Profile
Dubes Inggris Moazzam Malik: Tentang Referendum di Inggris, Puasa di Jakarta, dan Kesetaraan Gender

23 Jun 2016


Foto: Fic

Moazzam Malik adalah Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor Leste. Beliau menempati posisi ini sejak bulan Oktober 2014. Sosoknya menarik karena ia berasal dari generasi kedua keturunan Pakistan yang beragama Islam. Femina berkesempatan berbincang akrab dengan pria lulusan London School of Economics dan Universitas Oxford ini, saat menghadiri acara buka bersama di Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, Senin, 20 Juni lalu. Serunya, wawancara ini dilakukan dalam bahasa Indonesia yang beliau lafalkan dengan fasih. 
 
Bagaimana rasanya menjalani puasa di Indonesia?
Saya pindah ke Jakarta sejak Oktober 2014, bertepatan dengan awal pelantikan Jokowi sebagai presiden. Ini bulan puasa kedua saya di Indonesia. Tahun lalu, cukup menyenangkan, saya sering diundang buka bersama dengan para tokoh, masyarakatnya ramah tamah, saya juga menikmati puasa yang jauh lebih pendek dibanding di Inggris. Di sini, suasana puasa sangat terasa. Tidak perlu menghitung waktu buka karena suara azan di mana-mana. Lebaran lalu, saya mudik ke London. Tahun ini, saya ingin berlebaran di sini. Saya dengar sangat sepi, enak, tidak macet, bisa keliling Jakarta dengan nyaman. Keluarga mertua saya juga akan berkunjung ke sini. 
 
Kuliner favorit Anda selama puasa?
Di sini, saya berbuka puasa dengan kolak pisang. Beberapa minggu lalu, saya berbuka puasa di kediaman BJ. Habibie, saya disuguhi gorengan dengan cabai. Di sini gorengan sangat populer. Kalau di rumah, hidangan berbuka favorit saya adalah Lassi, minuman yoghurt dingin dengan garam, merica, dan rempah khas Pakistan. Lalu ada minuman Rooh Afza, sirop bercita rasa bunga mawar, dicampur susu dan es batu. Enak sekali. Ditemani gorengan seperti samosa. Berbuka selalu mulai dengan kurma.
 
Hal yang dirindukan dari London selama bulan puasa?
Di sini ada anak dan istri. Tetapi anak sulung saya ada di London. Begitu juga ibu dan keluarga besar serta kerabat. Merekalah yang saya rindukan. Bulan puasa adalah saatnya berkumpul dengan orang-orang terdekat. Tetapi, hal ini cukup terobati karena sekarang banyak kemudahan lewat teknologi komunikasi.
 
Bahasa Indonesia Anda sangat fasih. Dan saya dengar, Anda biasa berpidato dalam bahasa Indonesia, bagaimana Anda mempelajarinya?
Sebelum bertugas, saya belajar bahasa Indonesia selama 6 bulan, 5 bulan di London, 1 bulan di Yogyakarta. Saya sangat tertarik mempelajari bahasa Indonesia, dan saya belajar keras untuk bisa. Menurut saya, penting sekali untuk saya harus bisa menguasai bahasa tempat tugas saya, karena saya harus berhubungan dengan pemerintahan, dan menjalin persahabatan dengan banyak pihak. Sampai sekarang, saya masih belajar dengan guru, satu jam dalam seminggu. Saya takut, kalau saya berhenti belajar, saya akan lupa. Istri saya pun sudah bisa berbahasa Indonesia, minimal digunakan untuk berbelanja dan bepergian, untuk memberi tahu arah. Putri kedua saya, sekarang sudah lulus SMU dan menjadi relawan di Flores. Dia menginap dengan penduduk lokal dan terbiasa bergaul dengan warga lokal. Bahasa Indonesianya jauh lebih jago daripada saya. Yang sulit, kalau harus menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Terutama di Jakarta, semua orang bicara dengan cepat, menggunakan bahasa gaul dan bahasa campur-campur. Saya sulit mencernanya. Ha..ha…ha…
 
Seperti apa potret Islam di Inggris?
Umat Islam di Inggris sangat beragam. Berasal dari banyak tempat, Pakistan, Bangladesh, Suriah, Mesir, Somalia, Timur Tengah, dan lainnya. Jika pergi ke masjid, kita bisa menemukan keragaman itu. Kita bisa mendengarkan ceramah dalam bahasa Inggris, Urdu, dan bahasa Arab. Di bulan puasa tahun ini, kita bisa melihat tenda-tenda Ramadan di penjuru London.
 
Pendapat Anda tetang referendum Brixton yang akan menentukan masa depan Ingggris?
Pada hari ini (23/6), Inggris menggelar referendum Brixton. Pilihannya, apakah akan tetap bertahan sebagai bagian dari Uni Eropa, atau keluar. Mengenai isu ini, saya tidak bisa bicara banyak. Sebab, sejak 30 hari sebelum referendum, semua pejabat diwanti-wanti untuk tetap diam. Banyak pihak yang ingin tetap bertahan di Uni Eropa. Posisi pemerintah Inggris sendiri sangat jelas, minta penduduk untuk mendukung supaya tetap di Uni Eropa. Tapi, kita lihat saja nanti hasilnya.
 
