Lifestyle
7 Shades of Becoming dari Curves Collective, Saat Heels Jadi Bahasa Ekspresi

25 Feb 2026

Artistic heels dance concert perdana di Jakarta. Foto: Dok. Curves Collective


Dalam konteks kehidupan modern, heels atau sepatu berhak (tinggi) bagi perempuan jadi salah satu representasi feminitas, glamor, dan rasa percaya diri—sering pula dikaitkan dengan diri yang berdaya dan kuat di tengah lingkungan maskulin.

Namun bagi sebagian lain—yang tak mesti perempuan, heels bisa jadi bentuk ekspresi seni mereka, dan elemen utama tarian. Maka lahirlah heels dance, sebuah gerakan global yang inklusif, memberdayakan dan mempromosikan self-love, menampilkan tarian dengan memakai heels diiringi musik jazz, hip-hop, pop dan sebagainya.  

Curves Collective adalah komunitas heels dance yang dinamis dan memberdayakan, berasal dari Bali dan didirikan oleh Sue Natanael Walter. Komunitas ini dibangun atas tiga nilai utama: Purpose, elegance, dan unity

Kini berekspansi ke Jakarta bersama Mutiara Farhana, Curves Collective menghadirkan ruang bagi para perempuan dan seniman untuk merayakan feminitas dengan percaya diri, sekaligus membangun rasa kebersamaan dan ekspresi artistik melalui heels dance.

Merayakan momen kasih sayang Hari Valentine, Curves Collective menghadirkan sebuah konser heels dance bertajuk 7 Shades of Becoming pada 15 Februari lalu di The Dharani House, Jakarta. 
 
Para pendukung 7 Shades of Becoming; menuangkan tujuh perasaan ke dalam bahasa gerak. Foto:Dok. Curves Collective

Konser ini menjadi bentuk surat cinta—bukan hanya tentang cinta romantis, tetapi tentang passion para penari terhadap seni tari yang telah membentuk perjalanan hidup mereka. 

Melalui pendekatan artistic heels dance, 7 Shades of Becoming mengeksplorasi berbagai spektrum emosi yang membentuk proses menjadi diri sendiri. 

Ada 10 koreografi independen sebagai sebuah narasi, menampilkan interpretasi tentang tujuh “shades”—Calling, Ghosts in the Machine, Negative Spaces, Held in Motion, Becoming; Still, How Deep Is Your Love, Shades of Fire, Pomposity, Bond(s/age), dan Unburdening.

Para penonton pun diajak memasuki dunia persona para koreografernya melalui gerakan yang dinamis merangkai kisah. Ada sisi pergulatan, harapan, cinta, dan kehilangan yang mereka alami, begitu oula siklus kerinduan, pergulatan, hasrat, pesona, kepahitan, kontradiksi, hingga pembaruan.

Menonton artistic heels dance concert yang baru pertama kali digelar di Jakarta ini juga jadi bukti bahwa bentuk self-love dan jadi perempuan yang berdaya itu banyak ragamnya. (f)

Baca juga:
Musikal Perahu Kertas Ajak Penonton untuk Terus Bermimpi
S.E.A. Focus 2026 Sukses Menutup Edisi Kedelapan, Pertama Kalinya Diselenggarakan di ART SG
Paviliun Indonesia Raih Silver Award di World Expo 2025 Osaka, Kansai, Jepang

 

Bennita Luisa


Topic

#feminaindonesia, #mediapartnership

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?