
Foto: Fotosearch
Pasti di antara kita sering melihat tweet atau status galau dari teman di media sosial. Sesekali, sih, kita bakal nyengir membacanya. Tapi… kalau tiap pagi, siang, sore, dan malam hari selalu ngoceh soal ‘kangen sama pacar yang dinas ke luar kota’ hingga ‘betapa berat cobaan ini’ sudah pasti too much. Padahal emosi berlebihan yang ditumpahkan ke media sosial pada akhirnya, sih, hanya akan merugikan diri sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh Dinastuti (Dina), Kepala Bagian Psikologi Klinis di Fakultas Psikologi UNIKA Indonesia Atma Jaya.
“Sering kali orang beraktivitas di media sosial dalam kondisi emosi yang kurang ‘sehat’, misalnya saat sangat sedih atau sangat marah. Mereka terlalu cepat memutuskan untuk membuat status, memasang foto, atau posting video tanpa memikirkan efeknya pada diri mereka sendiri maupun orang lain. Biasanya mereka akan menyesali aktivitas tersebut saat emosi-emosi negatif tadi sudah reda. Fenomena inilah yang memunculkan istilah twitgret (tweet yang disesali) dan instashame (rasa malu karena sudah memasang foto di Instagram yang tidak patut dilihat oleh orang lain).”
Belum lagi cap negatif yang bakal melekat pada si ‘galau’. Mulai dari anggapan childish, di-unfollow, bahkan dijadikan bahan tertawaan.
“Aktivitas media sosial yang dapat diakses oleh semua orang, tuh, dapat memengaruhi pendapat, perasaan, dan perilaku orang lain terhadap si oversharing,” tegas Dina.
Jika merasa sangat terganggu oleh kegalauan teman di media sosial, kita bisa, kok, ‘menegurnya’. Dina menyarankan agar kita mengajak teman untuk berbicara secara pribadi.
“Lebih baik bertatap muka langsung dengan dia dan tanyakan apakah ada hal-hal yang dapat kita bantu. Jika sulit bertemu langsung, telepon maupun mengirim pesan pribadi melalui e-mail atau media lain juga dapat dilakukan.”
Di sini kita bertugas untuk memastikan dan mengingatkan mereka bahwa sebenarnya mereka masih bisa berbagi dengan orang lain secara langsung dan pribadi, tanpa perlu seluruh dunia media sosial tahu. Dina juga menyarankan agar kita selalu berpikir panjang sebelum beraktivitas di media sosial.
“Apalagi di usia 25-30 tahun, kan, wanita kebanyakan sudah bekerja, meniti karier, dan mulai berusaha untuk membangun keluarga. Pasti tidak ada yang mau fotonya yang setengah mabuk di klub terlihat oleh calon atasannya, atau status kita di media sosial dengan bahasa yang kasar maupun tidak senonoh diketahui sang calon mertua,” tutup Dina. (f)
Baca juga:
3 Alasan Seseorang Selalu Galau di Media Sosial
Kasus Bunuh Diri Kembali Marak, Nova Riyanti Yusuf Menganjurkan Diet Media Sosial
Kekuatan Tagar di Media Sosial
Topic
#mediasosial


