Indonesia punya banyak sisi, dari yang kelam hingga yang penuh harapan. Foto: Come and See Pictures
Merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia dengan nonton maraton film-film Indonesia seru juga.
Jika tak sempat ke bioskop, di OTT banyak film Indonesia rilisan tahun ini yang bisa jadi pilihan.
Tiga film ini menampilkan Indonesia dari perspektif berbeda, mulai dari kisah klasik cinta beda budaya di masa kini, perjuangan pemain sepakbola dan cerita tentang mafia olahraga, hingga distopia penuh rasisme mencekam.
Di usia ke-80, harusnya tema cerita film-film ini tak lagi mengusik ketenangan dan kebanggan kita sebagai bangsa Indonesia. Tapi sebagai hiburan, tentunya film-film ini bisa memberikan wawasan baru, walau kita berdoa agar apa yang terjadi dalam film semoga tak pernah (atau tak lagi) jadi realitas.
1/ ELANG
Sutradara: Rizal Mantovani
Tonton di Vidio
Indonesia adalah negeri pencinta sepakbola, tapi mengapa timnasnya sulit sekali menjadi jagoan di wilayah Asia? Film ini bukan membahas soal tersebut, tapi mencoba menggambarkan betapa skandal mafia bola mengancam kehormatan bangsa, padahal para pemainnya bekerja keras.
Bagi Elang, bermain bersih di mana pun sama dengan menjaga kehormatan bangsa. Foto: Arjuna Mega Films
Elang (Ganindra Bimo) adalah striker Timnas Garuda dari keluarga sederhana yang berusaha memperbaiki perekonomian keluarganya sambil memberikan yang terbaik sebagai pemain bola, termasuk main di klub internasional. Elang dihadapkan pada berbagai tantangan, apalagi ketika ibunya (Dewi Yull) menderita Alzheimer.
Sisi lain kehidupan atlet di Indonesia ditampilkan di film yang juga dibintangi Lukman Sardi dan Nina Kozok itu. Sebenarnya film ini sudah syuting mulai 2019, namun terhalang pandemi. Stadion megah terlihat kontras dengan kehidupan pedesaan, dua dunia seorang Elang.
2/ KOMANG
Sutradara: Naya Anindita
Tonton di Netflix
Film ini diangkat dari lagu viral berjudul sama, yang dibawakan Raim Laode. Kisahnya terinspirasi perjuangan cinta Raim Laode sendiri dengan sang istri, Komang Ade. Raim Laode atau Ode (Kiesha Alvaro) adalah pemuda asal Buton, Sulawesi Tenggara, yang jatuh cinta pada Komang Ade (Aurora Ribero), gadis pendatang dari Bali.
Ode dan Ade memperjuangkan cinta dan kehidupan mereka di tengah keberagaman. Foto: StarVision
Hubungan mereka yang beda latar budaya hingga keimanan ini penuh ujian, apalagi ketika Ode harus ke Jakarta, dan Ade dijodohkan dengan pria lain. Kiesha Alvaro dan Aurora Ribero berakting meyakinkan, lengkap dengan logat daerah masing-masing.
Film ini mengharukan tak hanya tentang kisah mereka tapi juga kehidupan keduanya. Selipan komedi manis menghidupkan film yang juga dibintangi Mathias Muchus dan Cut Mini Theo itu.
3/ PENGEPUNGAN DI BUKIT DURI
Sutradara: Joko Anwar
Tonton di Prime Video
Sejak awal, film distopia ini sudah menghadirkan ketegangan lewat penggambaran kerusuhan terinspirasi kerusuhan nasional tahun 1998. Sepanjang film, premis rasisme, dalam hal ini terhadap etnis Tionghoa, begitu kental dan menakutkan, hingga kita takut life can be imitating art.
Meski dikasari murid-muridnya, Edwin tak pernah melanggar etika sebagai guru. Foto: Come and See Pictures
Edwin (Morgan Oey) adalah wali kelas di SMA Bukit Duri yang penuh murid badung (dan sangat kurang ajar), yang suka mencari 'babi' alias etnis Tionghoa untuk disiksa. Sebenarnya ada tujuan lain Edwin jadi guru di sana: Ia mencari anak kakaknya, korban kekerasan saat kerusuhan belasan tahun sebelumnya.
Ketika terjadi kerusuhan besar lagi, Edwin, yang sedang membantu staf sekolah, Diana (Hana Malasan), terjebak di sekolah bersama dua murid, di tengah kejaran Jefri (Omara Esteghlal) dan kawan-kawan yang ingin menghabisinya. Edwin pun berusaha menyelamatkan para murid yang mungkin saja termasuk keponakannya.
Baca juga:
Materialists: Ternyata Cinta Tak Sekadar Penuhi Kriteria
9 Drakor Terbaru Agustus: Musim Panas Bersama Kisah Fantasi, Komedi, dan Serunya Kehidupan
Panggil Aku Ayah: Cinta Tak Bersyarat dari Keluarga Baru
Zornia Harisantoso
Topic
#reviews


