
Foto: Dok. Pribadi AKBP Sumy Hastry Purwanti
Sebut semua kasus besar pengeboman dan bencana yang pernah terjadi di Indonesia dan beberapa negara lainnya, ada kontribusi AKBP Dr. Sumy Hastry Purwanti DFM SpF (46) pada proses identifikasi jenazahnya. Ia selalu dipercaya dan diandalkan dalam mengatasi kasus-kasus besar. Dengan segala rasa penasarannya untuk mendalami ilmu forensik, perjalanan panjangnya membuahkan hasil manis. Dialah polwan pertama bergelar doktor forensik di Indonesia, bahkan satu-satunya di Asia!
Daftar resume kasus yang pernah ditangani wanita yang akrab dipanggil Hastry ini cukup panjang. Kasus bom Bali I dan II (2002 & 2005), bom Kedubes Australia (2004), JW Marriott Kuningan (2009), kecelakaan pesawat Sukhoi di Gunung Salak (2012), Malaysia Airlines MH-17 di Rusia (2014), hingga Air Asia QZ8501 yang jatuh di dekat Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah (2015).
Terlepas dari fakta bahwa ia satu-satunya tim forensik wanita dari tim Disaster Victim Identification (DVI) Indonesia yang menangani kasus-kasus itu, kemampuan Hastry memang tak bisa dipandang sebelah mata. Bagaimana tidak? Kendati sempat diremehkan tim forensik dari luar negeri yang membantu menangani, jam terbangnya yang tinggi dalam menangani kasus yang bervariasi di Indonesia justru membuatnya unggul.
“Awalnya memang ada beberapa pihak asing yang memandang sebelah mata kemampuan saya. Tetapi, begitu praktik, mereka kaget bahwa sebenarnya kami tidak kalah hebat dari mereka,” papar wanita yang kini menjabat sebagai Kepala Sub-Bidang Kedokteran Kepolisian (Dokpol) Bidang Kedokteran Kesehatan (Dokkes) di Polda Jawa Tengah ini. Keunggulannya ini karena ia berpengalaman menangani kasus sulit, seperti kasus pembunuhan dan mutilasi yang terjadi di tanah air.
Ironis memang. Ketika banyak kasus pembunuhan terjadi di Indonesia, justru membawa berkah karena makin terasahnya kepiawaian Hastry dalam menangani jenazah. “Kalau di Australia kasus mutilasi terjadi 20 tahun sekali, di Indonesia kasus seperti ini bisa saya tangani tiga bulan sekali. Kemahiran saya dalam melakukan autopsi jenazah ditempa oleh banyak dan beragamnya kasus yang pernah saya tangani,” ceritanya.
Ingin membagikan proses pembelajaran dalam menangani berbagai kasus, ia menuangkan pengalamannya dalam dua buku, Dari Tragedi Bali hingga Sukhoi dan Mengenal DNA dan Ilmu Kedokteran Forensik untuk Penyidikan.
Wanita kelahiran Jakarta, 23 Agustus 1970, ini memang tak kalah hebat dengan dokter forensik dari negara-negara maju sekalipun. Namun, tak berarti ia bebas dari tantangan yang membuatnya pusing tujuh keliling. Ketika menangani kasus kecelakaan pesawat Sukhoi misalnya. Kondisi tubuh korban yang terpisah-pisah membuatnya sulit menguak identitas jenazah. “Karena tubuh terbagi menjadi bagian-bagian kecil, kami harus ekstra teliti untuk menyusunnya. Jangan sampai salah identifikasi,” jelas wanita yang punya prinsip ‘lebih baik tidak teridentifikasi daripada salah identifikasi’ ini.
Meski tantangannya besar dan menguji kesabaran, Hastry mengaku tak menyesal dengan pilihannya untuk terjun sebagai dokter forensik. Ia justru membayangkan dirinya seperti sedang bermain serial detektif Hollywood. “Keren kan, tuh, dokter-dokter forensik di serial CSI. Sekeren itu pulalah pekerjaan saya,” imbuhnya, senang. (f)
Baca Juga:
- Melissa Sunjaya, Berani Membisniskan Seni
- Firliana Purwanti, Menyuarakan Kesetaraan Gender Lewat Orgasme
- Gemala Hanafiah, Sang Penakluk Ombak
Topic
#wanitahebat


