Gadget
Hati-Hati Saat Memakai Emoji, Bisa Menimbulkan Salah Paham

27 Dec 2017


Foto: Pixabay

Saat ini, semua orang berkomunikasi di internet. Emoji memperkaya kosakata kita dan membuat komunikasi menjadi lebih menyenangkan. “Percakapan teks di pesan singkat itu membosankan, tidak praktis dan panjang. Emoji bisa meretas kebekuan dalam berkomunikasi. Sehingga, obrolan tidak monoton dan lebih beragam,” jelas pemerhati budaya digital dan dosen komunikasi UI, Dr. Ir. Firman Kurniawan S., M.SI.

Seperti memiliki kesaktian, kemunculan sebuah emoji bisa secara instan memicu reaksi emosional seseorang. Ketika seseorang melihat emoji senyum, maka bagian spesifik otak akan mengidentifikasikannya seperti sedang melihat ekspresi senyum manusia asli.

Walau tak bisa memperlihatkan intonasi bicara, dalam perbincangan di pesan singkat emoji dapat mentransfer emosi secara sederhana. Kendati demikian, menurut Firman, emoji tak semudah itu berfungsi sebagai media penyampai emosi dalam pesan berbasis teks.

Pasalnya, posisi emoji bersifat multitafsir. Sebagai contoh, bagi si pengirim pesan, gambar emoji tersenyum diartikulasikan sebagai sebuah senyuman positif. Sementara bagi penerima pesan, emoji tersebut bisa dipahami sebagai sebuah ‘smirk’, yaitu seringai atau senyuman sinis yang biasanya dikonotasikan secara negatif.

“Emoji memiliki keterbatasan dalam menampung semua ide dan gagasan dalam satu gambar. Ditambah karena manusia juga multifaset, yaitu memiliki banyak sisi emosi,” jelasnya. Misalnya, perasaan gembira, gembira bercampur sedih, tangis bahagia, dan lain sebagainya. Spektrum perasaan manusia yang terlalu kaya seperti inilah yang tidak bisa diwakilkan oleh emoji.

Ditambahkan lagi olehnya bahwa emoji bukanlah bahasa universal. “Emoji bersifat polisemi (memiliki makna lebih dari satu). Makna itu sangat tergantung pada masing-masing individu mengartikan simbol tersebut,” papar Firman. Pemaknaan emoji sangat dipengaruhi oleh pengalaman, budaya, dan lingkungan individu tersebut berada.

Penggunaan emoji sangat tergantung pada lingkaran sosial atau kelompok orang tersebut berkomunikasi. Penelitian yang dilakukan seorang ahli bahasa dari Universitas Stanford, Amerika Serikat, Tyler Schnoebelen, menemukan bahwa penggunaan emoji sangat bervariasi menurut geografi, usia, jenis kelamin, hingga kelas sosial.

“Anggota kelompok pertemanan tertentu cenderung menggunakan emoji yang berbeda dibandingkan kelompok yang lain, sama seperti mereka mengembangkan bahasa gaul mereka sendiri,” jelas Tyler.

Lebih lanjut Firman mengungkap bahwa simbol apa pun di dunia memiliki sifat arbitrer, yaitu bebas ruang dan waktu. “Simbol yang sama bisa punya makna yang beda pada kelompok yang beda. Bisa juga memiliki makna yang beda di waktu yang berbeda pula,” ujarnya.

Maka, jika si pengirim dan penerima pesan tidak memiliki pemahaman yang sama pada arti dari suatu emoji, besar kemungkinan akan terjadi kesalahpahaman. (f)

Baca juga:
Sejarah Seribu Wajah Emoji, Si Imut yang Mewakili Rasa Hati Dalam Chat Sehari-Hari
Humanity VS Robot: Perkara Empati, Interaksi, dan Integritas yang Tak Tergantikan
Robot dengan Kecerdasan Buatan Siap Menggantikan Para Pekerja, Siapkah Anda?


Topic

#emoji, #gadget, #digitallife

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?