Adakah pengaruh sosial setelah terpilihnya Sadiq Khan sebagai walikota London?  
Saya kira pelantikan Pak Sadiq Khan adalah fenomena menarik. Memperlihatkan kita keragaman dan kebudayaan politik Inggris yang terbuka. Sebagai keturunan Pakistan, beragama Islam, bisa menjadi walikota di ibukota inggris. London tidak hanya ibukota Inggris, tapi seperti ibukota dunia. Sebetulnya, sekarang masih banyak tantangan. Contohnya, beberapa hari lalu, ada pembunuhan anggota parlemen di Inggris. Saya kira, contoh seperti Sadiq Khan sangat penting karena itu bisa menginspirasi generasi berikutnya untuk mencapai mimpinya. Selain Sadiq Khan, ada Marvin Rees, walikota Bristol, yang latar belakangnya keturunan budak. Dia bisa memimpin kota Bristol yang sejarahnya terkait perdagangan manusia. Keduanya memperlihatkan bahwa di Inggris minoritas bisa mencapai posisi tinggi. Setiap kali bepergian di luar inggris, saya suka bertanya ke orang-orang, apakah di negara Anda seorang minoritas bisa mencapai posisi tinggi atau tidak. Saya rasa di manapun perlu lebih banyak model seperti mereka. Kita semua berperan untuk menjaga toleransi, turut memajukan sistem politik, ekonomi, dan sosial yang terbuka.
 
Anda sendiri, sebagai minoritas, pernahkah mengalami diskriminasi?  
Ayah saya pindah ke Inggris sewaktu beliau berusia 20 tahun. Beliau bekerja di pabrik besi. Setelah beberapa lama, ia mendirikan bisnis sendiri, skala UKM. Alhamdulillah, ayah saya bisa meninggalkan kemiskinan melalui bisnisnya. Ayah saya yang seorang yatim, pindah ke luar negeri karena ia punya mimpi untuk mengembangkan masa depan keluarganya.
 
Di Inggris, sewaktu saya masih kecil, ada banyak isu rasisme dan diskriminasi. Saya mengalami banyak kesulitan sebagai minoritas, diskriminasi dan kekerasan. Tetapi, ayah dan ibu selalu mengingatkan saya dan adik-adik tentang tujuan dan mimpinya. Mereka meminta kami untuk belajar keras dan mencapai  hasil yang bagus. Harus diakui, masih ada banyak tantangan, isu rasisme, Islamophobia, diskriminasi, kekerasan seksual, dan ketimpangan gender, tetapi belakangan ada kemajuan. Saya kira dibanding negara lain, Inggris jauh lebih beragam dan terbuka.
 
Bicara soal gender, dalam hal peran agama, Indonesia masih perlu memperjuangkan kesetaraan antara pria dan wanita. Dibandingkan dengan Inggris, apa pendapat Anda tentang kesetaraan gender ini?  
Ada beberapa hal yang lebih maju di Inggris, tapi ada yang lebih maju di sini. Di sini, tahun lalu saya ikut acara Nuzulul Quran di istana, acaranya mulai dengan tilawatil Quran. Yang membaca seorang wanita. Itu hal biasa di Indonesia. Tapi di Inggris, saya belum pernah melihat ada wanita membaca Quran di acara yang dihadiri wanita dan pria. Di sini, biasa lihat wanita berjilbab naik sepeda motor, di luar Indonesia saya belum pernah lihat. Di sini, ada banyak ustadzah atau daiyah, di Inggris jarang ada wanita menjadi penceramah agama. Di asia, Timur Tengah, Asia Tengah, saya kira sangat jarang wanita jadi penceramah agama. Untuk wanita, khususnya dalam peran agama, di sini lebih maju.  
 
Seperti apa nilai yang Anda tanamkan untuk anak-anak Anda?  
Walaupun ayah dan ibu saya berasal dari Pakistan dan dari kebudayaan yang tradisionalis, tetapi ibu saya selalu berusaha untuk membesarkan anak-anaknya dengan setara. Saya dewasa dengan nilai dengan kesetaraan. Orang tua saya tidak membandingkan antara saya dan adik-adik saya. Harapannya sama, semua bisa terus ke universitas, berhasil dalam kariernya, dalam hidupnya. Nilai-nilai itu pula yang saya terapakan dalam keluarga saya juga. Saya punya 1 anak laki-laki dan dua anak perempuan, harapan saya untuk ketiganya sama. Dari kecil mereka sudah saya didik untuk membantu pekerjaan rumah, cuci piring dan bersih-bersih. (f)


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?