Career
Marsha Chikita Fawzi Membangkitkan Animasi Indonesia

16 Mar 2015

Berawal dari kecintaannya terhadap seni, Chikita Fawzi (26) memilih untuk menekuni dunia animasi. Berbekal keseriusannya, Chiki bahkan pernah menjadi salah satu animator kartun Upin & Ipin. Kini lewat perusahaan animasi Monso House yang didirikan bersama beberapa temannya, Chiki berharap bisa membangkitkan dunia animasi di Indonesia.

Tertantang Animasi
“Saya menyukai seni sejak SD. Selain belajar piano, saya juga hobi melukis dan  membuat berbagai jenis prakarya. Bahkan, saking cintanya kepada seni, saya mantap ingin menjadi seniman sejak kecil.
    “Hobi saya terus berlanjut sampai dewasa. Ketika akan kuliah, saya ingin mengambil program studi yang masih berhubungan dengan seni. Saya memilih animasi karena menggabungkan seni lukis dan teknologi. Sudah terbayang kalau akan sangat menantang. Apalagi, belum banyak orang Indonesia yang menekuninya.
“Saya pun mengambil kuliah creative multimedia di Multimedia University, Malaysia. Awalnya, saya sempat kesulitan karena harus fasih banget menggambar 2D agar basic animasinya kuat. Namun setelah mengenal 3D, saya benar-benar jatuh cinta kepada animasi karena saya seperti bisa menciptakan dunia sendiri.”

‘Bertemu’ Upin & Ipin
“Di tahun terakhir kuliah, saya harus menjalani program magang. Saya pun mengirim lamaran ke Les’ Copaque yang menggarap Upin & Ipin. Saya tertarik magang di sana karena perusahaan tersebut didirikan oleh beberapa senior saya di kampus, yaitu Nizam Abdul Razak, Safwan Abdul Karim, dan Usamah Zaid.
    “Setelah magang kurang lebih empat bulan, saya ditawari untuk kerja full time. Saya ikut membantu menggarap animasi Upin & Ipin, seperti membuat setting kamar Upin dan Ipin serta dapur Kak Ros. Saya juga banyak memberikan masukan untuk karakter Susanti yang diceritakan berasal dari Indonesia.
    “Setelah tiga tahun bekerja di sana dari 2009-2012, saya memutuskan kembali ke Indonesia. Saya dan seorang teman kuliah asal Indonesia, Aditya Prabaswara, ingin membuka perusahaan animasi sendiri. Akhirnya, bersama beberapa teman lain, saya dan Adit mendirikan Monso House pada Oktober 2012.”
























Mempersiapkan Gocex

“Sebagai portofolio Monso House, ada beberapa film pendek yang ditampilkan di situs kami, yaitu Altitude Alto, Bite, dan Diagnose Me Dr. Vroom. Ketiganya merupakan tugas kami semasa kuliah. Kami juga membuat animasi Kembang Gula yang menjadi salah satu intelectual property milik Monso House. Pengennya, sih, bisa jadi miniseri di televisi.
    “Industri animasi Indonesia yang kurang berkembang menjadi tantangan buat kami. Mungkin karena memang belum ada yang menjadi gongnya. Kalau untuk film Indonesia, kan, ada AADC, nah, untuk animasi belum ada. Kita masih terpaku pada kesuksesan Upin & Ipin sehingga sering kali membuat animasi dengan formula yang sama. Padahal, untuk bisa menyainginya, kita harus membuat sesuatu yang beda.
    “Untuk membangkitkan animasi Indonesia, Monso sedang menggarap film berjudul Gocex. Ceritanya tentang anak-anak kecil yang suka bermain bola di jalanan dengan setting Jakarta di tahun 2040. Saat ini, baru memasuki tahap praproduksi.”




























Kesibukan Lain

“Di luar kesibukan saya di Monso, saya juga suka membuat mural. Semua berawal saat masih kuliah di Malaysia. Banyak teman yang meminta saya membuat mural di dinding kamar mereka karena tahu saya hobi menggambar. Setelah dicoba, ternyata sangat menyenangkan.
“Ketika balik ke Indonesia, ada teman yang meminta saya untuk membuat mural di kafe baru miliknya dan saya pun bersedia. Sejak saat itu, banyak tawaran yang masuk, mulai dari membuat mural untuk kamar tidur sampai kantor. Namun, saya hanya melakukannya saat weekend agar tidak mengganggu pekerjaan di Monso.
    “Saya juga sedang mempersiapkan album solo dan buku motivasi. Ya, musik sudah jadi passion saya sejak lama. Semoga keduanya bisa segera rilis tahun ini. Memang agak susah mencuri waktu untuk menyelesaikannya di tengah kesibukan Monso dan mural. Saya optimis, sih, bisa melakukannya karena memang tinggal sedikit lagi yang harus diselesaikan.”





 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?