Money
Trik Toko Buat Kita Boros

15 Mar 2016

Ngaku, deh, pasti pernah masuk ke sebuah toko hanya untuk membeli satu-dua barang, tapi begitu sampai di kasir, justru membayar lebih dari jumlah yang direncanakan? Tenang, bukan berarti kita adalah shopaholic. Bisa jadi karena pemilik toko mempunyai trik-trik khusus dalam menempatkan dan menata barang. Pemikiran bawah sadar kita jadi terpengaruh untuk belanja berlebihan. Trent Hamm dari situs Thesimpledollar.com membocorkan beberapa triknya.

1. Keranjang belanja di pintu masuk
Keranjang belanja yang ditempatkan di pintu masuk seolah-olah “membujuk” kita untuk menggunakannya. Kesan yang timbul adalah memudahkan kita membawa barang yang hendak dibeli. Lalu, ketika menggunakannya, mulanya kita berniat membeli sedikit barang—yang sebenarnya mudah dibawa dengan tangan saja. Ternyata, kita melihat masih tersisa banyak ruang di keranjang belanja. Saat itu, kita berpikir bahwa tidak ada salahnya membeli barang yang lain. Hasilnya, belajaan bertambah, deh.

2. Bahan pokok letaknya jauh
Produk kebutuhan rutin—seperti gula, deterjen, beras, dan lainnya) diletakkan jauh dari pintu masuk. Jika mau membeli barang-barang penting tersebut, kita harus “melewati” barang-barang yang tidak diperlukan. Saat itu, tanpa direncanakan, kita tertarik membeli barang lain tadi.

3. Permen dekat kasir
Bukan tanpa sebab permen atau coklat diletakkan di dekat antrean kasir. Asumsinya, konsumen yang telah selesai berbelanja akan merasa lapar, lalu mengambil permen yang bisa langsung dikonsumsi atau mengisi waktu dengan membaca majalah sambil menunggu antrian. Akhirnya, dibeli, deh, permen atau majalah yang mudah diperoleh saat itu juga.

4. Sejajar Pandangan Mata
Produk yang harganya lebih mahal disimpan di rak yang sejajar dengan pandangan mata sehingga kita mudah menemukannya. Hal ini amat ampuh bagi yang sedang terburu-buru sebab kemungkinan besar kita mengambil apa yang terlihat saat itu.

5. Harga ditulis khusus
Pada rak, disimpan keterangan tentang harga yang ditulis sendiri—harga normal barangnya—oleh  orang tokonya. Secara psikologis, produk-produk yang sebenarnya tidak sedang diobral, diberi kesan seolah-olah sedang diobral gara-gara harganya ditulis tangan.

Meiranie Nurtaeni
Foto: Fotosearch
 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?