
Chef Han Li Guang (akrab disapa LG) meramu Labyrinth secara matang. Ada narasi tentang romantisisme hidangan masa lalu Singapura yang menjadi terobosan menawan di sini.
Sepanjang tahun 2017-2025, satu bintang Michelin setia menemani Labyrinth. Restoran di dalam Espalanade Mall ini juga sempat mendapatkan pengakuan Asia’s 50 Best Restaurants’ - Sustainable Restaurant di tahun 2021 berkat maksimalisasi bahan lokal, bersamaan dengan debutnya memasuki peringkat ke-40.

Di tengah prestise bahan impor di dapur fine dining, Labyrinth menjadikan bahan baku dengan keunikan geografis sebagai penguat identitas. Han mengingat momen ia terperangah dengan rasa kepiting yang ditangkapnya bersama nelayan lokal di tahun 2016. Karakteristik manis dan air laut perairan Singapura yang lebih asin membedakannya dengan kepiting yang dipasoknya dari Indonesia.

Ia menunjukkan buku Wartime Kitchen yang mengangkat masakan di tahun 1942 - 1950, salah satu inspirasinya dalam menginovasi modern cuisine. Dalam tuturannya di episode Uncut di Netflix, ada masa-masanya menemani sang nenek di dapur yang menjadi caranya bernostalgia cita rasa lampau.
An Ode to Singapore, begitu Chef Han menamakan hidangan 15 course yang Femina coba. Hadir misalnya, satai ayam dan Iberico pork yang dimarinasi bumbu satai lokal. Ada pula Cereal Prawn (bumbu salted egg) yang bersembunyi dalam kotak sereal jenaka, dinikmati bersama shaoxing oatmeal ice cream.

Yang juga menarik, consommé dengan tarian rempah bak ku teh, serta juga dry-aged kinki dalam kuah laksa gaya Siglap (Melayu-Jepang).
Ada pula Ramly, eksplorasi menggelitik kulit pastel berisi beef tartare dan tomato meringue. Ini disusul Kaya Toast berteman mentega Bordier Prancis; mentega ‘aristokrat’ menyebrang ke camilan kopitiam!

Bersama percakapan Femina dengan sosok pengamat restoran seperti Debbie Yong dan Nicola Lee, narasi lokal seperti gaya Labyrinth kian menemukan ruangnya di industri fine dining Singapura. Di lahan Singapura yang kecil, pertumbuhan perkebunan mikro didorong, memunculkan produsen artisanal yang lebih berjodoh dengan kebutuhan restoran berskala luks.
Chef Han misalnya, bangga bekerja sama dengan peternakan ikan Ah Hua Kelong, peternakan ayam Toh Thye San, atau urban farm semacam Nosh Produce dan Edible Garden. (f)
Alamat: 8 Raffles Ave., #02 - 23, Singapura
Jam operasional:
Lunch: Jumat-Minggu di 12.00-14.30
Dinner: Rabu-Minggu di 18.30-23.00
Baca juga:
Dari Puglia ke Singapura, Petualangan Rasa Mirko Febbrile di Somma
Di Pangium, Melestarikan Sekaligus Merayakan Perubahan Hidangan Peranakan Jadi yang Utama
Bika Ambon Jadi Hype Gara-gara Cik Mehong, Ini Resep ala Femina untuk Dicoba!
Trifitria Nuragustina
Topic
#kuliner




