
Foto: Pixabay.com
Kabar duka datang dari dunia hiburan tanah air, aktris Ria Irawan (50) dikabarkan meninggal dunia pada Senin (6/1) pukul 4 dini hari akibat penyakit kanker kelenjar getah bening yang ia derita sejak tahun 2009. Ria mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat.
Pada tahun 2014, Ria sempat dinyatakan bebas dari penyakit kanker setelah melalui deretan pengobatan kemoterapi. Sayangnya, pada pertengahan tahun 2019, kondisinya kembali memburuk. Ria mulai bolak balik ke rumah sakit untuk menjalani serangkaian pengobatan, hingga menghembuskan napas terakhirnya akibat sel kanker yang sudah menyebar hingga ke kepala dan paru-paru.
Banyak masyarakat yang belum paham terhadap kanker kelenjar getah bening yang diderita Ria Irawan. Padahal, jenis kanker ini termasuk ganas dan menyerang sistem limfatik atau pertahanan tubuh. Karena itu, gangguan pada kelenjar yang terdapat di sepanjang tubuh manusia ini harus diwaspadai karena dapat berpotensi menimbulkan kanker.
Kanker kelenjar getah bening, secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua tipe yaitu Limfoma Non Hodgkin dan Limfoma Hodgkin. Limfoma Non Hodgkin merupakan keganasan darah yang paling sering mengenai usia dewasa.
Dr. Diah Ari Safitri, SpPD-KHOM, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik dari Rumah Sakit Awal Bros Tangerang, menjelaskan bahwa pada kanker darah, umumnya gejala yang sering timbul adalah lemas karena anemia, perdarahan karena jumlah trombosit rendah, atau infeksi karena sel darah putih yang kurang. Akan tetapi, pada limfoma, seringkali keluhan awal yang timbul adalah benjolah pada daerah kelenjar getah bening yang tidak nyeri.
Pada Limfoma Hodgkin, terdapat sel Reed-Sternberg yang tidak ditemukan pada limfoma tipe yang lain. “Penentuan tipe limfoma yang tepat sangatlah penting karena berkaitan dengan pilihan terapi yang akan diberikan. Ahli patologi dapat membedakan jenis limfoma berdasarkan pemeriksaan biopsi jaringan,”ujar Dokter Diah.
Menurut dr. Diah, stadium Limfoma ini dibagi menjadi 4 yaitu Stadium I (jika hanya mengenai 1 area kelenjar getah bening), Stadium II (jika mengenai 2 atau lebih area kelenjar getah bening pada sisi diafragma yang sama), Stadium III (jika kanker terdapat pada kelenjar getah bening pada kedua sisi diafragma), Stadium IV (jika kanker telah menyebar ke seluruh tubuh dan mengenai organ di luar kelenjar getah bening (hati, tulang, paru)).
Menurut dr. Diah terapi atau pilihan pengobatan limfoma ditentukan berdasarkan faktor penyakit, penderita, dan ketersediaan obat. “Yang termasuk faktor penyakit misalnya adalah jenis dan subtipe limfoma serta stadium limfoma. Faktor penderita meliputi umur, penyakit penyerta lain pada pasien misal jantung, diabetes, serta kondisi penderita secara umum. Sedangkan, faktor terakhir adalah ketersediaan obat,” jelasnya.
Terapi pada limfoma ini dapat meliputi pengobatan tunggal atau kombinasi dengan radioterapi, kemoterapi, dan imunoterapi. Kemoterapi pada kanker kelenjar getah bening merupakan salah satu terapi utama pada pengobatan Limfoma Hodgkin maupun Non Hodgkin.
Kemoterapi merupakan pengobatan sistemik. Obat yang dimasukkan ke tubuh ini akan masuk ke aliran darah dan beredar ke seluruh tubuh. “Tujuan dari pemberian kemoterapi pada kanker kelenjar getah bening adalah untuk menghentikan atau menghambat pertumbuhan sel kanker,” tandasnya. Efek samping kemoterapi dapat mengenai seluruh tubuh, dan tergantung dari dosis serta jenis obat yang digunakan.
Kemoterapi biasanya dilakukan dengan mengikuti suatu siklus. Misalnya pada Limfoma Non Hodgkin, kemoterapi dilakukan setiap 21 hari dan diulang sebanyak 6 kali. Evaluasi kemoterapi untuk menilai keberhasilan pengobatan dapat dilakukan di tengah dan di akhir program.
Menurut dr. Diah sebelum dilakukan kemoterapi biasanya penderita akan dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan bahwa kondisi penderita cukup siap dalam melakukan kemoterapi. “Setelah kemoterapi, penderita juga akan diminta datang kembali untuk melakukan pengecekan dan pengendalian efek samping kemoterapi yang timbul,” kata dr. Diah.
Beberapa efek samping dapat dicegah dengan pemberian obat-obatan sebelum kemoterapi dilakukan. Meskipun demikian, masih dapat timbul efek samping lain setelah dilakukannya kemoterapi.(f)
Baca Juga:
5 Perawatan Wajah Ini Disebut-sebut Bisa Menyebabkan Kanker, Mitos atau Fakta?
Obat Pintar Untuk Melawan Kanker Limfoma Hodgkin
Rofifah Juniandar, Tetap Produktif di Tengah Keterbatasan Fisik
Faunda Liswijayanti
Topic
#kanker, #kankerkelenjargetahbening



