Profile
Bisnis Jamu Dailywell Berawal dari Jus Bawang Putih

25 Feb 2020

Dok: Femina


Dailywell yang mengusung filosofi hidup sehat seimbang setiap hari berawal tanpa sengaja, ketika orang tua kakak beradik Karen Christianti dan Pauline Christianti terkena penyakit jantung. “Tiga tahun lalu, papa harus pasang 3 ring. Untuk menjaga kesehatan, orang tua saya lalu membuat jus bawang putih. Ternyata, teman-teman orang tua saya tertarik untuk mencoba, sehingga kami memproduksi jus bawang putih dengan merek Ozora,” kata Karen.

Pada saat yang bersamaan, Karen yang saat itu berniat untuk menurunkan kelebihan berat badan, setelah membaca-baca, ia mencoba membuat jamu lemon. Bahannya adalah lemon, jahe dan kayu manis. “Minum ramuan lemon itu selama 3 bulan dan disertai olahraga dan diet seimbang, berat badan saya turun 8 kilo. Teman-teman banyak bertanya, lalu saya dan Pauline pun melihat peluang bisnis ini,” katanya.

Sebelum mulai memasarkan produknya, kakak beradik ini menetapkan bahwa target market mereka adalah anak muda, milenial, yang menurut mereka belum banyak yang mau meminum jamu untuk menjaga kesehatan sehari-hari. Nama Dailywell pun dipilih, disertai filosofi yang menjadi DNA produk mereka. Mereka juga meminta seorang kawan untuk membuatkan logo, yang berupa dua daun yang menyimbolkan Ying & Yang. 

Dengan modal tak sampai 5 juta rupiah, mereka memproduksi Dailywell Lemon +, waktu itu pertama produksi adalah 100 botol untuk sebulan. “Kami pede aja, dan menawarkan produknya ke teman-teman dan membuat akun media sosial,” kata Karen yang mengurusi marketing dan branding produk, sementara Pauline bertanggung jawab di bidang produksi.

Karena tidak memiliki modal banyak, selain menggunakan kekuatan words of mouth di antara teman-teman sendiri dan meminta mereka untuk membantu posting di media sosial, Karen merekrut banyak reseller. Jadi, selain postingan di akun resmi Dailywell, juga banyak di-repost oleh teman-teman mereka, juga ditambah postingan dari para reseller. Hal ini yang kemudian membuat produk seharga Rp130.000 per botol untuk pemakaian selama 2 minggu ini dikenal masyarakat.

Ketika permintaan sudah mulai meningkat, dua bersaudara ini memindahkan produksinya ke ruko. “Kami sudah tidak lagi usaha rumahan, tapi sudah mengurus perizinan mulai dari PIRT, hingga kini kami sudah Industri Kecil yang produksinya sudah di ruko lima lantai,” ujar Karen. Untuk memastikan kualitas dan keamanan produk, mereka juga merekrut apoteker dan mengurus perizinan dari BP POM yang akan keluar tahun ini.

“Kami hanya menggunakan bahan-bahan alami, tidak menggunakan pengawet kimiawi, melainkan memakai proses pasteurisasi. Bahan-bahannya pun sebagian besar dari produk lokal,” kata Karen.

Sedangkan kemasannya menggunakan botol kaca untuk memastikan keamanannya produk. Demi ketersediaan bahan baku mengalir lancar, tak segan mereka turun ke pasar-pasar dan ke daerah-daerah, apalagi sebagian bahan baku masih tergantung musim. “Tapi sekarang kami sudah punya supplier.”

 

Dok: Femina


Setelah sukses dengan Lemon +, yang masih menjadi best seller sampai saat ini, Dailywell juga memproduksi Turmeric (kunyit, temulawak dan lemon) yang berkhasiat untuk antibiotik alami dan bisa meredakan nyeri haid, dan Date Honey (kurma dan madu) yang memiliki kandungan antioksidan tinggi. Rata-rata per hari kini bisa memproduksi 600 botol tiap item.

Setelah bisnis berkembang, Karen dan Pauline juga mengubah model bisnis dari langsung berhubungan dengan reseller, menjadi hanya berhubungan dengan distributor produk mereka saja. “Dulu reseller yang orderannya kian banyak kami jadikan distributor, nah mereka inilah yang mengelola para reseller. Jadi, kami bagi-bagi tugas,” kata Karen, disambung tawa.

Meski tidak menggunakan endorser para publik figure atau selebritas media sosial, Karen optimistis produknya akan bisa diterima pasar yang mereka targetkan. Meski untuk itu ia merasa masih perlu kerja keras untuk terus menerus melakukan edukasi ke anak-anak muda untuk mulai merawat kesehatan dengan gaya hidup natural dan seimbang, termasuk minum jamu.

“Salah satu keinginan kami adalah bisa masuk ke retail lebih banyak. Saat ini selain di online dan distributor, kami ada di restoran Burgreen dan berbagai pusat kebugaran dan baby shop Suzana. Selain itu, kami juga ingin kian banyak merambah pasar Bali, yang ternyata produk kami disukai wisatawan asing,” ujar Karen sambil mengatakan bahwa produknya juga bisa ditemukan di beberapa gerai di Bali. (f)



Baca Juga: 
Jony Yuwono Mengemas Jamu Secara Kontemporer
David Christian: Creator Gelas yang Bisa Dimakan, Pengganti Gelas Sekali Pakai
Edward Tirtanata, Sukses Menjual 1 Juta Kopi Kenangan Setiap Bulan


 




 


Topic

#bisnis, #jamu, #profil, #profilbisnis, #wanitawirausaha

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?