Tiga seniman muda yang menampilkan kegelisahan mereka menjadi karya seni. Foto: Dok. Atreyu Moniaga ProjectAd Maiora menampilkan 3 rangkaian seri lukisan hasil karya masing-masing seniman. Melalui medium cat minyak, arang, cat akrilik, manik, dan sulam, pameran ini tidak hanya menyuguhkan ragam eksplorasi media di atas kanvas, tetapi juga menghadirkan pemikiran yang intim dari para seniman.
Mulai dari pengamatan pribadi Clasutta tentang rutinitas di tempat kerja, lalu renungan introspektif Zita Nuella terkait rasa sepi, hingga cara Tusita Mangalani menghadapi kegaduhan pikirannya; setiap warna dan sapuan kuas membangun narasi visual tentang hal besar yang dibangun dari hal-hal kecil, seperti pengalaman sehari-hari.
Menurut Clasutta, kapten dari Ad Maiora, narasi visual ini selaras dengan gagasan Ad Maiora. “Kami tergerak oleh frasa ‘ad maiora natus sum’ yang berarti ‘kita dilahirkan untuk mencapai hal-hal yang lebih besar.’ Sebagai pendatang baru, kami sadar bahwa cita-cita besar kami di bidang seni rupa harus disertai dengan kegigihan. Selama setahun ini kami belajar menjembatani perbedaan dan mengasah kemampuan profesional kami dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang kami perbaiki secara konsisten.”
Karya Clasutta. Foto: Dok. Atreyu Moniaga ProjectCLASUTTA
Sejak bertemu Atreyu Moniaga, Clasutta belajar bagaimana menjadi lebih percaya diri, memimpin dan bekerja sebagai tim, membangun koneksi dengan orang lain, dan menampilkan dirinya sebagai seniman profesional.Sepanjang perjalanan ini, Sutta menyadari bagaimana menampilkan kekuatan dan kelemahannya sebagai senjata. Menggunakan cat minyak, Sutta ingin mengubah perjuangan sehari-harinya menjadi komedi, seperti yang diwakili oleh karakter yang ia ciptakan.
Karya Zita Nuella. Foto: Dok. Atreyu Moniaga ProjectZITA NUELLA
Zita Nuella, juga dikenal sebagai Z, memperoleh kepercayaan diri dan memperoleh kemampuan penting dari Atreyu Moniaga Project (AMP). Melalui proyek ini, dia belajar keterampilan dasar seorang seniman, seperti membangun merek pribadinya, membina jejaring, dan berkolaborasi dengan orang lain.Karya Z menggali hubungan mendalam antara batin dan reaksi fisik. Dengan menjelajahi kesendiriannya, Zita mengekstrak esensi kehidupan dan menerjemahkan gerak tubuhnya menjadi karya seni menawan.
Karya Tusita Mangalani. Foto: Dok. Atreyu Moniaga ProjectTUSITA MANGALANI
Sebagai ranger di Atreyu Moniaga Project, Tusita Mangalani telah menemukan cara untuk membangun kepercayaan dirinya dan memperluas zona nyamannya. Proyek ini menjadi titik balik dalam perjalanan seninya; Tusita mengasah soft skill-nya, membangun hubungan baik dengan orang-orang, dan menjadi lebih tulus dalam gaya pribadinya.Minat Tusita semakin berkembang untuk mengeksplorasi pasang surut emosi, serta keriuhan pikiran sehari-hari. Berkarya dengan cat, benang, dan manik-manik, karya Tusita menggambarkan permadani emosi manusia yang misterius.
Para seniman dan pendukung Ad Maiora di acara pembukaan pameran. Foto: Dok. Atreyu Moniaga ProjectAd Maiora sekaligus menutup rangkaian program inkubasi seniman Atreyu Moniaga Project: Mixed Feelings ke-7. Proyek ini juga menandai satu dekade AMP sebagai sebuah inisiatif independen dengan misi untuk mendukung seniman muda memasuki dunia seni dan kreatif di Jakarta.
“Proyek ini mengingatkan saya betapa sukses tidak hanya perlu diukur dari kemampuan teknis. Sukses juga sangat bergantung dari kemampuan kita melampaui perjalanan bertumbuh; yang berarti, harus berani untuk keluar dari zona nyaman dan mau terus belajar memperbaiki diri,” ujar Atreyu Moniaga, penggagas AMP dan mentor.
Sebelumnya, Atreyu Moniaga Project: Mixed Feelings juga sudah melahirkan seniman-seniman muda berbakat lainnya antara lain Adriel Ari, Juju Sant, Karin Josephine , Yen Melia Andreas, Elle Dhita, Dinan Hadyan, Jessie Tjoe, Sol Cai, dan Liffi Wongso. Dalam acara pembukaan pameran ini, Atreyu juga menyampaikan bahwa dirinya akan selalu mendukung seniman-seniman muda agar lebih percaya diri akan kemampuan mereka dan bisa terus berkarya.
Proses inkubasi dan pameran Atreyu Moniaga Project: Mixed Feelings – Ad Maiora turut melibatkan Nin Djani, Wilhemus Willy, Venerdi Handoyo, dan Joshua Agustinus Andrias sebagai kolaborator. Acara pembukaan pameran diisi dengan sambutan dan sesi tur galeri bersama Christie Leonardi, Jayne Oentoro, Mandy CJ, Mbetand, Nikolas Adia, Raihan Prabowo, Rizkyamom, Shuxxi, dan Vicky Angkasa. Sebagai rangkaian dari program publik, pameran juga akan diisi sesi Bincang Seniman pada Minggu, 21 Juli 2024.
Pameran Ad Maiora akan berlangsung dari 13 Juli hingga 1 Agustus 2024. Pameran dibuka untuk umum tanpa pungutan biaya tiket masuk.
Berikut jadwalnya:
Sabtu, 13 Juli–Kamis, 1 Agustus 2024: Pameran
D Gallerie
Jln. Barito I No.3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Jam Operasional Galeri
10:00–19:00 | Senin–Jumat
12:00–18:00 | Sabtu–Minggu
Sabtu, 20 Juli 2024: Wisata Galeri
11.00–selesai | Wisata Galeri
Minggu, 21 Juli 2024: Bincang Seniman (Sesi Terbatas untuk Umum)
15.00–17:00 | Bincang Seniman
Minggu, 28 Juli 2024: Lokakarya (Sesi Terbatas untuk Undangan)
15:00–17:00 | Lokakarya Melukis (f)
Baca juga:
Kolaborasi Manis 3 Seniman Muda di Ad Maiora
4 Seniman Muda Gelar Pameran Pertama Bersama di Galeri Srisasanti, Yogyakarta
Ekspresi Emosi 4 Wanita Seniman di Pameran Ilustrasi Bertema Kintsugi
Topic
#feminaindonesia, #atreyumoniagaproject, #pameran


