“Gajinya berapa?” Itu pertanyaan kita saat seseorang menawarkan pekerjaan baru. Maklum, salah satu alasan utama kita bekerja adalah demi terjaminnya isi rekening bank tiap bulan, he he he… Justru kita bakal bertanya heran jika ada teman yang mengaku pindah kerja dengan gaji lebih kecil. Kok, mau, sih… Apa nggak merasa rugi, tuh? Padahal, menurut Ita D. Azly, konsultan karier dari Iradat Konsultan, pindah kerja nggak melulu karena tawaran gaji lebih besar, kok!
Ajang aktualisasi diri
“Jika uang bukan tujuan utama, pastinya seseorang lebih senang bekerja sesuai dengan apa yang menjadi gairahnya. Jika passion bisa terpenuhi, kerja jadi terasa lebih menyenangkan,” ujar Ita.
Coba simak pengalaman Setyo Watie “Saya dulu bekerja kantor jadi Desain Grafis sebuah perusahaan Staionery. Gajinya, sih, lumayan, tapi karena setiap hari dituntut untuk berkreasi membuat desain, lama-lama jenuh juga. Padahal, yang namanya ide, kan, nggak bisa dipaksa.
“Akhirnya, daripada tertekan tiap hari, saya mengundurkan diri setelah bekerja selama 1 tahun. Iseng-iseng, saya melamar jadi guru di kursus komputer anak-anak. Saya diterima dengan gaji jauh lebih kecil. Nyatanya, mengajar anak-anak lebih menyenangkan dan saya jadi punya ide untuk membuat desain,” cerita Setyo yang kini jadi freelancer.
Lebih idealis
“Seseorang juga bisa pindah kerja karena idealisme. Seorang teman saya pindah dari kantor besar yang bagus dan bekerja di kantor biasa yang berlokasi di pinggiran Jakarta dengan gaji lebih kecil.
“Waktu saya tanya, alasannya. Dia bilang karena dia bisa menyalurkan ide-idenya di kantor baru tersebut. Banyak gagasannya yang tidak tersalurkan di kantor lama bisa dilaksanakan di kantor baru, dan untuk kepuasan itulah dia pindah kerja,” ujar Ita.
Rasa aman
“Beberapa orang yang butuh rasa aman, tidak suka perubahan dan kurang dinamis, biasanya sangat tertarik menjadi pegawai negeri. Soalnya pegawai negeri, kan, ditanggung pemerintah sampai setelah pensiun. Begitu juga orang yang hanya ingin mencari kerja sekali seumur hidup, pasti teratrik banget menjadi pegawai pemerintah,” ujar Ita.
Jarak lebih dekat
Alasan ini cewek banget? Nggak juga, kok. Menurut Ita, cowok pun sangat memperhatikan kebahagiaan dalam bekerja. Salah satu yang membuat seseorang tidak nyaman adalah waktu tempuh ke kantor yang terlalu lama.
“Kantor dekat dengan rumah pastinya lebih praktis. Jika memang jarak tempuh yang dekat bisa membuat seseorang happy dengan pekerjaannya—itu akan memberi ruang baginya untuk mengaktualisasikan diri,” ujar Ita.
Mengejar karier
“Pekerjaan dan karier adalah dua hal berbeda,” jelas Ita. Setiap kita pasti punya career path. Apakah jenjang posisi jabatan atau kesempatan untuk ke luar negeri atau melanjutkan kuliah,” tambahnya.
Hal ini dialami oleh Utlia Rakhmah, “Setelah lulus kuliah, saya diterima di perusahaan telekomunikasi dengan posisi awal Customer Service dengan pendapatan rata-rata Rp 2 juta per bulan.
Setelah 3 tahun, saya merasa tidak ada kejelasan dan tidak mendapatkan ilmu lebih karena hanya bertugas menghubungi pelanggan dan tidak ada jenjang karir yang jelas.
“Saya lantas pindah ke perusahaan yang menerima saya untuk posisi staf personalia. Awalnya sempat ragu karena pendapatan saya hanya Rp 1,3 juta per bulan. Tapi saya tidak menyesal karena meski hidup pas-pasan, saya mendapat ilmu baru, bahkan bisa melanjutkan kuliah dan karier saya ke depannya lebih terbuka—tidak lagi hanya sebagai customer service.”
The dream job
Setuju, dong, kalau kita bakal lebih happy kalau melakukan pekerjaan yang kita sukai?
“Kalau kita nggak cocok dengan pekerjaan kita, akhirnya kita demanding untuk mendapatkan pekerjaan yang cocok—sekalipun perusahaan tempat kita bekerja membuka peluang jenjang karier yang baik. Makanya, pastikan dulu bahwa apa yang kita kerjakan adalah sesuatu yang kita minati dan kita punya kompetensi di dalamnya dan cocok dengan kita,” ujar Ita. Sebaliknya, nih, kalau sudah jatuh cinta pada pekerjaan, gaji kecil bukan lagi masalah, deh!
Teropong dulu….
Sebelum pindah, nih, ada hal-hal yang harus kita lakukan agar tidak sampai menyesal:
Puas, nggak?
Jenuh, bosan, capek, bos nggak kompeten. Asalan umum yang bikin kita mengundurkan diri dari pekerjaan. Ketidakpuasan pada perusahaan lama bikin kita menerima pekerjaan baru tanpa berpikir panjang. Nggak salah, sih, tapi menurut Ita, bakal lebih baik jika sebelum mengundurkan diri kita melakukan evaluasi diri. “Apa, sih, yang bikin kita puas dan senang dalam bekerja? Apa pula yang bikin kita nggak menyenangi pekerjaan? Tanyakan hal-hal itu pada diri sendiri,” ujarnya.
Bukan kucing dalam karung
Yang ketiga, sebelum memutuskan pindah kerja, lakukan riset kecil-kecilan terhadap pekerjaan yang kita lamar. Kira-kira bagaimana, sih, di sana… supaya kita tidak membeli kucing dalam karung. sehingga jika nantinya kita pindah kerja, sudah betul-betul mantap—karena kita sudah tahu bahwa di tempat yang baru memang lebih baik dan memberikan harapan, walaupun gajinya kecil. (CY/FOTOSEARCH)


