Reviews
BFG dan Momen Indah Menangkap Mimpi

13 Sep 2016


Foto: Dok. Disney

Tirai tersibak, angin malam menyapu wajah si gadis kecil. Saat itulah, bayangan itu mendekat, dan makin dekat ke jendela atas panti asuhan itu. Di keheningan malam, saat seisi kota terlelap, ada yang menyelinap. Ia berjingkat sambil menggenggam terompet dan tasnya menyusuri jalan-jalan setapak berbatu di kota yang dibelah oleh Sungai Thames itu. Kadang ia tampak jelas, sedetik lalu ia melebur dalam remang malam.

Jangan melihat ke balik tirai, karena makhluk-makhluk malam akan muncul saat dinihari. Yes, it’s the witching hour! Itulah mantra yang terus menerus diulangi Sophie, 10 tahun, (Ruby Barnhill) di dalam benaknya. Namun, rasa penasaran ternyata mengalahkan banyak kecemasan. Suatu malam, Sophie yang dilanda insomnia melanggar janjinya sendiri. Alih-alih berusaha tidur, ia malah mengintip ke balik jendela. Selain menemukan sekelompok pemabuk yang membuat keributan, ia menemukan kebenaran yang selama ini dipertanyakannya. Hantu-hantu malam, yang kali itu tak hanya menampakkan diri, tapi juga menculik dan membawanya pergi ke negeri nun jauh di luar batas peta dunia. Ke negeri para raksasa.

Pada saat itulah, kita menyimpulkan ini akan menjadi kisah persahabatan antara Sophie kecil dan si raksasa baik atau Big Friendly Giant (Mark Rylance) yang membawanya. Semacam persahabatan manis antara Harry Potter dan Hagrid, si penjaga sekolah. Jika Hagrid memiliki naga dan makhluk-makhluk fantasi langka sebagai koleksi rahasia yang ia tunjukkan pada Harry, maka BFG memiliki kamar rahasia, sebuah perpustakaan mimpi yang penuh deretan botol berisi mimpi dinamis warna-warni.

Film adaptasi cerita anak klasik karya Roald Dahl (1982) ini tentu membawa banyak melankolia. Dengan alurnya yang terasa sangat perlahan dan tak terburu-buru, kisah ini nyaris terlalu menenangkan. Lewat rangkaian dialog yang panjang antara BFG dan Sophie, Mark Rylance tampak alami menampilkan sosok BFG, raksasa pemburu dan penyimpan mimpi yang polos dan berhati emas. Pandangannya yang sedih, pasrah, dan lelah (mungkin akibat di-bully oleh sekelompok raksasa dari keluarga Fleshlumpeater nyaris sepanjang hidupnya) akan membuat hati Anda teriris, dan merasa ingin memeluknya.

Meski BFG tampak sangat besar dan mengerikan bagi manusia, ternyata di negeri raksasa ia justru kaum yang terbuang. Tubuhnya jauh lebih kecil ketimbang klan raksasa lain. Dan, ya, ia bukan kanibal seperti Fleshlumpeater atau Bloodbutler, dan hanya makan semacam timun yang bertampang buruk dan ia tanam sendiri.

Cara bicaranya pun berantakan. Ia kesulitan dan selalu keliru mengucapkan beberapa kata—seperti human beings yang selalu disebutnya sebagai human beans--dan selalu diralat oleh Sophie. Gadis kecil itu lalu mengajarkan BFG untuk berani melawan para Fleashlumpeater dengan meminta bantuan pada Ratu Inggris (Penelope Wilton). Sebagai gantinya, BFG memperkenalkan dunia mimpi yang sangat magis, lengkap dengan pohon mimpi serta langit dengan aurora indah pada Sophie.

Jangan lewatkan adegan saat BFG memperkenalkan whizzpopping pada sang ratu yang pasti akan membuat si kecil tertawa terbahak-bahak. Itulah sendawa setelah minum frobscottle, minuman bersoda buatannya yang ia sebut sebagai tanda kebahagiaan sejati.

Ruby sukses menampilkan sosok Sophie mungil yang cerdas, berani, gigih dan tentu menggemaskan—layaknya karakter ciptaan Roald Dahl pada umumnya, seperti yang ditampilkan Mara Wilson dua dekade lalu dalam Matilda. Tampaknya, Steven juga semakin nyaman bekerja sama dengan Mark setelah kolaborasi mereka di Bridge of Spies yang membawa Mark meraih Piala Oscar untuk Best Supporting Actor.

Menyaksikan film ini memberikan perasaan ingin memasuki dunia mimpi yang teramat luas dan berlarian mengejar impian yang terbang sangat lincah seperti menangkap kupu-kupu. Steven menyajikannya lewat momen-momen BFG menangkap mimpi anak manusia. Suatu kali ia mengajak Sophie mengintip isi mimpi seorang anak. Di mimpi itu, si bocah menerima telepon dari presiden Amerika Serikat dan membuat ayahnya terbengong-bengong.

Simak trailer berikut ini.

Jika Anda akrab dengan karya-karya Roald Dahl, akan muncul sedikit perasaan kehilangan suasana dark dan gloomy yang selalu menyelimuti kisah-kisahnya. Dengan bujet 100 juta euro (atau sekitar Rp140miliar), film besutan sutradara Steven Spielberg ini menyuguhkan visual yang luar biasa. Meski tak seemosional E.T, narasinya tetap menggugah. Naskahnya sama-sama ditulis oleh mendiang Melissa Mathison yang juga menggarap E.T.

Di balik kisah-kisahnya yang gelap dan sarat penderitaan, Roald Dahl menyelipkan pesan sederhana. Kadang kita menemukan kebahagiaan saat berbagi dengan orang lain. Seperti BFG yang kesepian menemukan kebahagiaannya saat mengumpulkan dan meniupkan mimpi-mimpi indah ke manusia dalam tidurnya. (f)

Baca juga:
10 Film Wajib Tonton di Bulan September


Topic

#ResensiFilm

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?