Profile
Ringgo Agus Rahman: “Labeling Bapak atau Ibu Rumah Tangga Itu Sudah Basi…”

16 Aug 2021


Foto: Dok. Ringgo Agus Rahman


Sejak kecil saya merasa ditanamkan nilai-nilai seperti laki-laki itu adalah kepala keluarga,  menikah itu kalau sudah siap menghidupi anak orang atau menikahlah  dengan perempuan yang mau mengurus kamu dan penurut.. Tapi, saya rasa pengalaman saya setelah menikah dan bertemu dengan karakter istri seperti Sabai Morscheck, mengubah banyak pemikiran tadi. Saya mengerti sih niat orang tua saat itu baik. Mungkin mereka tahu bahwa penjelasan detailnya, harus saya rasakan sendiri saat benar-benar sudah menikah. Dan yang saya rasakan ternyata tidak demikian. 

Hubungan Kolaborasi

Soal materi saya dan istri punya peran yang sama, tidak kaku bagian pengeluaran rumah tangga mana yang harus saya penuhi dan mana  bagian istri saya.  Uang yang saya dan Sabai hasilkan sama pentingnya, tanpa perlu melihat siapa yang lebih menghasilkan. Bahkan saya melihat seluruh anggota keluarga ini berhak memakai uang ini  sesuai dengan prioritasnya. 

Istri saya tidak harus menurut dengan apa yang saya inginkan. Justru saya butuh istri yang juga bisa membantah atau marah ketika saya memang perlu diingatkan, atau ketika kelakuan saya  memang perlu mendapat peringatan. Begitupun sebaliknya sikap saya padanya.  Kedudukan saya dan istri sama, tidak ada kepala keluarga. Bahkan saya merasa dia lebih cocok dan cakap untuk menjadi kepala keluarga dibandingkan saya. Ha...ha...ha...istri saya sangar! 

Kalau era ini disebut era kolaborasi, saya kira itu termasuk dalam hubungan. Terutama tanggung jawab laki-laki dan perempuan dalam perkawinan. Setidaknya itu yang saya rasakan dalam keluarga kecil kami ini. Dan di mata saya, sebenarnya hubungan kolaborasi seperti ini, sudah terjadi di jaman sebelum saya, yaitu pada kehidupan perkawinan bapak dan ibu saya dan bagaimana mereka membesarkan saya.

Dulu sebagai anak, saya tidak terlalu memperhatikan hal itu, tapi sekarang saya merasakan bagaimana kolaborasi penting untuk setiap langkah di keluarga. Mendidik anak, mencari uang, bahkan sampai membelanjakannya, semua adalah hasil kolaborasi dan jarang ada keputusan sepihak. Bahkan untuk saya, belanja pribadi pun seringnya harus diskusi dulu dengan istri…
ha…ha…ha. Penghasilan kami berdua juga dijadikan satu. Tidak ada penghasilan yang saya umpet-umpetin, sumpah! Dia juga begitu (mudah-mudahan dia begitu, ya…ha...ha...ha!).

Saat ini saya dan istri sama-sama bekerja, tapi tidak ada pembagian yang kaku siapa yang lebih berhak bekerja dan siapa yang ngurus anak. Semuanya diatur secara alami saja dengan semangat kolaborasi tadi. Jadi menurut saya bicara tentang
labeling ibu rumah tangga atau bapak rumah tangga itu, sudah basi! Saya membebaskan istri saya mau kerja atau di rumah, istri saya pun begitu kepada saya. 

Saya sama sekali tidak pernah dituntut oleh istri harus bekerja dengan target penghasilan jumlah tertentu. Dan saya juga tidak pernah mengharuskan istri saya di rumah terus mengurus anak. Kalau istri saya
buatin saya kopi setiap pagi, itu bukan karena saya mengharuskannya, tapi karena istri saya juga ngopi,  jadi dia sekalian bikinin buat saya.

Ajarkan Anak Laki-Laki Hormati Wanita  

Sekarang ini orang ramai bicara tentang toxic masculinity*. Menurut saya, toxic masculinity ini bahaya. Berbahaya untuk kejiwaan laki-laki dan sering perempuan menjadi korban atas perilaku racun ini. Sikap melecehkan, meremehkan dan merasa dirinya ada di atas perempuan, tidak boleh terjadi di keluarga saya.

Anak saya dua, laki-laki semua. Mereka harus tahu satu-satunya perempuan di keluarga ini, ibu mereka, adalah orang yang paling ‘berkuasa’ dan berjasa atas hidupnya keluarga ini. Itulah kenapa mereka harus menghargai perempuan. Sekarang anak-anak masih kecil,
Bjorka Dieter Morscheck (5) dan Curtis Ziggy Mars Morscheck (9 bulan), tapi pada Bjorka yang sudah lebih paham saya ajarkan padanya untuk jangan melawan ibunya.

Saya akan menanamkan pesan pada anak-anak untuk tidak membuat sakit hati ibu mereka, apapun yang terjadi. Saya adalah saksi bagaimana ibu mereka berjuang dari mulai hamil, melahirkan sampai membesarkan mereka saat ini. Ibu menjalankan semuanya sebagai prioritas hidupnya di atas hidupnya sendiri. 

Kalau seandainya nanti ada momen kecewa mereka pada ibunya, saya berharap  mereka bisa diskusi dengan saya dulu. Baru kemudian saya yang akan coba diskusi dengan ibunya tentang masalah yang terjadi. Jangan sampai anak saya melawan pada ibunya. Dengan hormat pada ibu, saya yakin mereka juga akan menghargai perempuan  pada kehidupan mereka kelak. (f) 

*
Toxic masculinity dapat didefinisikan sebagai perilaku sempit terkait peran gender dan sifat laki-laki. Journal of Psychology.Study mengartikan toxic masculinity sebagai kumpulan sifat maskulin dalam konstruksi sosial yang difungsikan untuk mendorong dominasi, kekerasan, homofobia, dan perendahan terhadap perempuan.

Penulis : Ringgo Agus Rahman, Artis, Suami dari Sabai Morscheck dan Ayah dari 2 Anak Laki-Laki
Artikel kolom "Melihat Indonesia" Tayang di Femina Edisi Juli - September 2021


Baca Juga: 
Kembali Beraktivitas #DiRumahSaja, Isi dengan Kegiatan Seru Bersama Anak, Ini Inspirasinya
Rekatkan Keluarga, Yuk, Bikin Kegiatan Seru
Dara Nasution: Memutus Rantai Kekerasan Di Medsos
 


Topic

#melihatindonesia, #keluarga, #celebriti, #peranayah

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?