Health & Diet
Wabah Virus Korona, Ini Terapi untuk Penderita Pneumonia

28 Jan 2020


Foto: Pixabay


World Health Organization (WHO) telah menyatakan virus Korona jenis baru 2019-nCoV yang mewabah di Kota Wuhan China menyebabkan penyakit pneumonia baru. Menurut Dokter Spesialis Paru RS Awal Bros, Bekasi Timur, dr. Annisa Sutera Insani, SpP, Coronavirus merupakan virus yang ditransmisikan secara zoonotic yaitu antara hewan ke manusia. Pada kejadian luar biasa di Wuhan, China, sebagian besar pasien pneumonia of unknown origin memiliki kesamaan pernah bepergian ke pasar hewan laut. Infeksi ini mungkin dapat terjadi karena faktor higienitas dan kondisi pasien yang immunocompromised.

Seperti dijelaskan oleh dr. Annisa, coronavirus merupakan bagian dari virus yang menyebabkan spektrum penyakit dari melasma hingga penyakit yang lebih berbahaya seperti MERS-CoV dan Severe Acute Respiratory Syndrome​ (SARS-CoV). Virus ini dapat menular melalui riwayat kontak dan udara.

Pneumonia sendiri adalah infeksi atau peradangan akut di jaringan paru yang disebabkan oleh berbagai mikroorganisme seperti bakteri, virus, parasit, jamur, pajanan bahan kimia atau kerusakan fisik paru. Gejala pneumonia secara umum adalah demam, batuk berdahak, sesak nafas atau nafas terasa berat. Secara umum, Pneumonia dapat menimbulkan infeksi berat (sepsis), kondisi shock, gagal napas hingga meninggal.

Tindakan medis yang dapat dilakukan jika seseorang mengalami gejala-gejala terjangkit virus Coronavirus jenis terbaru ini adalah dengan melakukan foto toraks. Jika hasil foto toraks tersebut sesuai gambaran Pneumonia dan ada kriteria SUSPEK (terduga), maka sebaiknya dilakukan uji diagnostik yang dapat dilakukan melalui swab tenggorokan atau pemeriksaan dahak.

“Jadi, sebaiknya pasien yang mengalami gejala Coronavirus jenis terbaru ini dirujuk ke rumah sakit rujukan. Jika tidak bisa dirujuk, segera kunjungi rumah sakit lainnya dan sebaiknya pasien harus dirawat di ruang isolasi dan lakukan foto toraks berkala, terapi simptomatik (terapi yang dilakukan berdasarkan gejala yang dialami), terapi cairan, ventilator mekanik (bila terjadi gagal pernafasan), dan jika gejala yang dialami disertai infeksi bakteri, maka pasien dapat diberikan antibiotik,”ujarnya.

Menurut dr. Annisa terdapat beberapa vaksin Pneumonia yang ditujukan untuk pencegahan. Namun, vaksin tersebut tidak bisa mencegah Pneumonia yang sedang outbreak saat ini (cNoV). Beberapa vaksin tersebut yaitu:
1/ Vaksin Pneumokokus

2/ Vaksin PCV13 yang memberikan kekebalan terhadap 13 strain bakteri Streptococcus Pneumoniae yang paling sering menyebabkan penyakit Pneumokokus pada manusia. Masa perlindungan sekitar 3 tahun. Vaksin PCV13 utamanya ditujukan kepada bayi dan anak di bawah usia 2 tahun.

3/ Vaksin Pneumokokus PPSV23 (nama dagang Pneumovax 23®) yang memberikan proteksi terhadap 23 strain bakteri Pneumokokus. Vaksin PPSV23 ini ditujukan kepada kelompok umur yang lebih dewasa. Mereka adalah orang dewasa usia 65 tahun ke atas atau usia 2 hingga 64 tahun dengan kondisi khusus. 

4/ Vaksin Hib. Di negara berkembang, bakteri Haemophilus Influenzae type B (Hib) merupakan penyebab Pneumonia dan radang otak (meningitis) yang utama. Di Indonesia, vaksinasi Hib telah masuk dalam program nasional imunisasi untuk bayi. 

Karena pneumonia merupakan proses peradangan akibat infeksi, terapi utamanya adalah pemberian antibiotik empiris spektrum luas sesegera mungkin sambil dicari tahu etiologinya. “Adapun tindakan medis yang harus dilakukan adalah oksigenasi, terapi cairan, terapi simtomatik, serta penggunaan ventilator jika gagal napas,”ujar
dr. Annisa. (f)


Baca Juga: 
Mengenal Pneumonia, Penyakit yang Disebabkan Virus Korona Baru
Mewabah di China, Ketahui 7 Fakta Virus Corona
Gizi Wanita Penentu Masa Depan



 

Faunda Liswijayanti


Topic

#corona, #korona, #china, #pneumonia, #viruscorona

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?