
Dessert dari cokelat. (Dok. Keraton at The Plaza)
Jelang perayaan Valentine, restoran-restoran berlomba menghadirkan menu yang menampilkan bahan afrodisiak. Kemewahan cita rasa Eropa menjadi kemasan cita rasanya, ditunjang plating yang cantik.
Foie gras, jamur truffle, raspberry, stroberi, cokelat, dan oyster, biasanya menghiasi menu, lekat dengan reputasi afrodisiak. Afrodisiak diambil dari nama dewi cinta Yunani, Aphrodite. Giacomo Casanova, playboy flamboyan di abad ke-18, konon menyantap oyster segar setiap hari demi menjaga stamina.
Terlepas dari adanya hubungan antara rasa makanan dan terciptanya gairah, bagaimana cara menilai kualitas bahan-bahan ini? Ini sejumlah panduan menariknya:
1/ Cokelat: Kualitas terbaik terbuat dari chocolate couverture, yakni cokelat yang masih mengandung cocoa butter dan cocoa liquor. Couverture berbeda dengan chocolate compound yang lebih ditujukan untuk industri skala besar.
Ketimbang chocolate compound yang hanya mengandung cocoa powder dan dicampur minyak kelapa sawit, rasa couverture lebih rich karena masih mengandung unsur asli cocoa butter.
2/ Foie gras: Foie gras atau hati angsa, digunakan dalam jumlah sedikit dalam hidangan karena rasa yang begitu rich.
Foie gras dibagi atas grade A, B, dan C, dinilai dari ukuran, kekenyalan, kepadatan, serta penampakan jaringan pembuluh darah pada hati angsa. Semakin tinggi grade, semakin tidak kentara jaringannya (yang walau akan hilang warnanya saat pemasakan).
3/ Jamur truffle: Dahulunya terbagi atas white truffle di Italia dan black truffle di Perancis. Kini tanah berkapur di negara empat musim lainnya turut menumbuhkan jamur mahal ini.
Black truffle beraroma earthy, sementara white truffle cenderung beraroma gurih, mirip bawang putih. Harga white truffle biasanya lebih tinggi di pasaran karena jumlahnya yang langka.
Untuk mendapatkan aroma truffle yang menarik, banyak chef kini menggunakan truffle oil atau truffle zest. Tanpa terikat bulan musim truffle, kemewahan hadir setiap saat!
4/ Oyster: Oyster berkualitas baik mudah dicungkil dari cangkangnya, sehingga banyak disajikan bercangkang sebagai sajian berpenampilan mewah.
Daging oyster yang baik berukuran besar, ‘beristirahat’ di atas cangkang yang cukup cekung. Oyster kualitas bawah punya bentuk cangkang yang kurang estetik, dagingnya sulit dicungkil, dan kurang montok. Grade ini diolah sebagai oyster kalengan.

Oyster kualitas baik mudah dicungkil dari cangkang. (Foto: Pixabay)
Mengolah semua bahan tersebut butuh kehati-hatian karena harganya yang tidak murah. Ini termasuk yang dilakukan oleh para koki di Keraton at The Plaza, A Luxury Collection Hotel, Jakarta. Sebanyak lima course dirancang sebagai set menu untuk restoran Bengawan yang berlokasi di lantai tujuh hotel di area bundaran HI ini.
Hokkaido scallop bersama kaviar, dan lobster bisque, dirancang sebagai pembuka menuju truffle dan foie gras, yang berada dalam piring yang sama dengan tenderloin wagyu.
Sebagai pamungkas, white chocolate cake berteman raspberry crème brûlée.
Cokelat, bahan yang akan menaikkan level endorfin juga menjadi pilihan dessert di La Moda untuk Valentine nanti. Restoran di dalam Plaza Indonesia yang berada di bawah manajemen yang sama dengan Keraton at The Plaza ini menggunakan guanaja chocolate, varian terkenal dari merek Valrhona.
Guanaja adalah seri dark chocolate couverture dengan intensitas cocoa butter yang tinggi. Pekat,’ tebal’ dengan rasa cokelat yang nikmat. Dark chocolate ini ditemani raspberry cream dan raspberry sorbet, serta red velvet cake. Raspberry juga punya reputasi afrodisiak karena warna merahnya yang perlambang cinta. (TN)
Keraton at The Plaza, a Luxury Collection Hotel, Jakarta
Jl MH THamrin Kav. 15, Jakarta Pusat
Reservasi melalui (021) 5068 0000
Baca juga:
Belanja Ikan di Muara Baru, Yuk!
Hans Christian Menuju Pelabuhan Baru
Tomasso MengenangFlorence
Trifitria Nuragustina
Topic
#chocolate, #aphrodisiacfood, #oyster




