Reviews
Menelusuri Keindahan dan Budaya Tenun Sumba

17 Nov 2019

Foto: Gramedia Pustaka Utama

Pulau Sumba yang belakangan booming sebagai tujuan wisata tak hanya memiliki alam yang indah, budayanya tak kalah menawan. Salah satunya adalah  tenun Sumba. 

Keindahan, filosofis dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya, dan kerumitan cara pembuatannya, membuat tenun Sumba memiliki nilai ekonomis tinggi sebagai karya seni yang menjadi koleksi, baik pribadi maupun museum terkemuka di dalam dan luar negeri. 

Pada gelaran peluncuran buku Prof. drg. Etty Indriati, Ph.D. berjudul Tenun Sumba: Membentang Kain Kehidupan, disebutkan kain adalah teks dan budaya adalah konteks. Teks didefinisikan membawa beragam pesan, baik menggunakan tanda verbal maupun visual. Kain termasuk dalam pengertian teks, ia hadir sebagai produk yang memiliki makna dan nilai sosial. Dalam tenun Sumba, motif aneka satwa, manusia, dan Patola merupakan simbol, tanda visual. Di balik itu ada budaya masyarakat Sumba.

Buku setebal 152 halaman ini memaparkan berbagai museum terkemuka yang mengoleksi dan menuliskan koleksi tenun Sumba; cara pembuatan, ragam teknik, serta motif dan katalog 100 tenun koleksi penulis dari Pau, Patawang, Rende, Kanatang, Kambera, Kaliuda, Warinding, Melolo, Kodi, Lamboya, Kapunduk, Palindi, dan Anakalang. Dinamika dan keragaman motif serta makna motif tenun Sumba menjadi bahasan buku ini, dari motif pasola, Wilhelmina, kuda, buaya, kura-kura, kucing, dan orang Eropa bermain musik. Dibahas pula munculnya motif burung Garuda Pancasila lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibuat setelah Indonesia merdeka.

Untuk menyusun data itu, ia datang ke Sumba menemui beberapa kelompok tenun. Dalam pengantar buku ia menuliskan, masing-masing kelompok tenun di Sumba terdiri atas sekitar 10-14 orang. Kerja sama diperlukan dalam pembuatan kain tenun Sumba, seperti halnya pembuatan batik di Jawa. Pembuatan satu kain tenun dapat melibatkan beberapa orang, meliputi orang yang meracik warna, orang yang menggambar, orang yang mengikat benang lungsi dan kalita untuk merintang warna, pemintal benang dari kapas, penenun, pembuat kabakil, dan orang yang memelintir rumbai benang di ujung kain.

“Karya seni komunal ini menggambarkan betapa sebenarnya masyarakat di Indonesia merupakan masyarakat yang menjunjung tinggi keharmonisan komunal, bukan semata-mata pencapaian individu. Kelompok pembuat tenun di Sumba pun menamakan kelompok mereka masing-masing dengan nama yang melambangkan harapan mereka. Ada yang menamakan kelompoknya Lukamba Nduma Luri, benang untuk hidup, dan ada juga yang menamakannya Pahamun Dumaluri, memperbaiki hidup. Keduanya mengandung arti dan harapan bahwa membuat tenun akan mendatangkan berkah dan kebaikan dalam hidup. Inilah yang menginspirasi saya untuk memberi judul Tenun Sumba: Membentang Benang Kehidupan,” jelasnya.

Selain datang langsung ke pulau Sumba untuk melakukan penelitian, Prof. Etty juga melakukan studi pustaka dan memeriksa beberapa koleksi tenun Sumba di Museum di San Francisco dan Chicago, Amerika. Dari hasil penelitian, direncanakan akan ada tiga buku mengenai tenun Sumba. Buku Tenun Sumba: Membentang Benang Kehidupan menjadi buku kedua setelah buku pertama Beri Daku Tenun Sumba terbit pada tahun 2016.

Etty menemukan, hampir semua hasil penelitian ataupun hasil studi koleksi museum tentang wastra Sumba yang dilakukan oleh peneliti asing tidak dipublikasikan dalam bahasa Indonesia dan sulit diakses oleh orang Sumba pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. "Namun demikian, menelusuri pustaka tulisan orang asing tentang koleksi wastra Indonesia termasuk tenun Sumba dari berbagai museum di luar negeri membuat kita memahami makna yang tersirat di dalamnya, bahwa ada penghargaan yang tinggi atas karya budaya Sumba oleh orang-orang di negara lain."

Sebagai catatan, Etty Indriati, Ph.D., adalah Fulbright scholar—doktor dalam bidang antropologi alumni The University of Chicago di Amerika Serikat. Ia juga dokter dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sejak tahun 1989 hingga 2013, Etty mengajar sebagai dosen di Fakultas Kedokteran UGM dan mendapat penghargaan Satya Lencana Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia atas pengabdiannya itu. Pada tahun 2005, UGM mengukuhkannya sebagai Guru Besar. Tahun 2012 ia menjadi Direktur Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan Nasional dan membantu Indonesia menyukseskan nominasi subak menjadi Warisan Dunia oleh UNESCO, dalam rapat World Heritage di St. Petersburg. Ia juga membantu berbagai kasus identifikasi korban bencana di Indonesia dalam tim Nasional Disaster Victim Identification.

Lebih dari 20 buku telah ditulisnya, baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris, antara lain Batik Wearable Art on Cloth, novel Cokelat Postmortem, Menulis Karya Ilmiah, Anakku Aman Anakku Sayang, Pola dan Akar Korupsi, Strategi Hindari Plagiarisme, Sangiran Situs Manusia Purba Indonesia, dan Antropologi Forensik. Selain mengoleksi tenun Sumba, Etty juga mengoleksi batik. Koleksi batik Etty dipamerkan di Art Institute of Chicago bersama dengan koleksi museum selama lima bulan dari April sampai September 2017 dalam pameran Batik: Textile of Java. Sejak 2017, Etty menjadi anggota kehormatan Komisi Tekstil di Art Institute of Chicago. 

Terbitnya buku ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai dokumentasi dan penambah referensi bagi pencinta wastra Indonesia, serta dapat menggerakkan masyarakat Sumba untuk bisa tetap menjaga pusaka, keterampilan, pengetahuan, budaya, dan tetap membuat tenun ikat dan songket dengan pewarna alam yang ramah lingkungan. (f)

Baca Juga:

Menikmati Suara Taeyeon Dalam Album Purpose
Love for Sale 2: Antara Ibu dan Cinta Bayaran
Selain Film Susi Susanti - Love All, Ini Film Tentang Bulu Tangkis Lain Yang Juga Inspiratif


Topic

#review, #bukubaru

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?