Gadget
Devialet Sound & Vision, Sinergi Teknologi Audio dengan Kreativitas Seniman Indonesia

26 Dec 2024

Ketika yang kita cari dalam menikmati playlist favorit adalah kualitas audio premium, Devialet mungkin salah satu jenama dunia yang dekat dengan kita.

Dengan misi menghadirkan suara transformatif melalui kualitas audio luar biasa, Devialet, rekayasa akustik asal Prancis, mempersembahkan Sound & Vision, inisiatif budaya inovatif yang memadukan teknologi audio kelas dunia dengan seni kontemporer.

Berlangsung pertengahan Desember lalu di The Residence OnFive, Grand Hyatt Jakarta, lewat Sound & Vision Devialet Indonesia menggandeng tiga seniman Tanah Air untuk mengubah speaker ikonis Devialet, Phantom, menjadi karya seni unik.

Ketiga seniman itu—Emte, TuTu, dan Sejauh Mata Memandang—menuangkan kreativitas mereka pada speaker Phantom sesuai DNA desain mereka, tak ubahnya mereka menerjemahkan arti suara sebagai karya visual, dalam kolaborasi yang dipersiapkan selama 6 bulan.

Kiri ke kanan: Sound & Vision karya TuTu; satu dari dua karya Emte; satu dari dua warna karya Sejauh Mata Memandang. Foto: Dok. Devialet Indonesia

Emte atau Muhammad Taufiq dengan goresannya yang khas mendesain side plates dan tree speaker yang terinspirasi gotong royong khas Indonesia.

"Saya mengambil artwork dari musik tradisional Indonesia," cerita Emte di konferensi pers Sound & Vision. "Kita punya keberagaman dengan berbagai instrumen musik yang bisa disandingkan dengan teknologi inggi dan lebih relevan dari zaman ke zaman."

Lain lagi dengan TuTu (A.A.G Airlangga), yang karyanya identik penuh warna, mengangkat seni jalanan dengan daya tarik global. TuTu menampilkan motif Mega Mendung dari Cirebon dalam konsep tumpang-tindih berjudul Mixture of Happiness.

"Karena Devialet adalah state of art, jadi saya membayangkan suara yang saya dengar dari speaker ini wujudnya seperti apa," kata TuTu tentang proses kreatifnya.

Sementara untuk Sound & Vision, Chitra Subiyakto, pendiri Sejauh Mata Memandang, merancang pola Semanggi sebagai speaker caps (cover) untuk Phantom. Pola ini melambangkan koneksi harmonis antara masa lalu dan kini.

"Di Devialet, kami percaya bahwa suara adalah sarana luar biasa untuk menyampaikan makna, emosi, cerita, dan imajinasi. Proyek ini adalah ilustrasi luar biasa dari keyakinan tersebut," ujar Martin Ku, General Manager Devialet APAC.

Kiri ke kanan: Martin Ku, Ananda Sukarlan, Freddie Beh, Emte, TuTu. Foto: Dok. Devialet Indonesia

Sound & Vision juga menunjukkan kepedulian sosial Devialet. Hasil penjualan dari acara ini akan didonasikan kepada Yayasan Musik Sastra Indonesia yang dipimpin oleh Ananda Sukarlan. Yayasan ini berfokus mendukung seniman dan musisi muda dalam mengembangkan bakat mereka.

Seperti disampaikan Freddie Beh, perwakilan Devialet Indonesia, "Kolaborasi ini adalah bukti sinergi antara teknologi canggih dan kreativitas dinamis seniman Indonesia. Melalui Sound & Vision, kami ingin menghadirkan pengalaman yang mendalam dan bermakna, tidak hanya meningkatkan apresiasi terhadap seni dan suara tetapi juga memberikan kontribusi nyata kepada komunitas lokal."

Baca juga:
Gaya Hidup Berkelanjutan yang Mudah dan Menyenangkan dengan Botol Minum Premium frank green
Homelogy Perkenalkan Koleksi SLO Recliner untuk Kenyamanan Bersantai
Impian Pesepeda Indonesia Terwujud, Sepeda Lipat Super Ringan untuk Sehari-hari

 

Zornia Harisantoso


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?