Health & Diet
Aturan Swab Antigen untuk Para Pelaku Perjalanan, Ini Kelebihan dan Kekurangannya

29 Dec 2020


Foto: Freepik


Berkaca pada pengalaman libur panjang sebelumnya, mobilitas masyarakat yang tinggi saat liburan telah menyebabkan peningkatan angka pasien positif COVID-19. Meskipun anjuran #dirumahsaja tetap pilihan terbaik, namun tidak sedikit masyarakat yang bepergian untuk liburan bersama keluarga. Hal ini terlihat dari lonjakan penumpang transportasi umum seperti pesawat terbang, kereta, dan bus antar kota.

Sebagai langkah antisipasi, pada 19 Desember lalu, Satgas Penanganan COVID-19 mengeluarkan surat edaran yang mengatur protokol kesehatan selama libur Natal dan Tahun Baru bagi pelaku perjalanan di dalam negeri. Peraturan ini perlu ditaati untuk mencegah penularan penyakit COVID19 dan peningkatan jumlah kasus COVID-19 di berbagai wilayah. Salah satu aturannya adalah mewajibkan pemeriksaan swab antigen bagi pelaku perjalanan ke berbagai wilayah sebelum keberangkatan. 

Sebenarnya apa bedanya swab antigen dengan jenis test COVID-19 lainnya? Rapid swab antigen adalah salah satu pemeriksaan serologi yang diadakan di laboratorium rumah sakit dengan tujuan untuk mendeteksi ada atau tidaknya Antigen Spesifik dari SARS COV2. Antigen sendiri adalah molekul yang dapat merangsang respon daya tahan tubuh.

Menurut dr. Muhammad Irhamsyah, Sp.PK, M.Kes, Dokter Spesialis Patologi Klinik Primaya Hospital Bekasi Timur mengatakan bahwa swab antigen dilakukan pada tubuh pasien dengan cara pengambilan melalui swab (usapan) orofaring dan nasofaring yang tentunya harus dilaksanakan oleh petugas yang kompeten. 

Cara kerja alat swab antigen ini yaitu jika pada tubuh pasien terdapat antigen spesifik SARS COV2, maka antigen tersebut akan berikatan secara spesifik dengan antibodI yang tersedia di alat rapid sehingga pada akhirnya akan memunculkan warna pada garis tes (T) di alat rapid. Pengerjaan tes ini sederhana dan cepat, hanya membutuhkan waktu sekitar 15 – 30 menit.

Dalam panduan pelaksanaan pemeriksaan swab antigen rapid oleh perhimpunan dokter spesialis patologi klinik Indonesia, dijelaskan secara rinci mengenai kelebihan dan kekurangan tes ini.

Kelebihan swab antigen antara lain:
1. Mampu mendeteksi komponen virus secara langsung untuk deteksi dini. 
2. Tidak membutuhkan masa inkubasi terjadinya ikatan antigen antibodi untuk timbul hasil positif. 
3. Tidak memerlukan alat pemeriksaan laboratorium khusus.

Namun di sisi lain, rapid swab antigen memiliki beberapa kelemahan, seperti:
1. Hanya dapat mendeteksi dini, sehingga berpotensi terjadi false negatif dari hasil swab antigen setelah dikonfirmasi dengan tes PCR positif. 
2. Pemeriksaan ini menggunakan sampel saluran napas atas (swab naso/orofaring) sehingga ketidakterampilan petugas dalam pengambilan spesimen dapat mempengaruhi hasil.
3. Membutuhkan APD level 3 untuk pengambilan spesimen. 
4. Terdapat perbedaan sensitivitas antar brand alat tes swab antigen sehingga pemilihan alatnya harus dilakukan dengan tepat. 
5. Uji validasi hasil swab antigen masih terbatas sehingga belum dapat menggantikan posisi RT-PCR.

Menurut dr. Irhamsyah, tingkat akurasi alat tes swab antigen rapid bervariasi dari masing-masing brand. Adapun tingkat sensitivitas alat swab antigen adalah >80% dan spesifisitas alat swab antigen adalah >97%. 

Di dalam dunia pelayanan medis di rumah sakit, penggunaan rapid swab antigen direkomendasikan untuk wilayah-wilayah dengan ketersediaan alat tes PCR yang terbatas dan sulit ditemui. Selain itu, rapid swab antigen juga digunakan untuk memantau tren insidensi penyakit di masyarakat (terutama pada pekerja esensial dan tenaga kesehatan selama wabah atau di daerah dengan transmisi komunitas meluas). Rapid swab antigen juga dapat digunakan untuk deteksi dan isolasi dini kasus positif di pelayanan kesehatan serta untuk tracing kontak pasien yang terkonfirmasi positif. 

Perlu diketahui bahwa walaupun hasil rapid swab antigen negatif, tidak dapat menyingkirkan kemungkinan seseorang terinfeksi SARS-cov-2 dan masih berisiko menularkan ke orang lain. Maka dari itu, penerapan disiplin 3M harus tetap dilakukan untuk mencegah penularan, yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak hindari kerumumnan. 

Sedangkan bagi seseorang yang memiliki gejala COVID-19 atau diketahui memiliki kontak dengan orang yang terkonfirmasi COVID-19, dr Irfan menyarankan untuk melakukan tes konfirmasi dengan PCR tes karena probabilitas terinfeksi relatif tinggi. (f)


Baca Juga: 
Temuan Varian Baru Virus COVID-19 di Inggris, Apa Dampaknya Bagi Indonesia?
Jelang Libur Nataru, Satgas Penanganan Covid-19 Keluarkan Surat Edaran Perketat Mobilitas
Mengapa Hasil Test COVID-19 Bisa Berbeda-beda?

 


Faunda Liswijayanti


Topic

#3m, #ingatpesanibu, #covid19, #corona, #swabtest

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?