Telat Gaul
“Jika mayoritas mahasiswa semester akhir menyesal karena keasyikan main, justru saya sebaliknya. Maklum ortu memang melarang, mungkin agar saya lebih fokus pada kuliah.
“Hal ini bikin saya nggak kenal—apalagi bergaul—dengan teman cewek. Padahal saya adalah satu-satunya cewek di kelas, sementara dalam satu angkatan hanya ada lima orang.
“Masuk semester empat kami mulai kompak dan saling dekat. Sayangnya, menuju semester akhir mereka sibuk mengerjakan skripsi, sedangkan saya ketinggalan jauh dari mereka. Ketika saya punya banyak waktu kosong, nggak ada satu pun dari mereka yang bisa diajak nongkrong bareng. Sedih, deh....”
DIAN PRASETYOWATI YOKIE, 21, mahasiswa
Mau Untung Malah Buntung
“Bukannya fokus dengan skripsi, saya justru semangat bekerja. Di kantor dari pagi sampai sore, lalu lanjut ke kampus sampai malam. Saking senangnya bisa menghasilkan uang sendiri, urusan kuliah dinomorduakan.
“Ternyata profesi sebagai auditor membuat saya sering pulang larut malam. Kadang usai kuliah, saya kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan. Gawatnya, saya juga sering bolos kuliah. Padahal teman-teman justru sedang sibuk berkutat dengan skripsi.
“Akhirnya, fisik saya pun menyerah, dan harus dirawat di RS karena DBD dan typhus. Uang hasil lembur pun habis untuk biaya berobat—bahkan sampai nombok, he he he.” IKAWATI DEKA, 25, karyawan
Mumpung Gratis...
“Berhubung perpustakaan kampus memiliki fasilitas komputer dengan internet gratis, saya rajin datang usai kuliah. Bisa puas browsing, cek e-mail, download lagu, bahkan chatting dengan teman.
“Seharusnya sejak awal saya bisa memanfaatkan fasilitas internet secara efektif. Misalnya untuk membaca bahan kuliah dan melakukan riset topik-topik skripsi.
“Buktinya... sampai sekarang skripsi saya nggak menunjukkan kemajuan. Padahal akan lebih baik jika saya bisa fokus dengan skripsi sejak jauh-jauh hari.”
ANNISA ANANDARI, 22, mahasiswa
Pentingnya Jejaring
“Begitu lulus, saya mulai mencari pekerjaan yang sesuai minat dan latar belakang pendidikan. Ternyata susah banget, tuh. Saat itu saya baru sadar, pas zaman kuliah saya kurang membangun networking dengan alumni-alumni—terutama mereka yang sudah sukses.
“Sebenarnya sejak kuliah saya aktif bergabung dalam berbagai komunitas. Tapi itu bukan jaminan bahwa saya bisa lebih mudah mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Menyesal, deh, nggak memperluas networking sejak awal.”
MANDARYNNA HARYA OCTAVIANI, 23, fresh graduated


