Food Trend
Apa Kabar Industri Gourmet Dessert di Jakarta? Ini Kata Jakarta Dessert Week

9 Nov 2019

 
Putri Miranti (@buildthecake_id), cookbook writer Mika Hadi, dan baker Jessica Juwono.
 
Di acara “Pastry Chefs’ Bloc Party – Powered by Indomilk”, restoran _Oeang di dalam M Bloc Space penuh sesak dengan muka-muka dari dunia kuliner.
 
Penggelut dunia showbiz kuliner, perhotelan, hingga online, berswafoto.

Datang ke sini mungkin mimpi bagi penyuka manis. Bak dessert galore, meja buffet diisi hamparan kue dari produsen skala gourmet. Belum lagi dessert table dari pihak sponsor.  
 
Nicole Prichett, barista-roaster _Oeang, tak hentinya meracik milk-based coffee dalam block party berdurasi dua jam ini. Di sampingnya, chef Wahyu dari PT Indolakto, menyajikan Avogato, yakni avocado pudding berpadu es krim dan espresso


Choux au Croquelin dari Namelaka - Refined Patisserie. 
 
Gelato showcase berisi gelato rasa bandrek kacang hijau, tapai, dan klappertaart, sejalan dengan tema ‘retro’ yang juga diterjemahkan melalui kue-kue klasik seperti lapis legit dan bolu gulung moocha nougat di meja lain. 

Lagu lawas dari piringan hitam diputar oleh DJ Mar Galo. Ia basis Jirapah, band indie yang diawali di Brooklyn. 

‘Retro’ diambil dari tema dessert yang dijual di 18 restoran dan pastry shop selama periode Jakarta Dessert Week (JDW), 7 – 20 Oktober 2019, lalu. Dalam dua minggu yang sama, telah berlangsung pula 15 acara satuan, meliputi dessert pairing, dessert talk, hingga sourdough workshop
 
Dessert skala gourmet bergerak sangat niche di ibu kota sekalipun. Makan secara course by course dan menutupnya dengan dessert bukanlah budaya orang Indonesia. Apalagi dengan karakter big meal yang didominasi karbo seperti nasi. Dalam pola makan gaya ini, sulit menyisakan ruang untuk dessert,” ujar Co-Founder JDW, Primo Rizky.
 
Croissant specialist, Dony Muhadi di belakang @donbakeshop, pernah menyetujui bahwa budaya berperan. Di negara istrinya di Ukraina, masyarakat pada lapisan ekonomi mana pun terbiasa menyambut tamu dengan makan besar, termasuk penutup manis.

Bagaimana pun, ia menilai perbaikan ekonomi bisa mengubah eating behaviour ini, termasuk adanya ruang untuk berbelanja produk gourmet


Ini bukan berarti orang Indonesia ogah makan makanan manis. Kita mengenal jajanan pasar yang dinikmati sebagai sarapan, atau gorengan pisang sebagai teman teh. Namun, seiring globalisasi, tren kuliner ‘menerbangkan’ banyak remaja Indonesia belajar pastry di luar negeri.
 
Bayangin ketika mereka kembali ke Indonesia dan bekerja di restoran untuk membuat plated dessert, tapi market-nya enggak siap. Atau, pastry chef kawakan yang harus melimitasi kreativitasnya karena perlu membuat produk yang penetrasi pasarnya lebih terjamin. Ini makanya banyak pastry chef seneng ikutan kompetisi, padahal bikin stres. Mereka ingin meluapkan adrenaline rush,” ujar Co-Founder lainnya, Tria Nuragustina

Perkara kreativitas, Ardika Dwitama di belakang brand Oui Dessert, pernah menyebut dirinya sedikit lebih beruntung karena memiliki platform dessert pop-up. Jalur karier sebagai chef yang indie menjatahkannya waktu untuk bereksperimen dan menjualnya hanya ke pasar yang niche di acara-acara khusus.  
 
