Reviews
Raminten Universe: Life Is a Cabaret, Narasi Menggelitik Rayakan Keberagaman

20 Sep 2025

Raminten Cabaret dengan perjuangan akan inklusivitas di baliknya. Foto: Kalyana Shira Films


Begitu banyak cerita di balik keberagaman Indonesia. Salah satunya adalah kehidupan para pekerja seni, termasuk mereka yang tampil dalam pertunjukan Raminten Cabaret di Yogyakarta.

Kabaret yang para pemain utamanya adalah pria ini (baik crossdresser maupun transpuan) didirikan oleh sosok bernama Hamzah Sulaiman, yang akrab disapa Kanjeng, dari karakter Raminten yang ia ciptakan untuk penampilannya dalam sebuah variety show di TVRI Yogyakarta.

Hamzah Sulaiman adalah salah satu anak dari pendiri Mirota Batik yang terkenal sebagai pusat oleh-oleh legendaris di Yogyakarta. Ia mendirikan Hamzah Batik, serta membuka House of Raminten, yang kemudian diramaikan Raminten Cabaret.

Dena Rachman dan Nia Dinata di acara pemutaran; karakter Raminten (berkacamata) yang dibawakan Hamzah Sulaiman. Foto: Dok. Kalyana Shira

Lebih terkenal di mata para turis, Raminten Cabaret dikelola oleh profesional, yang tak hanya berpengalaman tapi juga berpendidikan tinggi. Para penarinya pun banyak yang lulusan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

Sepenggal kehidupan Kanjeng dan cerita di balik layar Raminten Cabaret dan para pendukungnya hadir lewat film dokumenter Raminten Universe: Life Is a Cabaret

Disutradarai oleh Nia Dinata dan ditulis oleh Nia bersama Dena Rachman (keduanya juga jadi produser bersama Melissa Karim), film ini menyoroti bagaimana kebaikan hati dan penerimaan tanpa syarat dapat menghapus stigma, memberdayakan komunitas yang terpinggirkan, dan menciptakan ruang aman bagi semua orang untuk berekspresi.

Dalam pemutaran kedua (perdana di Yogya Juni silam) di Institut Français Indonesia (IFI), Jakarta, yang juga didukung oleh Kedutaan Besar Kanada di Indonesia (16 September 2025), kita diajak menyelami kehidupan tim kabaret yang kadang mengundang tawa maupun haru.

Nia Dinata bertemu Hamzah Sulaiman. Foto: Dok. Kalyana Shira

Narasi menggelitik selama 1,5 jam ini turut menghadirkan bagaimana sosok Kanjeng menjadikan seni dan budaya sebagai bahasa universal untuk menyatukan perbedaan. 

Film ini memperlihatkan bagaimana Kanjeng yang sedang sakit berusaha menonton setiap pertunjukan dan mengevaluasinya, meski melalui rekaman video. Raminten Universe juga memotret bagaimana para pendukung kabaret menyayangi Kanjeng yang memberikan kesempatan dan ruang bagi mereka berkesenian.

Di acara bincang-bincang selepas pemutaran film, Nia Dinata mengatakan kalau membuat film dokumenter itu harus siap dengan hal-hal tak terduga. Dan benar saja, di tengah proses editing film ini, Hamzah Sulaiman berpulang pada April 2025. Raminten Universe pun jadi biografi mini untuk mengenang kegigihannya mengangkat inklusivitas.

“Saya ingin kisah Raminten menjadi cermin bahwa di negeri dengan keberagaman seluas ini, inklusivitas bukan hanya wacana, tapi sesuatu yang bisa kita wujudkan lewat tindakan sederhana setiap hari,” kata Nia Dinata.

“Film ini mendorong kita untuk melihat bahwa di tengah urban chaos, nurani kebajikan adalah jembatan terkuat antar identitas, menyatukan sesama manusia. Semoga film ini bukan hanya hiburan, tetapi juga pengingat bahwa masyarakat kita akan tumbuh kokoh jika dibangun atas dasar empati, penerimaan, dan inklusi nyata,” Dena Rachman menambahkan.

Searah jarum jam dari kiri atas: Tim manajemen dan sebagian pendukung Raminten Universe; pertunjukan yang mengikuti zaman;
suasana syuting; kehebohan rutin sebelum pertunjukan. Foto: Dok. Kalyana Shira

Meski Hamzah Sulaiman telah berpulang, semangat dan warisannya tetap hidup. Raminten Cabaret berkomitmen untuk melanjutkan visi Kanjeng dengan mempertahankan panggung sebagai ruang aman bagi semua, menjaga keberagaman sebagai kekuatan, dan terus membuka peluang kerja bagi komunitas kreatif dan kelompok yang kerap terpinggirkan. 

“Warisan Raminten adalah keberanian untuk mencintai tanpa membedakan. Di tengah tantangan kota besar seperti segregasi sosial dan jarak antar kelompok, Raminten mengajak masyarakat untuk lebih peduli kepada sesama. Semoga pesan ini hidup di hati setiap penonton dan menginspirasi aksi nyata di komunitas mereka,” ujar Ratri, Direktur House of Raminten, yang juga putri Kanjeng.

Baca juga:
A Big Bold Beautiful Journey: Pintu ke Masa Lalu yang Membawa Cinta
Tha Rae: The Exorcist, Kolaborasi Apik Pastor dan Dukun Klenik
The Long Walk: Lomba Jalan Kaki Bertaruh Nyawa

 

Zornia Harisantoso


Topic

#reviews

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?