Health & Diet
4 Cara Belajar Menerima Kesalahan

29 May 2017


Foto: Fotosearch

Pernah nggak, menjelang tidur, kita malah menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong dan mengulang kembali kejadian di kantor siang tadi. Atasan menegur kita di depan rekan kerja lainnya karena hasil kerja Anda berantakan. Biasanya ada dua pilihan yang melintas di pikiran: menerima kesalahan dengan hati lapang dan belajar dari kesalahan tersebut, atau menyangkal lalu melemparkan kesalahan pada rekan kerja. Idealnya Anda memilih yang pertama tapi, kok, rasanya susah banget….
 
Menurut Dinastuti, Kepala Bagian Psikologi Klinis di Fakultas Psikologi UNIKA Indonesia Atma Jaya, belajar dari kesalahan baru dapat terjadi jika ada konsekuensi langsung dan jelas sehingga seseorang menyadari dirinya bersalah. Misal, kita ditinggalkan pasangan karena kita berselingkuh, atau Anda mengalami pemotongan gaji akibat sering datang terlambat ke kantor.

“Perilaku menyenangkan (tapi salah) seperti korupsi, selingkuh, atau datang terlambat, tanpa konsekuensi yang langsung, biasanya akan terus berulang,” ujar Dinastuti.

Selain itu, seseorang perlu mendapatkan informasi mengenai kesalahan yang dilakukannya serta dampak dari kesalahan tersebut. Jika dia nggak menyadari  perbuatannya merugikan, dia nggak akan belajar dari kesalahan. Contohnya, Anda yang sering terlambat kerja ditegur atasan karena perilaku Anda tersebut berdampak pada produktivitas kerja, seperti molornya deadline.
 
Anda Termasuk yang Mana?
Kesalahan kerap memunculkan saran, kritik, dan pendapat dari orang lain. Dinastuti menambahkan, walaupun nggak nyaman untuk diterima, kritik jadi sarana yang baik untuk belajar dari kesalahan. Namun, kita perlu rendah hati dan terbuka untuk menerimanya. Berhubung kedua hal itu jarang ‘muncul’, banyak orang memilih menjadi defensif atau membela diri.

Robert Kiyosaki, motivator dan penulis buku Rich Dad, Poor Dad, menilai ada lima karakter yang dilakukan seseorang saat melakukan kesalahan. Karakter inilah yang akan menghambat seseorang untuk mengembangkan diri.
1. The Liar, jika setelah melakukan kesalahan tapi Anda nggak mengakuinya. Saat ditegur Anda akan langsung mengatakan, “Saya nggak melakukannya, saya nggak mengerti kenapa bisa terjadi.”
2. The Blamer, cenderung melemparkan kesalahan pada orang lain. Biasanya Anda akan mengatakan, “It’s your fault, not mine.”
3. The Justifier, yaitu Anda tetap melakukan pembenaran atas perbuatan Anda yang salah. Anda pun berpikir, “Ah, setiap orang juga akan melakukan hal yang sama,” atau “Tugas ini, kan, di luar kemampuan saya, jadi wajarlah kalau salah.”
4. The Quitter, jika Anda kecewa dan langsung menyerah serta berusaha melupakan kesalahan tanpa mengambil pelajaran di baliknya. Setelahnya, kalimat ini muncul di pikiran Anda, “Kenapa, sih, saya melakukan hal yang jelas-jelas nggak akan berhasil,” atau “Saya nggak akan mencoba memperbaikinya, nggak worth it.”
5. The Denier, yaitu Anda berusaha menutupinya dan bersikap seolah nggak terjadi apa-apa. Anda cenderung mengatakan, “Salah? Apanya yang salah? Semuanya baik-baik saja.” 

Menerima Kritik
Jika merasa memiliki sisi defensif dalam diri kita, segeralah perbaiki. Selain membuat orang lain malas memberi masukan kepada kita, mereka juga jadi sulit memercayai kita. Belum lagi kita dinilai nggak mau memperbaiki diri. Memangnya mau dijauhi oleh teman atau nggak pernah dilibatkan lagi dalam proyek besar di kantor?

“Orang yang memiliki target, tujuan, dan standar pribadi yang jelas dalam berperilaku dan bekerja, seharusnya dapat menilai dan mengevaluasi dirinya sendiri,” ujar Dinastuti.

Buat meminimalisasi sikap defensif, ikuti langkah-langkah berikut:
1/ Beri waktu
Mengubah perilaku memang nggak mudah, apalagi jika Anda terbiasa mencari pembenaran. Tanamkan bahwa bersikap terbuka terhadap masukan dan hukuman akan membantu Anda untuk mengembangkan diri.

2/ Cintai diri sendiri
Jika Anda nyaman dengan diri Anda, sekalipun Anda salah, Anda nggak akan antipati terhadap diri sendiri. Bahkan Anda akan menerima konsekuensi tanpa perasaan diserang atau disalahkan. Anda pun nggak akan menghukum diri sendiri dengan rasa bersalah berlebihan.

3/ Kendalikan emosi
Saat Anda salah, nggak semua orang akan memakluminya, tentu ada saatnya Anda dikritik dengan kata-kata yang menyakitkan. Nggak perlu bereaksi, tetap kendalikan diri. Ingat, yang penting Anda makin kuat dan pengalaman bertambah.

4/ Merencanakan tindakan
Usahakan untuk selalu merencanakan apa yang akan Anda lakukan agar nggak jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
 
Sst, nggak selamanya kesalahan dapat diperbaiki dengan mengucapkan maaf. Meminta maaf sebenarnya bertujuan mengurangi rasa bersalah dan membuat orang lain lebih nyaman. Dinastuti bilang, maaf tanpa disertai penyesalan serta usaha memperbaiki dan nggak mengulangi kesalahan yang sama, tuh, sebenarnya percuma. (f)

Baca juga:
Anak Anda Bikin Salah? Jangan Dibentak, Lakukan 4 Hal Ini


Topic

#psikologi

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?