
Dok. Shutterstock
Gemuruh tepuk tangan dan sorak sorai terdengar nyaring dari berbagai penjuru negara di Amerika Serikat ketika Joe Biden dan Kamala Harris dinyatakan menang sebagai presiden AS terpilih, menyingkirkan petahana Donald Trump. Mereka berhasil mendapatkan 290 electoral votes di seluruh negeri Paman Sam.
Kabar kemenangan Joe dan Kamala memang membuat banyak orang bersuka ria, mengingat rekam jejak Presiden Donald Trump memimpin AS dinilai buruk sejak 2016 lalu. Kemenangan ini pun diharapkan banyak orang sebagai momen kembalinya kejayaan AS sebagai negara yang demokratis, anti-diskriminasi dan anti-rasis.
Terlebih lagi, sang wakil presiden terpilih, Kamala Harris, adalah ikon pendobrak sejarah dan simbol perlawanan terhadap diskriminasi ras dan gender yang masih menghantui AS. Ia mendobrak sejarah sebagai wakil presiden wanita, kulit hitam dan Asia Selatan pertama dalam sejarah Amerika Serikat.
Kamala adalah putri dari ibu yang merupakan peneliti kanker dari India, Shyamala Gopalan, dan ayah seorang ekonom dari Jamaika, Donald Harris. Tentu ia tahu betul, sebagai wanita kulit hitam dan anak seorang imigran, bahwa ketidakadilan adalah makanannya sehari-hari.
Diskriminasi yang kerap dialaminya sejak kecil di tanah Amerika menjadi motor penggerak motivasinya untuk bisa menjadi 'penegak keadilan'. Ia adalah mantan jaksa di San Fransisco dan juga menjadi wanita kulit hitam pertama yang menjabat sebagai jaksa agung California. Langkah beraninya untuk melawan ketidakadilan terlihat ketika ia menjadi jaksa untuk kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga dan eksploitasi anak.
Tak hanya itu, ia juga kembali mendobrak 'langit-langit kaca' ketika menjadi senator Amerika Serikat pada tahun 2016, dan menjadi satu-satunya wanita kulit hitam kedua dalam sejarah majelis. Ketika ia mengemban peran ini, ia terkenal sebagai sosok yang tak takut untuk mengungkapkan kritik terhadap lawan-lawannya saat sesi dengar pendapat senat, yang acap kali menjadi viral di media massa.
Dan kini, ketika ia resmi menjadi Wakil Presiden AS yang akan dilantik pada 21 Januari 2021, Kamala menjadi simbol perubah tonggak sejarah negeri Paman Sam yang memiliki sejarah buruk terhadap diskriminasi ras dan gender.
"Walaupun saya adalah wanita pertama di kantor ini, saya tidak akan menjadi yang terakhir. Karena setiap anak perempuan yang menonton malam ini akan melihat bahwa ini (Amerika Serikat) adalah negara yang penuh peluang," ujarnya dalam pidato kemenangannya Sabtu lalu.
Apa yang disampaikannya itu adalah refleksi dari pesan sang ibunda yang sering ia dengar semasa hidupnya.
"Kamala, kamu mungkin orang pertama yang melakukan banyak hal, tapi pastikan kamu bukan yang terakhir," ujarnya pada CNN tentang kata-kata yang sering diingatkan oleh ibunya yang wafat pada tahun 2009 lalu.
Dalam pidatonya tersebut juga, ia menyampaikan bahwa wanita telah melewati jalan yang panjang dan berliku untuk membuka peluang ini. Berjuang dan berkorban untuk kesetaraan, kebebasan serta keadilan untuk semua.
Empat tahun setelah Hillary Clinton yang kalah melawan Donald Trump dalam pemilu AS 2016, walaupun jumlah pemilihnya lebih banyak, kemenangan Kamala menjadi batu loncatan yang besar dalam sejarah Amerika. Ini pun menjadi pertanda bahwa wanita di AS bisa meraih jabatan politik tertinggi di negara Paman Sam, sekaligus mengirimkan pesan yang sangat positif kepada anak perempuan dan laki-laki. (f)
BACA JUGA :
Michelle Obama Mengaku Depresi Karena Isu Rasisme
Michelle Obama Blak-Blakan Tentang Perkawinannya Dengan Barack. Mereka Bahkan Pernah Ke Konselor Perkawinan
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, Jadi Orang Paling Berpengaruh di Dunia
Topic
#KamalaHarris, #KesetaraanGender, #Profil


