
Foto: Dok. Pribadi
Berawal dari liburan ke Sumbawa, Carlos Ferrandiz (36) bertemu seorang anak yang tidak dapat berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Carlos kemudian berjanji akan mengajari anak tersebut dan teman-temannya Bahasa Inggris. Carlos kaget karena ternyata anak tersebut tidak hanya mengajak teman-temannya untuk belajar, tetapi juga penduduk Desa Hu’u. Sejak itulah Carlos bertekad mengabdikan hidupnya demi membangun Sumbawa, terutama Desa Hu’u.
Saling membantu
“Sejak kecil orangtua saya selalu mengajarkan hal yang paling penting dalam hidup ini adalah menjadi orang yang baik dan membantu orang lain. Saat berusia enam tahun, saya dibawa oleh orangtua saya ke sebuah rumah sakit penyandang disabilitas di Barcelona, Spanyol. Kami berusaha membantu mereka, seperti memberi makanan, mengganti pakaian, dan bermain dengan mereka.
“Awalnya sangat sulit bagi saya untuk dapat berbaur bersama mereka. Bahkan, bagi saya, sebagian dari mereka seperti monster. Namun, pelan-pelan saya mulai melihat mereka menggunakan hati, bukan hanya mata. Hal yang saya lakukan di Indonesia sekarang sebenarnya tidak terlepas dari ajaran orangtua saya.
“Saya tidak pernah berpikir akan bekerja di bidang kemanusiaan sebelumnya. Ketika masih kecil, impian saya adalah menjadi seorang pengacara agar memiliki banyak uang dan bisa membantu keluarga saya. Soalnya keluarga kesulitan untuk membiayai saya dan kakak saya. Itulah sebabnya saya memutuskan untuk belajar hukum dengan sangat giat dan mempersiapkan diri sebaik mungkin.
“Akhirnya saya lulus sebagai mahasiswa terbaik dari universitas saya. Bahkan, law firm terbesar di dunia, Pricewaterhouse Coopers, menghubungi saya agar saya bersedia bekerja di sana. Mimpi saya menjadi kenyataan! Saya pun bisa membantu keluarga.”
Lahirnya Harapan Project
“Tahun 2007 saya berlibur ke Indonesia. Saat tiba di Pulau Bali untuk pertama kalinya, saya tidak bisa menikmatinya karena terlalu ramai. Saya mendengar soal pantai dengan ombak yang bagus untuk surfing yaitu Lakey Peak di Pulau Sumbawa. Saya pun pergi ke sana selama tiga minggu.
“Suatu hari, saya didekati oleh seorang anak di pantai yang ingin bicara dengan saya, tetapi anak tersebut tidak dapat berbicara Bahasa Inggris sama sekali. Saya berkata kepada anak tersebut bahwa belajar Bahasa Inggris akan menguntungkannya. Dia bisa bekerja di homestay yang ada di Lakey Peak. Saya kemudian berjanji akan mengajarinya Bahasa Inggris.
“Keesokan harinya, saya ke lokasi yang telah kami sepakati sebelumnya. Saya terkejut saat melihat sekitar 200 orang berkumpul di sana. Ternyata mereka berasal dari Desa Hu’u yang terdiri atas anak-anak dan orang tua. Saya melihat sendiri betapa besar keinginan masyarakat setempat untuk belajar dan mengubah hidup. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengabdikan diri untuk membantu mereka. Saat itulah, Harapan Project lahir.”
Terus berjuang
“Selama enam tahun tinggal di Indonesia, saya menghadapi banyak masalah. Di awal, sih, semuanya sangat sulit karena saya tidak memiliki anggaran sepeser pun. Namun, Tuhan selalu membantu saya. Sedikit demi sedikit, saya bisa mencapai tujuan baru.
“Mungkin awalnya dimulai dari pendidikan, yaitu mengajari anak-anak Bahasa Inggris, Matematika, Geografi. Selanjutnya saya melihat banyak anak-anak yang membutuhkan perawatan kesehatan yang layak. Saya berpikir untuk membantu semua anak sakit di sana, yang jumlahnya lebih dari 1.200 anak, dengan cara memberikan bantuan untuk pergi ke rumah sakit dan membayar uang kesehatannya.
