Seni Pertunjukan
Pentas Monolog Cut Nyak Dhien di Makassar

7 May 2018


Foto: Dok. Image Dynamics
 
Pentas monolog Cut Nyak Dhien kembali digelar dalam rangkaian road show di 10 kota.

Femina berkesempatan menyaksikan aksi teater yang disutradarai dan dibawakan oleh Sha Ine Febriyanti pada pementasan di kota ke-2 yang diadakan di Makassar pada 3 Mei lalu. Khusus di Makassar, pentas ini menjadi bagian dari rangkaian acara Makassar International Writers Festival 2018.

Bertempat di Fort Rotterdam yang diliputi kegelapan mencekam, sesosok tubuh yang terbungkus jubah dan penutup kepala terlihat samar berjalan terseok ke atas panggung.

Hanya dibantu penerangan cahaya temaram dari beberapa obor yang menyala dan mengandalkan matanya yang sudah setengah rabun, sosok yang ternyata wanita itu menaruh setiap pijakan kakinya dengan berat. Langkahnya begitu perlahan dan suaranya pun sedikit parau, menyiratkan usianya yang telah dimakan waktu.  
 
Sosok yang kemudian diketahui adalah Cut Nyak Dhien ini lalu bertutur mengenai 3 babak kisah hidupnya dalam aksi monolog yang dibawakan oleh Sha Ine.

Selama setengah jam ratusan penonton terhipnotis, terseret dibawa ikut masuk ke masa lalu: masa pertempuran di mana Cut Nyak Dhien melawan bangsa kafir yang disebutnya untuk merujuk pada penjajah Belanda; masa kecilnya saat ia dinikahkan di usia 12 tahun oleh ayahnya; dan masa pengasingannya di tanah Sumedang, Jawa Barat, hingga ia menutup usia pada 6 November 1908.

Monolog ini tak hanya mengangkat spirit heroik sang tokoh yang selama ini dikenal sebagai pejuang tangguh, tetapi juga menyentuh sisi terlemah dari Cut Nyak Dhien.

 

Foto: Dok. Image Dynamics

Kepedihannya sebagai wanita yang kehilangan suami pertamanya Teuku Ibrahim dan suami kedua Teuku Umar di medan perang, serta ketika dirinya diasingkan jauh dari tanah kelahirannya Nanggroe Aceh Darussalam yang sangat dicintainya.

Sisi yang selama ini tidak pernah terangkat ke permukaan. Bahkan, bisa dibilang belum banyak orang yang tahu jika Cut Nyak Dhien menikah 2 kali dan keturunan Minangkabau.

Kekuatan penghayatan Sha Ine pantas diacungi jempol. Dibantu dengan permainan slide sebagai background panggung dan iringan musik Cello, ia mampu menyalakan roh semangat sekaligus kepedihan pahlawan asal Aceh ini ketika menceritakan kehidupannya yang penuh dengan pergulatan emosi.

Rintihan dan pekik penuh luapan kebencian terdengar begitu menyayat membelah malam. Setengah bergidik, malam itu spirit Cut Nyak Dhien seakan hadir di atas panggung.

 
Foto: Dok. Image Dynamics

Karya ini sebetulnya sudah dipentaskan pertama kali tahun 2014 di Galeri Indonesia Kaya Jakarta dan dibawa berkeliling ke beberapa kota di Indonesia. Puncaknya di tahun 2015, tepat memasuki 109 tahun kepergian Cut Nyak Dhien, monolog ini dipentaskan kembali pada 16 November 2017 di Bentara Budaya Jakarta dan Kuala Lumpur, Malaysia, pada 7 Februari 2018.

Pertunjukan di Makassar merupakan pementasan yang ke-14 kali dari keseluruhan monolog Cut Nyak Dhien yang pernah dipentaskan. Selanjutnya monolog ini akan hadir di kota Solo (6 Mei), Surabaya (29 Mei), Kudus (28 Juni), Tasikmalaya (11 Juli), Bandung (13 Juli), Medan (28 Agustus), dan kota Padang dan Panjang di bulan September 2018. (f)

Baca Juga:
Monolog dan Workshop Cut Nyak Dhien Hadir di 10 kota

Pertunjukan Monolog Pertama Putri Ayudya

 


Topic

#teater

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?