Foto: pixabayKebijakan kerja dari rumah dan #dirumahaja demi menghentikan penyebaran COVID-19 masih berlanjut di berbagai negara. Di Indonesia, selain DKI Jakarta, kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) juga akan segera diberlakukan di beberapa kota di Jawa Barat seperti Bogor, Bekasi, dan Depok. Bagi sebagian wanita dan anak-anak korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kebijakan berada di rumah saja sepanjang hari ini tak kalah menyesakkan dan bisa mematikan dibanding terinfeksi COVID-19.
Hal ini sebetulnya sudah dikhawatirkan oleh berbagai pusat perlindungan wanita dan anak korban KDRT, dan ini memang terbukti. Menurut Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi perempuan Indonesia untuk keadilan (LBH Apik) Jakarta mencatat 59 kasus kekerasan dalam rumah tangga, perkosaan, pelecehan seksual, dan online pornografi sejak 16 Maret hingga 30 Maret. Dari 59 kasus itu, 17 adalah melibatkan kekerasan dalam rumah tangga. Menurut Situ Zuma, direktur LBH Apik, ini adalah angka tertinggi KDRT yang pernah mereka terima dalam periode dua minggu. Sebagain kasus, yaitu 14 kasus telah dilimpahkan ke Komnas Perempuan pada akhir Maret.
Tak hanya di Jakarta, kondisi yang sama juga terjadi di berbagai negera. Di sebuah kota di provinsi Hubei, Tiongkok kabarnya KDRT yang dilaporkan ke polisi meningkat hingga tiga kali lipat selama bulan Februari lalu.
India pun melaporkan kasus KDRT meningkat dua kali lipat pada minggu pertama lockdown diberlakukan secara nasional. Sebuah lembaga yang menangani KDRT di Inggris, Refuge melaporkan 700% peningkatan telepon pengaduan setiap hari, serta 25% lebih banyak telepon dari pelaku KDRT yang meminta nasehat agar bisa mengubah perilaku mereka. Di Spanyol, layanan WhatsApp yang khusus melayani wanita korban KDRT juga melaporkan peningkatan 270% sejak diberlakukan lockdown.
Menurut Christophe Castaner, Menteri dalam negeri Prancis, sebelah hari sejak diberlakukan lockdown tanggal 17 Maret dilaporkan KDRT telah meningkat hingga 36%. Prancis adalah negara dengan kasus KDRT tertinggi di Eropa, dengan 219.000 kasus yang menimpa wanita berusia 18 -75.
Banyaknya panggilan minta tolong masih bagus ketimbang teriakan yang tak bisa didengar siapapun. Pada masa lockdown, banyak korban KDRT makin sulit meminta pertolongan. Untuk itu diperlukan strategi untuk memberi pelindungan. Agar bisa melapor, korban KDRT di Prancis bisa mengatakan "Mask 19" sebagai kode bahwa ia korban KDRT dan butuh pertolongan saat mengunjungi toko obat dan farmasi. Pemerintah Prancis juga membuka konter untuk konseling di tempat belanja bahan kebutuhan harian. Dua tempat itu adalah sedikit dari tempat yang masih boleh buka saat lockdown. Bahkan, fasilitas yang bisa digunakan bagi korban KDRT untuk mengungsi sudah disiapkan.
Kode seperti ini bisa digunakan jika Anda memiliki teman atau saudara yang terancam KDRT. Untuk melindungi, Anda juga sebisa mungkin untuk sering memeriksa keadaannya. Bahkan jika perlu pura-pura mengirim makanan. Mari kita saling melindungi satu sama lain. (f)
Baca Juga:
Merawat Diri Dengan Menjaga Tingkat Stress Saat Bekerja Dari Rumah
Peneliti Temukan Tiga Variasi Virus Corona
COVID-19 Alasan Tepat Untuk Berhenti Merokok
Topic
#kdrt, #corona, #covid19