“Saya tidak serta merta mendapatkan kepercayaan dari masyarakat di sana. Melihat pekerjaan sehari-hari saya, saya pelan-pelan mendapatkan kepercayaan dan rasa hormat dari orang-orang lokal dan juga dari semua lembaga pemerintah, seperti polisi, militer, dan rumah sakit.
“Tanpa dana, saya tidak akan pernah bisa menjalankan kegiatan ini. Untuk mengajar anak-anak, kami tidak perlu terlalu banyak dana, paling hanya meluangkan waktu. Namun, untuk membantu anak-anak yang sakit, kami memerlukan banyak dana.”
Sulitnya menggalang dana
“Bagian tersulit dari pekerjaan saya, yaitu mencari dana karena saya menjalankan semua kegiatan ini sendirian. Beberapa relawan datang untuk membantu saya mengajar anak-anak, tapi saya yang membawa anak-anak sakit ke rumah sakit atau puskesmas pusat, berhubungan dengan media, dan mencari dana.
“Sejak awal, saya mencari sponsor, tetapi sejauh ini saya belum mendapatkan sponsor. Dukungan yang saya dapatkan adalah dari orang-orang secara pribadi, yang mengikuti proyek ini di media maupun media sosial, seperti Instagram (@harapanproject) atau Facebook. Saya memiliki banyak followers yang mencintai dan mempercayakan proyek ini.
“Saya sangat transparan tentang kegiatan apa saja yang sudah kami lakukan dan ke mana dana dihabiskan. Namun, orang-orang tersebut hanya dapat membantu proyek dalam jumlah dana yang kecil. Saya dapat mengatakan bahwa 90% dana berasal dari Spanyol.
“Setiap tahun saya kembali ke Spanyol selama dua bulan untuk melakukan acara penggalangan dana dan juga kontes surfing. Saya biasanya memberikan informasi soal Harapan Project dan menjual t-shirt. Hal ini sangat sulit bagi saya karena di Spanyol saya pun bekerja sendirian.”
Pindah Kewarganegaran
“Saya berprinsip bahwa pekerjaan ini ibarat menanam pohon. Kami mulai menanam benih dan menyiramnya setiap hari sehingga sedikit demi sedikit pohon tersebut tumbuh. Ini hanya soal ketekunan dan kerja keras.
“Dalam beberapa tahun ini, sedikit demi sedikit anak-anak mulai dapat berbicara Bahasa Inggris dengan lebih baik. Mengenai perawatan kesehatan, banyak anak-anak telah menerima operasi dan sekarang dalam masa pemulihan.
“Tujuan berikutnya adalah dapat membangun pusat kegiatan sendiri. Sampai hari ini, saya belum mampu mengumpulkan dana yang cukup untuk membangun tempat sendiri. Saya menggunakan fasilitas dari pemerintah untuk tiga sekolah di daerah Hu'u. Mimpi saya untuk tahun 2016 adalah membangun Rumah Harapan sebagai pusat socio-educational kami sendiri.
“Hal terpenting bukanlah mengajari anak-anak Bahasa Inggris atau Matematika, tapi mengajarkan mereka untuk menjadi orang baik. Saya terharu saat anak-anak menjawab, ‘Saya ingin bisa membantu anak-anak seperti yang Carlos lakukan’ saat ditanya soal cita-cita mereka.
“Harapan Project bukanlah proyek sementara, Harapan Project adalah hidup saya. Masyarakat Hu’u telah menjadi keluarga dan rumah saya. Indonesia sudah menjadi rumah dan negara saya. Hati saya merah putih seperti bendara Indonesia. Saya bertekad untuk mengabdikan sisa hidup saya di sini dan pindah kewarganegaraan.”
Hartika Arbiyanti/AL
Topic
#relawan


