Melawan Takut

5 Apr 2016


Pada dasarnya, trauma psikis, dan juga beberapa kondisi fisik lainnya, sebetulnya bukan tidak mungkin untuk disembuhkan sendiri. Dengan kata lain, pemulihan psikologis banyak bergantung pada diri individunya. “Kadang-kadang, ketika kasusnya digali lebih jauh, saya mendapati ada orang yang ‘tidak mau’ sembuh. Sebab, orang memberinya perhatian lebih dan menggampangkan hidupnya,” ungkap Nirmala Ika, psikolog dari Yayasan Pulih.
         
Menurutnya, salah satu proses self-healing yang bisa dilakukan oleh mereka yang mengalami trauma adalah dengan berbagi. Baik dengan diri sendiri, dengan cara meditasi atau menulis jurnal misalnya, atau berbagi dengan orang lain. Hal ini ia nilai lebih efektif dibandingkan bilang, “Saya baik-baik saja,” tapi kemudian masih memendam perasaan tidak nyaman dan suatu hari ‘meledak’.

Butuh waktu 1 bulan bagi Dina untuk berani ke luar rumah dan kembali ke kantornya di daerah Thamrin. Ia juga sempat merasa minder karena tubuhnya tidak lagi fit, apalagi dengan pendengarannya yang juga menurun. Hingga kini, Dina masih dirawat jalan dengan sejumlah obat, termasuk obat penenang, yang harus ia minum  tiap hari. “Saya sempat bertanya kepada ibu saya, apakah saya sudah gila, karena minum banyak obat dari psikiater,” tutur Dina.

Namun, dengan dukungan tanpa henti dari keluarga di rumah, pada satu titik Dina merasa hidup harus berjalan terus. “Saya tidak bisa memutarbalikkan waktu. Hanya saya yang bisa memilih mau jadi korban atau pejuang. Saya tidak mau terus-menerus memosisikan diri sebagai korban,” ungkap Dina, yang selalu terbuka pada keluarga dan menulis jurnal untuk menumpahkan perasaannya.

Berbeda dengan Dina, Fenty tidak sempat berkonsultasi kepada psikolog ataupun psikiater untuk menangani trauma yang ia alami. Ia belajar melawan rasa takut hingga akhirnya kembali menikmati hobinya traveling dan pekerjaannya sebagai konsultan IT yang juga menuntutnya untuk bepergian ke banyak kota.

“Saya memaksakan diri untuk terbang dengan rute pendek, walau terkadang tanpa sadar keringat dingin sudah mengalir. Tapi saya bertekad harus bisa mengatasi semua trauma tersebut. Syukurlah saya berhasil,” ungkap Fenty. Dalam waktu beberapa bulan, ketakutannya berangsur-angsur berkurang.
           
“Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengakui bahwa memang ada masalah. Yang kedua adalah mencari upaya untuk mengelola perasaan, sendiri atau dibantu orang lain,” tutup Ika.(f)
 
 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?