Begitu pula pemain yang membangun online business sebagai pencurah passion. Namun, banyak dari mereka punya bisnis tetap sehingga bisa mencabangkan energinya.

Namun, bukankah sebuah bisnis berbasis passion akan suatu waktu pun mencemaskan sustainability-nya?
 

 
Ditilik dari sini, JDW tak lagi hanya diperuntukkan bagi pejuang pastry skala industri restoran yang ingin keluar dari rutinitas harian. JDW juga untuk pebisnis berbasis passion yang 'membuka' tokonya kapan pun yang ia mau. The more buyers, the merrier. 
 
Sebagaimana ucap Co-Founder Gupta Sitorus, yang juga adalah praktisi branding dan marketing, hanya pergerakan-bersama pastry chef lintas disiplin dan platform yang bisa membangun ekosistem industri yang kondusif.
 
Enggak bisa jalan sendiri-sendiri,” ujarnya, sambil menenggak chocolate drink
 
“Pastry Chefs’ Bloc Party – Powered by Indomilk” yang didesain sebagai closing party JDW mengemas kebersamaan yang dimaksudnya. Satu sama lain tak saling mengenal, namun berkaitan dalam meramaikan lanskap dessert (dan menaikkan daya beli).


Rinrin Marinka, Fernando Sindu (Cork & Screw Country Club), dan Yuda Bustara.  
 
Sebut saja Fatmah Bahalwan, ketua komunitas NCC (Natural Cooking Club) yang terkenal di UKM bakulan kue se-Indonesia, yang berada seruangan dengan Yuda Bustarachef gaul berpangsa urban. Atau, Jovita Pranatagelato maker skala B2B (ekspo dan kompetisi) yang bertukar sapa dengan Alvin Tanudjaja, pemilik Latteria Dessert & Gelato Bar, toko gelato di PIK kesenangan milenial.
 
Celebrity chef Rinrin MarinkaSteby RafaelEddrian TjhiaNorman Ismail, hingga yang bertaraf legendary seperti William Wongso dan Sisca Soewitomo, datang memberikan support di closing party.

Primo menyebut restaurant week sepanjang dua minggu itu hanya diawali obrolan iseng tentang upaya memperbaiki lanskap dessert di Jakarta, bersama Talita Setyadi, chef-owner BEAU Bakery, dan penulis boga Kevindra Soemantri.


Eddrian Tjhia (Bangka cuisine), baker Nina Bertha, Ron Prasanto (gelatiere), dan Maya Kosenda (Kosenda Hotel)
 
Belakangan, direkrut Tria yang sering terjun ke eksekusi event boga di bawah bendera Femina Media, begitu pula lifestyle guruArimbi Nimpuno, untuk membantu kuratorial.  Tujuan JDW, memberikan platform kreatif bagi mereka yang berjuang di jalur pastry dan dessert skala gourmet. 

Walau beberapa founder JDW adalah mereka yang berjibaku di penyelenggaraan festival besar, dipilih konsep restaurant week sebagai yang pertama di Indonesia. 

Publik sempat mengiranya sebagai festival dengan sebuah dessert bazaar. Di tengak talk show Ideafest 2019, Gupta menyebut bahwa ketika merancang makanan, seorang chef memikirkan musik dan interior yang menunjang. Untuk bermain dengan sensori konsumen secara utuh, JDW mengajak publik untuk mengunjungi restoran, bukan sebaliknya. Mengeluarkan makanan ini dari restoran seperti menghilangkan magisnya. 

“Konsep ini juga lebih efisien bagi indie project nonkorporasi seperti JDW. Kami bermodal konsep dan jejaring,” ucap Kevindra. (f)

Foto: Dok. @cahyobrurisasmito

Baca juga: 

Gerry Girianza Dukung Kesetaraan Gender di Dapur
Alih Profesi, Kini Nicky Tirta Menekuni Dunia Masak


 
 

 

Trifitria Nuragustina


Topic

#jdw2019, #jakartadessertweek

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?