Didiet Maulana (bersama model), dengan Pinggan Smarana motif Burgundy; motif Deep Blue yang terinspirasi keindahan laut dan pegunungan Indonesia. Foto: Dok. IKAT Indonesia
Siapa sangka jika pengalaman membaca majalah Femina koleksi sang nenek ikut melahirkan gagasan dalam membuat peranti saji dalam sentuhan Indonesia?
Ketika di masa kecil Didiet Maulana membaca majalah Femina, yang terkenal dengan halaman masakannya, lengkap dengan foto makanan estetis, ia mengenal berbagai jenis peranti makan dan saji, karena makan itu sebuah proses yang dirayakan.
Kenangan itu jadi salah satu alasan dalam mendesain koleksi peranti saji bertajuk Pinggan Smaraṇa, dalam kolaborasi IKAT Indonesia dengan ZEN Tableware.
Perjalanan Didiet Maulana selama 15 tahun sebagai desainer yang mengeksplorasi beragam motif wastra Nusantara juga memperkaya desainnya dalam menciptakan motif cantik untuk peranti saji.
Jika diperhatikan saksama, motif dalam koleksi ini merupakan gabungan dari beragam motif wastra–dari Tenun Endek Bali, Tenun Makassar, hingga Songket, yang diterjemahkan menjadi lis emas yang membingkai peranti.
“Proses kreatifnya terinspirasi trip saya ke Jepang, di mana saya melihat bahwa makan adalah seni,” cerita Didiet.
Makan yang dinikmati, mindful, akan membuat keindahan peranti pun lebih dihargai. Didiet juga mengambil konsep Omotenashi (apresiasi saat makanan habis) dan desain keramik tradisional Jepang, Kutani.
Rangkaian tableware dari fine porcelain ini terdiri atas dinner plate, salad plate, bowl, dan tea set yang memadukan nilai tradisi, kepekaan desain, dan fungsi modern. Untuk
atau mangkuk, jika makanan habis, maka akan terlihat motifnya, seperti konsep desain Kutani.
Koleksi Pinggan Smarana tersedia dalam beberapa paket yang bisa jadi antaran cantik. Foto: Dok. IKAT Indonesia
“Makan bukan cuma urusan perut tapi juga untuk indulge semua indra kita,” kata Didiet.
Koleksi Pinggan Smarana hadir dalam dua pilihan desain motif, yaitu Pinggan Smaraṇa Burgundy dan Pinggan Smaraṇa Deep Blue.
Burgundy menginterpretasi suburnya alam Indonesia, serta kehangatan matahari terbenam di pantai Indonesia, khususnya di Sumba. Sementara Deep Blue mengambil keindahan matahari terbenam di pantai-pantai sepanjang kepulauan kita, serta merepresentasikan lautan dan pegunungan di Tanah Air.
Saat mendesainnya, Didiet membayangkan hidangan yang disajikan di atas peranti tersebut. Karena itu, “Yang paling menantang adalah menentukan skala; bagaimana motif yang cantik bisa terlihat, tapi makanan tetap menonjol,” ujarnya.
Didiet pun membayangkan kalau motif Burgundy bakal bersanding manis dengan makanan Indonesia yang mungkin tidak ‘berwarna’, seperti gudeg, dan motif Deep Blue pas untuk menyajikan hidangan Peranakan yang meriah.
Ruang jeda yang ditampilkan pada peranti antara peranti dan bidang kosong juga menggambarkan acara bersantap sebagai jeda untuk menikmati nutrisi, cerita tiap hidangan, dan pastinya keindahan dan detail motif peranti sajinya.
Karena hiasan lis emasnya, koleksi Pinggan Smaraṇa tidak bisa dicuci dalam dishwasher dan tidak bisa masuk microwave. Untuk pengalaman bersantap yang lebih bermakna, itu bukan masalah.... (f)
Zornia Harisantoso


