Sex & Relationship
2 Alasan Pria Menikah Masih Menonton Film Panas

2 Mar 2017


Foto: 123RF

Para ahli mengungkapkan bahwa menonton blue film sebagai perangsang gairah untuk berhubungan seksual dianggap sangat wajar. Selain sebagai terapi, juga untuk menciptakan variasi dalam hubungan suami-istri. Lalu, sejauh mana batas kewajarannya?

Menciptakan Variasi Bercinta
Jonathan Wahyu, 35, Karyawan, Bogor

Tahun ini memasuki 13 tahun usia pernikahan saya dengan istri (34). Kami sudah memiliki dua anak, berusia 11 dan 9 tahun. Sejak pacaran, 2 tahun sebelum menikah hingga saat ini, tak pernah ada perselisihan yang berarti di antara kami berdua. Keluarga kami harmonis, apalagi kedua anak kami pintar-pintar dan penurut. Namun, 3 tahun lalu, ketika memasuki usia pernikahan satu dekade, saya mulai merasakan perubahan dalam hubungan kami, khususnya pada diri saya sendiri. Saya merasa, gairah seks saya menurun. Mungkin karena saya jenuh.

Walau istri selalu merawat diri dengan baik, saya tetap saja merasa dia kurang menarik untuk dicumbu. Saya sering sekali menolak ‘ajakannya’. Ada saja alasan yang saya berikan, yang capeklah, atau sedang ada deadline pekerjaan. Kalau saya langsung tolak, dia pasti akan kesal. Tak mau melihat istri kecewa bila saya terus-menerus begitu, sejak 6 bulan lalu saya pun mengatur jadwal bercinta dengannya. Bahkan, untuk menciptakan suasana baru,  tiap sebulan sekali saya dan istri menginap di sebuah hotel di Jakarta. Anak-anak kami titipkan kepada orang tua saya.

Usaha itu ternyata tidak bisa membuat gairah saya meningkat. Saya tetap dingin. Kemudian, saya pun teringat pada kebiasaan lama, yaitu menonton blue film untuk membangkitkan gairah. Sejak remaja, saya memang gemar menonton film biru, baik sendirian atau bersama dengan teman-teman. Di bangku SMA hingga kuliah, hampir tiap hari saya menonton film biru, tentu setelahnya akan berakhir dengan masturbasi.

Gairah seks saya memang termasuk tinggi. Hal itu juga yang menjadi alasan saya menikah di usia muda, supaya ada tempat untuk menyalurkan gairah seks saya. Setelah menikah, saya berusaha mulai mengurangi hobi nonton itu, dan benar-benar meninggalkan kebiasaan itu sejak istri melahirkan anak pertama kami. Atas bantuan teman-teman, saya mudah mendapatkan beragam jenis film produksi Asia, seperti Jepang dan Korea, serta produksi Barat kategori hardcore. Benar saja, dengan menonton film-film panas itu, libido saya langsung naik. 

Awalnya istri tak keberatan atas kelakuan saya itu. Bahkan, terkadang dia mau nonton bareng. Beberapa kali kami mempraktikkan beberapa adegan dalam film yang kami tonton. Tetapi, lama-lama dia kurang menyukainya. Dia malah sama sekali tidak terangsang. Menurutnya, adegan dalam film itu tidak alami, terkesan dibuat-buat.

Bila sedang sendiri di rumah, saya melakukan masturbasi, tentu sambil menonton. Kadang kala dia protes dengan  kebiasaan saya ini. Tapi, bagaimana lagi? Jujur, melakukan hal seperti ini membuat saya merasa bersalah. Seakan-akan istri saya hanya sebagai objek. Apalagi selama berhubungan, saya justru lebih membayangkan wajah-wajah wanita dalam film. Saya tidak mampu menghentikannya karena istri saya terlalu monoton dan kurang menggairahkan. Bagaimanapun, blue film ikut menciptakan variasi dalam  hubungan seksual kami, ‘kan?

Saya pun memberikan pengertian kepada istri. Toh, saya tidak pernah melakukan perselingkuhan. Saya tahu dia sulit menerima hal ini. Namun, demi kebaikan, dia memilih untuk mengalah. Saya juga berusaha menjaga perasaannya dengan menonton film sewajarnya saja atau ketika saya benar-benar membutuhkannya.   

Saling Menikmati
Ferry Julian, 37, Marketing Manager, Jakarta   

Bagi saya, menonton blue film untuk membuat terangsang sebelum berhubungan dengan pasangan merupakan hal biasa. Saya akui, hampir semua jenis blue film sudah saya tonton, meski sebetulnya saya tidak terlalu menyukai yang kategori hardcore. Sebab, menurut saya, posisi-posisi bercinta yang dipertontonkan sering tidak masuk akal dan susah dipraktikkan. Selain itu, film triple X tidak memiliki alur cerita dan penggambaran secara detail organ-organ genital justru membuat saya merasa jijik.

Saya lebih menyukai film hot atau ‘semi’ produksi Korea. Film-filmnya cenderung memiliki alur cerita yang logis, romantis, dan diimbuhi adegan-adegan seks yang dibuat dengan koreografi, tata cahaya, serta soundtrack yang menyempurnakan keindahannya. Gambar-gambar seperti ini justru membuat saya terangsang. Hal ini tidak saya temui di blue film produksi Barat atau Jepang yang cenderung vulgar.

Film hot atau ‘semi’ produksi Korea ini yang kemudian kerap menjadi inspirasi saya saat butuh sesuatu yang lain dengan pasangan. Baik dengan istri pertama saya yang telah meninggal 6 tahun lalu, maupun dengan istri saya sekarang yang saya nikahi sejak 5 tahun lalu. Beruntung, almarhumah istri saya dan istri saya saat ini sangat menyukai drama Korea. Hal ini pula yang membuat mereka tidak keberatan bila mengajak pasangan untuk menonton film Korea yang hot.

Setidaknya, tiap seminggu sekali kami mengawali ‘ritual’ dengan menonton bareng. Kami sangat menikmati momen itu. Tetapi, saya selalu menekankan di dalam diri saya, hal itu hanya sebatas inspirasi. Artinya, saya tidak akan memaksanya, jika pasangan merasa kurang nyaman. Bagaimanapun, seks yang indah itu baru terjadi jika saya dan pasangan bisa memadukan kesenangan dan kepuasan. (f)

Baca juga:
Suami Ketagihan Film Porno
Novel Erotis Dapat Tingkatkan Gairah
4 Fantasi Seks yang Hanya Ada di Film Fifty Shades

 


Topic

#tipbercinta

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?