
Ketua AIPI Prof. Sangkot dan Direktur Birtish Council di Indonesia Paul Smith membuka Wallacea Week 2017
Naturalis, antropolog, ahli geografi dan biologi asal Inggris ini meninggalkan banyak jejak di Indonesia. Dalam delapan tahun (1854 – 1862) ekspedisinya di East Indies (sekarang Singapura, Malaysia, dan Indonesia), keindahan alam Indonesia menggelitik intelektualitasnya. Wallace banyak mendapatkan pencerahan, terutama tentang keunikan penyebaran keanekaragaman hayati Indonesia yang dipengaruhi perubahan lempeng bumi di masa silam.
Jejak ekspedisinya meliputi Sulawesi, Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, yang kemudian dikenal dengan sebutan Kawasan Wallacea, yang berluas total 347,000 km². Dalam perjalanannya di nusantara inilah Wallace mengungkapkan gagasan barunya tentang evolusi melalui teori “Seleksi Alam”. Pada tahun 1858 pemikiran ilmuwan yang juga dijuluki sebagai Bapak Biogeografi ini oleh Charles Darwin diterbitkan bersandingan dengan teorinya tentang evolusi.
“Melalui bukti-bukti peninggalan Wallace dapat dengan nyata teraba dan dengan mudah teridentifikasi bahwa dia adalah bagian dari sejarah bangsa Indonesia. Kita perlu mengingat kembali arti pentingnya untuk Indonesia serta mencari cara memanfaatkan potensi itu,” ujar Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Prof. Sangkot Marzuki.
Mengenang arti penting Wallace bagi Indonesia dan kontribusinya yang besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan di dunia, AIPI, British Council, British Embassy di Jakarta, dan Perpustakaan Nasional RI menggelar “Wallacea Week 2017”, bertempat di Perpustakaan Nasional Indonesia, 16-22 Oktober 2017. Anda yang penasaran dengan kisah ekspedisi Wallace di nusantara, serta ingin belajar lebih jauh tentang keanekaragaman hayati Indonesia, bisa mendapatkan jawabannya di sini.
Anda bisa melihat pameran, menghadiri kuliah umum, diskusi, atau menonton bersama pemutaran film terkait perjalanan Wallace.
"Kawasan Wallacea membuktikan bahwa Indonesia sangatlah kaya akan keunikan dan merupakan rumah bagi begitu banyak warisan budaya, keanekaragaman hayati dan geologis. Selaku tuan rumah sekaligus penjaga dari Kawasan Wallacea, Indonesia memiliki reputasi internasional tersendiri atas keanekaragaman, inklusi dan kemajemukan kehidupan di dalamnya,” ungkap Direktur British Council di Indonesia Paul Smith OBE.
Rangkaian kegiatan Wallacea Week 2017 yang turut didukung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Pariwisata ini diselenggarakan untuk mengawali kampanye tentang Wallace hingga tahun 2019 yang menandai 150 tahun terbitnya buku The Malay Archipelago. (f)
Topic
Keanekaragaman Hayati Indonesia




