan dengan versi yang lebih praktis. Komunikasi menjadi kunci penting. Namun, di balik kerepotan mengikuti tradisi pernikahan Tionghoa, para pasangan muda ini ternyata mendapatkan pelajaran hidup yang berharga. Bagaimana keseruan mereka?
 
Menghormati Orang Tua
Lingga Andewi (31) dan Albert Budiman (34)

Perkenalan saya dan Albert diawali di media sosial. Waktu itu  saya masih kuliah di Surabaya, sedangkan Albert tinggal dan bekerja di Semarang. Komunikasi awal kami dilakukan lewat chatting sampai saya lulus kuliah dan kami melakukan kopi darat di Semarang.

Setelah dua tahun pacaran, kami ingin membawa hubungan kami ke jenjang pernikahan. Waktu untuk mempersiapkan pernikahan tersebut kurang lebih satu tahun, karena kami melakukan sendiri semuanya, mulai dari konsep acara, dekorasi, undangan, makanan, sampai suvenir. Saya   merasa, mempersiapkan pernikahan itu sangat seru. Puji Tuhan, kami berdua tidak mengalami kendala besar, bahkan kami menikmati proses persiapannya.

Saya dan Albert menyampaikan kepada keluarga bahwa kami ingin menikah dengan tema internasional. Namun, pihak keluarga Albert yang masih memegang adat Tionghoa ingin kami tetap menjalankan beberapa tradisi, seperti mencari hari baik dan sembahyangan. Karena saya dan Albert beragama Kristen, kami memutuskan untuk tidak memakai beberapa adat tersebut. Saya pun berusaha meyakinkan calon ibu mertua saat itu lewat komunikasi yang intens dan memberikan pengertian. Jalan tengahnya, kami memakai tradisi Tionghoa dalam acara lamaran dan tea pai.

Lamaran dilangsungkan pada Juni 2010, setahun sebelum tanggal pernikahan. Pada acara tersebut, keluarga Albert datang membawa 8 baki berisi buah-buahan dan makanan. Saya juga tidak paham mengapa harus 8, mungkin karena angka tersebut genap dan dianggap baik dalam kepercayaan Tionghoa. Baki tersebut dibawa oleh 8 pria yang belum menikah dan diserahkan ke pihak wanita yang juga terdiri atas 8 orang yang belum menikah.

Lalu, pada 23 Juli 2011, kami melangsungkan pemberkatan nikah dan resepsi di Semarang. Saya justru gugup saat mengucapkan janji pernikahan di gereja. Karena sangat grogi, saya hampir lupa beberapa kata yang harus saya ucapkan. Saya sempat terdiam selama 10 detik sampai akhirnya bersuara kembali... hehehe….

Pada hari H, tradisi Tionghoa yang kami pakai hanya tea pai. Tradisi ini merupakan simbol penghormatan kami selaku mempelai kepada orang tua dan kerabat yang lebih tua dan dituakan. Momen tea pai ini menarik bagi saya, karena prosesi ini diikuti orang tua kedua belah pihak, kakek dan nenek kedua belah pihak, kakak dan adik dari orang tua kedua belah pihak, para sepupu yang telah menikah, dan saudara-saudara dari kakek-nenek yang masih hidup. Banyak, deh.

Dari sini saya tersadar bahwa ada banyak saudara tua yang tidak saya kenal dan baru saya tahu saat itu. Dengan adanya tea pai, saya dan Albert jadi lebih mengenal keluarga besar kami.

Kami menyiapkan teh yang kemudian kami sajikan secara urut sambil melakukan pai, bentuk penghormatan ala Tionghoa. Terus terang, saat itu saya merasa terharu melihat orang-orang yang sudah lanjut usia mau menyempatkan waktu untuk datang, bahkan ada yang dari luar kota, demi memberikan restu mereka pada pernikahan saya dan Albert. Saya juga merasa senang karena bisa pai kepada saudara-saudara tua. Saya dan Albert sepakat tradisi ini wajib dilestarikan dalam pernikahan budaya Tionghoa.

Menurut saya, kunci sukses hari pernikahan kami adalah Tuhan yang telah memberkati kami dan restu kedua orang tua. Harapan saya dan Albert adalah agar kami tetap bersama dalam suka dan duka sampai maut memisahkan. Saya juga ingin kami menjadi keluarga yang diberkati dan menjadi berkat buat orang lain.(f)
 
 


Topic

#pernikahan

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?