Konser
I La Galigo, Adaptasi Sastra Klasik Bugis Dalam Teater Kontemporer

6 Jul 2019

Setelah hampir satu dekade berkelana dari satu panggung teater internasional ke panggung teater lain, pada tanggal 3 hingga 7 Juli 2019 lalu, pertunjukkan teater kelas dunia I La Galigo digelar di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta Selatan. I La Galigo merupakan pementasan musik-teater yang naskahnya diadaptasi dari ‘Sureq Galigo’.

Sureq Galigo adalah wiracarita mitos penciptaan suku Bugis yang terabadikan lewat tradisi lisan dan naskah tulisan dalam bentuk syair menggunakan bahasa Bugis dan huruf Bugis Kuno. “Mulai dari tahun 2001 kami mempelajari naskah tua yang dianggap sakral dalam budaya Bugis tersebut, sekaligus mendalami budaya Sulawesi Selatan. Akhirnya pada tahun 2004 kami melakukan pementasan pertama di Esplanade, Singapura. Setelah melanglang buana ke 9 negara dan 18 tahun telah berlalu, I La Galigo kembali hadir di Jakarta," ujar Restu I. Kusumaningrum, Ketua Yayasan Bali Purnati dan Direktur Artistik I La Galigo.

Lewat pementasan cerita kuno dalam teater modern ini, Restu ingin melestarikan warisan budaya nusantara sekaligus memperkenalkan naskah kuno asli Indonesia kepada generasi muda.

Teater yang diadaptasi dari literatur yang ditulis antara abad ke-13 hingga abad ke-15 tersebut mengisahkan dewa dari Dunia Atas dan Dunia Bawah yang mengirimkan anak-anak mereka ke Dunia Tengah untuk menjadi pemimpin. Petualangan, peperangan, dan kisah cinta pun terjalin di antara anak cucu dewa yang mengisi kehidupan Dunia Tengah.
 
Di tangan sutradara teater kelas dunia, Robert Wilson, pertunjukan berdurasi dua jam ini tampil memukau. Tata cahaya dan tata panggung yang spektakuler, dipadu dengan tari dan gerak tubuh dari sekitar 100 pemain. Yang membuat malam itu terasa semakin hidup adalah penataan musik gubahan Rahayu Supanggah dengan iringan 70 instrumen musik, mulai dari instrumen tradisional Sulawesi, Jawa, dan Bali. Hasilnya ciptaan musik yang dramatis.
 
Sejak pentas perdananya tahun 2004 lalu di Esplanade Theatres Singapura, lakon ini terus menuai pujian saat digelar di kota-kota besar dunia, seperti Lincoln Center Festival di New York, Het Muziektheater di Amsterdam, Fòrum Universal de les Cultures di Barcelona, Les Nuits de Fourvière di Prancis, Ravenna Festival di Italy, Metropolitan Hall for Taipei Arts Festival di Taipei, Melbourne International Arts Festival di Melbourne, Teatro Arcimboldi di Milan, sebelum kembali ke Makassar untuk dipentaskan di Benteng Rotterdam. (f) 
 
 
BACA JUGA:
Cantiknya Gaun Pengantin Sophie Turner dan Katharine McPhee
Momentum Popularitas BTS, Merambah Ke Film, Games, dan Aplikasi


 


Topic

#teater, #ilagaligo, #senipertunjukan

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?