
Foto: Adelli Arifin
Hingga era milenium ini, nyatanya perkawinan anak di Indonesia masih sangat tinggi. Berdasarkan data statistik, Indonesia menduduki peringkat kedua tertinggi di ASEAN, hanya kalah dari Kamboja. Keprihatinan akan tingginya tingkat perkawinan anak di Indonesia menjadi dasar pemilihan tema Saparinah Sadli Award 2016: Hapuskan Perkawinan Anak Perempuan. Tahun ini, panitia penghargaan dua tahunan yang bertujuan untuk memberi inspirasi kepada masyarakat untuk terus bekerja demi terciptaya keadilan gender di Indonesia ini memilih Sri Wahyuningsih (38), guru SMP di Bondowoso yang bekerja dengan sepenuh hati untuk mengurangi angka perkawinan anak di daerahnya.
“Penghargaan ini juga saya persembahkan bagi rekan-rekan guru di Bondowoso yang tergabung dalam PGP Kespro,” kata Yuni, dengan suara bergetar, di atas panggung usai menerima plakat penghargaan yang diserahkan langsung oleh Saparinah Sadli, 24 Agustus lalu. Hari itu, Ibu Sap, sapaan akrab Saparinah Sadli, tepat berusia 90 tahun.
PGP Kespro adalah Paguyuban Guru Peduli Kesehatan Reproduksi, yaitu paguyuban 24 guru di Kabupaten Bondowoso yang berinisiatif secara sukarela memberikan penyuluhan kesehatan reproduksi dan pencegahan perkawinan anak di Bondowoso, salah satu kabupaten di Jawa Timur.
Menurut Yuni, paguyuban itu terbentuk setelah ada pelatihan mengenai kesehatan reproduksi bagi para guru yang diselenggarakan pemerintah setempat. Saat itu Yuni mewakili sekolahnya, SMPN1 Tamanan, Bondowoso. “Kami mendapat banyak materi mengenai pencegahan perkawinan anak, termasuk mengenai pentingnya pendidikan seks,” ujar guru mata pelajaran PPKN ini.
Yuni mengatakan, ia dan rekan-rekan guru lain sebelumnya tidak pernah terpikir untuk menjadi penyuluh, dan pentingnya edukasi untuk anak-anak remaja. “Setelah pelatihan, kami baru menyadari topik yang sebelumnya terasa tabu dibicarakan, ternyata bila tahu cara menyampaikannya dengan bahasa santun dan edukatif, maka bisa tidak terasa tabu lagi,” tutur Yuni. Setelah itu, tanpa ragu mereka melakukan penyuluhan di sekolah-sekolah pada acara MOS (masa orientasi sekolah), dan bekerja sama dengan pemerintah kabupaten mereka mengadakan penyuluhan dari satu kecamatan ke kecamatan lain.
Di tengah bebasnya arus informasi seperti saat ini, kalangan remaja memang perlu mendapatkan informasi tentang seks yang benar dan terarah. Sebagai orang Timur, tipe orang tua di Indonesia pada umumnya belum berani membicarakan pendidikan seks kepada anak-anaknya secara gamblang. Di kalangan guru pun, ini bukan hal mudah untuk dilakukan. Karena itu, pelatihan mengenai kesehatan reproduksi itu sungguh bermanfaat bagi Yuni dan kawan-kawan untuk mulai ‘bekerja’.
Yuni bercerita, biasanya mereka mengawali penyuluhan kepada anak-anak sekolah dengan bertanya, apakah seks itu? “Wah, jawabannya macam-macam. Ada yang menjawab seks itu ciuman, seks itu hubungan suami-istri, dan lain sebagainya. Padahal, seks itu kan jenis kelamin. Pria atau wanita,” kisah Yuni.
Dari pertanyaan pancingan itu, biasanya materi pun bergulir hingga bagaimana mengarahkan para ABG itu tentang cara berekspresi yang positif. Misalnya, rasa cinta atau sayang kepada pacar tidak harus dengan pegangan tangan, ciuman atau yang lain-lain, melainkan bisa lewat puisi atau cerpen. “Pernah juga kami bekerja sama dengan komunitas Kampung Halaman memberikan workshop pembuatan artikel, film pendek dan poster dengan tema pernikahan anak,” papar Yuni, sambil mengatakan bahwa memberikan pendidikan seks tidak harus langsung ke topik seksual.
Tak hanya berhenti di penyuluhan, Yuni juga memberikan nomor ponselnya dan mempersilakan anak-anak itu meneleponnya kapan saja. “Maklum, biasanya anak-anak malu bertanya di forum. Jadi, biasanya begitu selesai penyuluhan mereka langsung menelepon untuk curhat,” kata ibu 3 anak ini. Apa saja yang mereka curhat-kan? “Banyak, ha… ha… ha… tapi kebanyakan mereka mengeluh karena dilarang pacaran oleh orang tuanya.”
Menurut Yuni, para orang tua memang cenderung keras melarang anak-anak mereka berpacaran. Tanpa alasan. Hal ini yang membuat anak-anak tidak puas (juga ketakutan) karena merasa tidak mendapat alasan yang jelas. “Padahal, ketika anak tidak memiliki tempat nyaman dan tepat, dan tidak bisa memberikan solusi yang baik ketika mereka bermasalah, akan berisiko membuat anak lari ke pihak yang salah, atau ke hal-hal negatif, misalnya narkoba atau pergaulan bebas,” ujarnya. Hal ini membuat Yuni mau menerima telepon siapa pun, tak terbatas murid-muridnya, tapi juga murid-murid sekolah lain, termasuk murid-murid SMU. (f)
Baca Juga:
- Lizzie Parra, Dari Beauty Blogger Menjadi Beautypreneur
- Safira Rosa Machrusah, Diplomasi di Negeri Gurun
- Tentang Amnesti Pajak, Haula Rosdiana: Pajak adalah 'Darah' yang Menghidupi Indonesia
Topic
#wanitahebat


